Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Terkunci batu dalam tanah
Menopang tanpa arah
Merengkuh coba meraih
Tetesan - tetesan darah berbuih
Meresap jatuh kedalam
Dari kucuran tangisan malam
Laksana awan tercengkeram
Melantunkan penuh eram
Lembab pekat mengikat
Kerak - kerak bumi menjerat
Keras beruas tak mengikat
Berharap bisa dijilat
Didalam hitam tak berwarna
Terbentuk materi padat alam raya
Berair tertutup lumut duka
Terletak di inti bumi panas menyala
Tak kan lekang dalam waktu sesaat
Kecil besar bentuk bulat
Tak kan pernah menggugat
Walau beban terasa berat
Hingga berangkat mencabut
Dalam hamparan tanah coklat
Tak bisa terbang seperti malaikat
Hanya diam tanpa syarat isyarat
Menopang tanpa arah
Merengkuh coba meraih
Tetesan - tetesan darah berbuih
Meresap jatuh kedalam
Dari kucuran tangisan malam
Laksana awan tercengkeram
Melantunkan penuh eram
Lembab pekat mengikat
Kerak - kerak bumi menjerat
Keras beruas tak mengikat
Berharap bisa dijilat
Didalam hitam tak berwarna
Terbentuk materi padat alam raya
Berair tertutup lumut duka
Terletak di inti bumi panas menyala
Tak kan lekang dalam waktu sesaat
Kecil besar bentuk bulat
Tak kan pernah menggugat
Walau beban terasa berat
Hingga berangkat mencabut
Dalam hamparan tanah coklat
Tak bisa terbang seperti malaikat
Hanya diam tanpa syarat isyarat
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Tertatap sebuah cermin
Tergelantung diatas tembok ruangan
Maya tak nyata gambar bayangan
Tertangkap pantulan cahaya cermin
Terus dan terus terjadi setiap hari
Tak jemu kita meriasi
Melihat tampan dan rapi
Tak sadar walau halusinasi
Berlagak dan berkacak bentuk menyerupai
Berbentuk terbalik dalam benda mati
Yang setiap waktu kan tersaji
Bertolok ukur dalam menuai hari
Dalam cermin semua tampak baik
Kalau yang berkaca orang baik
Dalam cermin bisa tampak buruk
Kalau yang berkaca orang buruk
Setia dan jujur melukis semua
Terpaut dalam bentukan kaca
Yang terus menguak kebaikan dan keburukan kita
Menciptakan ruang hampa tertata
Terbuang segala benda
Mengisi kamar kaca
Nan penuh akan cahaya
Yang bisu tak pernah berkata
Tergelantung diatas tembok ruangan
Maya tak nyata gambar bayangan
Tertangkap pantulan cahaya cermin
Terus dan terus terjadi setiap hari
Tak jemu kita meriasi
Melihat tampan dan rapi
Tak sadar walau halusinasi
Berlagak dan berkacak bentuk menyerupai
Berbentuk terbalik dalam benda mati
Yang setiap waktu kan tersaji
Bertolok ukur dalam menuai hari
Dalam cermin semua tampak baik
Kalau yang berkaca orang baik
Dalam cermin bisa tampak buruk
Kalau yang berkaca orang buruk
Setia dan jujur melukis semua
Terpaut dalam bentukan kaca
Yang terus menguak kebaikan dan keburukan kita
Menciptakan ruang hampa tertata
Terbuang segala benda
Mengisi kamar kaca
Nan penuh akan cahaya
Yang bisu tak pernah berkata
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Hujan air mata kini menyirami
Mengalir menghiasi pipi
Haruskah ku utarakan semua ini
Dan menteriakkan ditepian sungai
Saat kau menutup mata
Dikala semua jadi tak bermakna
Karna engkau tak lagi bersama
Menggapai semua cinta
Mengapa kau mengakhiri kini
Sungguh perih hati ini
Engkau tinggalkan semua mimpi
Derita nestapa dalam hati memenuhi
Membaur memenuhi jiwa
Yang ada menjadi murka
Menentang karna tak terima
Harus berakhir semua rasa
Andai saja waktu terulang kembali
Akan kuserahkan hidupku disisi
Gejolak hati ini sungguh menyiksa diri
Tanpa bisa tersudahi
Didalam sanubariku hanya namamu
Terukir nyata semua kenangan bersamamu
Dan didalam sukmaku engkau masih kekasihku
Mendekam dilubuk hatiku tanpa jemu
Mengalir menghiasi pipi
Haruskah ku utarakan semua ini
Dan menteriakkan ditepian sungai
Saat kau menutup mata
Dikala semua jadi tak bermakna
Karna engkau tak lagi bersama
Menggapai semua cinta
Mengapa kau mengakhiri kini
Sungguh perih hati ini
Engkau tinggalkan semua mimpi
Derita nestapa dalam hati memenuhi
Membaur memenuhi jiwa
Yang ada menjadi murka
Menentang karna tak terima
Harus berakhir semua rasa
Andai saja waktu terulang kembali
Akan kuserahkan hidupku disisi
Gejolak hati ini sungguh menyiksa diri
Tanpa bisa tersudahi
Didalam sanubariku hanya namamu
Terukir nyata semua kenangan bersamamu
Dan didalam sukmaku engkau masih kekasihku
Mendekam dilubuk hatiku tanpa jemu
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Mencintai seseorang memang mudah
Memberi arti dalam cinta susah
Rasa memiliki itu lumrah
Tapi memiliki cinta takkan mudah
Semudah kita mengedipkan mata
Apakah kita memiliki cinta...?
Atau cinta yang memiliki kita?
Buatlah sendiri maknanya
Berkata suka mudah
Berkata bencipun mudah
Antara suka dan benci tak beda jauh
Tipis pautan suka dan benci dalam tubuh
Membuat cinta itu mudah
Mengakhirinya pun mudah
Dalam hati kita memang ada cinta
Lama tertanam dalam jiwa
Yang harus kita jaga
Cinta memang tak bisa memilih
Pada siapa dia akan memilih
Kita takkan mampu mencegahnya
Karna dia yang kan bicara
Bertaut dengan gelora jiwa
Yang tertanam dalam rasa
Mengalir melalui ungkapan kata
Memberi arti dalam cinta susah
Rasa memiliki itu lumrah
Tapi memiliki cinta takkan mudah
Semudah kita mengedipkan mata
Apakah kita memiliki cinta...?
Atau cinta yang memiliki kita?
Buatlah sendiri maknanya
Berkata suka mudah
Berkata bencipun mudah
Antara suka dan benci tak beda jauh
Tipis pautan suka dan benci dalam tubuh
Membuat cinta itu mudah
Mengakhirinya pun mudah
Dalam hati kita memang ada cinta
Lama tertanam dalam jiwa
Yang harus kita jaga
Cinta memang tak bisa memilih
Pada siapa dia akan memilih
Kita takkan mampu mencegahnya
Karna dia yang kan bicara
Bertaut dengan gelora jiwa
Yang tertanam dalam rasa
Mengalir melalui ungkapan kata
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Berdiri dipucuk cemara
Saat pagi menjelang tiba
Terlihat dipelupuk mata
Siratan sinar fajar menyapa
Bertengger menerjang panasnya
Mengubah dingin dalam dada
Karna saat malam tiba
Kabut putih turun menerpa
Membekukan seluruh rasa
Yang tertinggal hanya asa
Kuturun dari cemara
Lalu duduk bersila
Coba hening tanpa kata
Suara burung silih menyapa
Berjingkrak kesana - kemari
Bagaikan tupai mencari kenari
Aku bagai raja dipagi hari
Penuh ceria hati berseri
Tak urung beranjak menari
Mengikuti alur sungai
Tapi ku kan mati dimalam hari
Tertidur penuh dongeng mimpi
Berteman dingin tak terperi
Mengukir hari terus berganti
Saat pagi menjelang tiba
Terlihat dipelupuk mata
Siratan sinar fajar menyapa
Bertengger menerjang panasnya
Mengubah dingin dalam dada
Karna saat malam tiba
Kabut putih turun menerpa
Membekukan seluruh rasa
Yang tertinggal hanya asa
Kuturun dari cemara
Lalu duduk bersila
Coba hening tanpa kata
Suara burung silih menyapa
Berjingkrak kesana - kemari
Bagaikan tupai mencari kenari
Aku bagai raja dipagi hari
Penuh ceria hati berseri
Tak urung beranjak menari
Mengikuti alur sungai
Tapi ku kan mati dimalam hari
Tertidur penuh dongeng mimpi
Berteman dingin tak terperi
Mengukir hari terus berganti
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Sakitku kini sudah meradang
Membusuk sampai kejantung
Berlari kucoba membuang
Tapi tak kunjung henti menghilang
Hanya coba tuk rasakan
Rentetan penderitaan
Yang takkan hilang dalam sebuah harapan
Dan tetap kujalani kehidupan
Walau sering berteriak mengadu sakit
Menerpa bagai desuran ombak keselat
Memecah bersiramkan garam pekat
Jatuh diriku karna tak kuat
Rentan tubuh tak berdaya
Tergeletak tak kuasa
Separuh nyawa hilang terasa
Yang menjauh tanpa suara
Namun terasa riuh dalam dada
Berdetak silih berganti tak tertata
Melaju tanpa iringan nada
Melantun lagu tanpa irama
Hanya mendesah penuh kabut
Tak jua datang menjemput
Kulit yang sudah terukir keriput
Menunggu dan menunggu Dia mencabut
Membusuk sampai kejantung
Berlari kucoba membuang
Tapi tak kunjung henti menghilang
Hanya coba tuk rasakan
Rentetan penderitaan
Yang takkan hilang dalam sebuah harapan
Dan tetap kujalani kehidupan
Walau sering berteriak mengadu sakit
Menerpa bagai desuran ombak keselat
Memecah bersiramkan garam pekat
Jatuh diriku karna tak kuat
Rentan tubuh tak berdaya
Tergeletak tak kuasa
Separuh nyawa hilang terasa
Yang menjauh tanpa suara
Namun terasa riuh dalam dada
Berdetak silih berganti tak tertata
Melaju tanpa iringan nada
Melantun lagu tanpa irama
Hanya mendesah penuh kabut
Tak jua datang menjemput
Kulit yang sudah terukir keriput
Menunggu dan menunggu Dia mencabut
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Saat kita senang kita lupa pada-Nya
Saat datang musibah kita menyembah-Nya
Merasa butuh pertolongan-Nya
Merasa ingin dibantu oleh-Nya
Mengapa kita harus lupa pada-Nya?
Pada satu pencipta kita
Mengapa kita tak selalu mengingat-Nya?
Tanyakan pada hati kita
Apakah pantas?, kita melupakan-Nya
Meninggalkan semua ajaran-ajaran baik-Nya
Dan melakukan perbuatan yang dicela-Nya
Di manakah letak iman kita pada-Nya?
Apa iman itu datang saat kita susah?
Apa iman itu datang saat ada musibah?
Apa iman itu datang saat kita resah?
Apa iman itu datang saat kita gundah?
Tapi saat enak datang iman itu hilang
Tapi saat enak datang iman itu musnah
Tapi saat kaya datang iman itu lenyap
Benarkah itu semua? tanya pada nurani
Tak pantas Dia diperlakukan seperti itu
Harta, benda, senang, bahagia, miskin, kaya
Itu semua ciptaan-Nya, ujian-Nya
Dan Dia mampu merubahnya, Dia Tuhan kita....
Saat datang musibah kita menyembah-Nya
Merasa butuh pertolongan-Nya
Merasa ingin dibantu oleh-Nya
Mengapa kita harus lupa pada-Nya?
Pada satu pencipta kita
Mengapa kita tak selalu mengingat-Nya?
Tanyakan pada hati kita
Apakah pantas?, kita melupakan-Nya
Meninggalkan semua ajaran-ajaran baik-Nya
Dan melakukan perbuatan yang dicela-Nya
Di manakah letak iman kita pada-Nya?
Apa iman itu datang saat kita susah?
Apa iman itu datang saat ada musibah?
Apa iman itu datang saat kita resah?
Apa iman itu datang saat kita gundah?
Tapi saat enak datang iman itu hilang
Tapi saat enak datang iman itu musnah
Tapi saat kaya datang iman itu lenyap
Benarkah itu semua? tanya pada nurani
Tak pantas Dia diperlakukan seperti itu
Harta, benda, senang, bahagia, miskin, kaya
Itu semua ciptaan-Nya, ujian-Nya
Dan Dia mampu merubahnya, Dia Tuhan kita....
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Deru derap kaki orang berdatangan
Menuju ke pusat keramaian
Setelah mendengar suatu pengumuman
Dari seseorang di seberang jalan
Berbondong - bondong menolong
Dilihatnya terpelentang
Bertutupkan selendang
Bergegas beberapa orang membuat liang
Sebagian coba menenangkan
Saudara dan kerabat yang kehilangan
Meluap tangis kepedihan
Karna tak rela ditinggalkan
Membujur kaku orang itu dimandikan
Kemudian dikenakan kafan
Datang orang membawa kasuragan
Tuk membawa dia keperaduan
Sepetak liang kuburan yang mengundang
Ta`ziah orang - orang bertandang
Menabur berbagai kembang
Luapan air mata terus berkubang
Karna suatu kematian
Ajal yang ditetapkan
Takkan pernah terelakkan
Tunggu..., tunggu saja kita tergendong kasuragan
Menuju ke pusat keramaian
Setelah mendengar suatu pengumuman
Dari seseorang di seberang jalan
Berbondong - bondong menolong
Dilihatnya terpelentang
Bertutupkan selendang
Bergegas beberapa orang membuat liang
Sebagian coba menenangkan
Saudara dan kerabat yang kehilangan
Meluap tangis kepedihan
Karna tak rela ditinggalkan
Membujur kaku orang itu dimandikan
Kemudian dikenakan kafan
Datang orang membawa kasuragan
Tuk membawa dia keperaduan
Sepetak liang kuburan yang mengundang
Ta`ziah orang - orang bertandang
Menabur berbagai kembang
Luapan air mata terus berkubang
Karna suatu kematian
Ajal yang ditetapkan
Takkan pernah terelakkan
Tunggu..., tunggu saja kita tergendong kasuragan
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Kini ku coba tutup mata
Seolah tak melihat buta
Apapun yang kau lakukan
Dan ku takkan peduli lagi
Anggap diriku tiada
Kau boleh berbuat apapun
Bebas sesuka hatimu
Aku takkan berbuat apapun
Dia boleh mencium mu
Dia boleh memeluk mu
Dia boleh memiliki mu
Aku sudah tak butuh dirimu
Katakan itu semua padanya
Tak perlu sembunyi - sembunyi
Beritahukan dia aku sudah menyudahi
Walaupun kau berarti lebih
Sampaikan padanya
Dia boleh ambil hatimu
Karna kini ku tlah siap
Siap tuk merasakan patah hati
Karna tanpa dirimu aku bisa
Melangkah menggapai semua
Sisa hatiku tuk yang lain
Walau harus makan perasaan
Seolah tak melihat buta
Apapun yang kau lakukan
Dan ku takkan peduli lagi
Anggap diriku tiada
Kau boleh berbuat apapun
Bebas sesuka hatimu
Aku takkan berbuat apapun
Dia boleh mencium mu
Dia boleh memeluk mu
Dia boleh memiliki mu
Aku sudah tak butuh dirimu
Katakan itu semua padanya
Tak perlu sembunyi - sembunyi
Beritahukan dia aku sudah menyudahi
Walaupun kau berarti lebih
Sampaikan padanya
Dia boleh ambil hatimu
Karna kini ku tlah siap
Siap tuk merasakan patah hati
Karna tanpa dirimu aku bisa
Melangkah menggapai semua
Sisa hatiku tuk yang lain
Walau harus makan perasaan
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Perasaanku kini terbelakang
Yang tlah engkau tinggalkan
Menjauh tanpa bisa terpandang
Tak bisa memulai kebahagiaan
Aku memang manusia tak sempurna
Yang penuh dengan ketidak berdayaan
Mengikat semua perasaan cinta
Yang kau beri penuh kepuasan
Maafkan bila kini ku pergi
Walau pedih perih tak terelakkan
Pertentangan mereka tak merestui
Engkau dan aku tidak dapat disatukan
Sesungguhnya jujur dalam hatiku
Cintaku hanyalah untuk mu
Dan ku tau kaupun begitu
Aku hanya berharap bisa bersatu
Tapi kini harus kulalui sendiri
Tanpa adanya dirimu disisi
Memang terasa sepi
Dan harus kulewati tanpa hadirmu disini
Pergi saja, raihlah bahagiamu
Aku disini tetap kan merindukanmu
Yang pasti, yang tak bisa kuterima
Andaikan disana kau tak bahagia
Yang tlah engkau tinggalkan
Menjauh tanpa bisa terpandang
Tak bisa memulai kebahagiaan
Aku memang manusia tak sempurna
Yang penuh dengan ketidak berdayaan
Mengikat semua perasaan cinta
Yang kau beri penuh kepuasan
Maafkan bila kini ku pergi
Walau pedih perih tak terelakkan
Pertentangan mereka tak merestui
Engkau dan aku tidak dapat disatukan
Sesungguhnya jujur dalam hatiku
Cintaku hanyalah untuk mu
Dan ku tau kaupun begitu
Aku hanya berharap bisa bersatu
Tapi kini harus kulalui sendiri
Tanpa adanya dirimu disisi
Memang terasa sepi
Dan harus kulewati tanpa hadirmu disini
Pergi saja, raihlah bahagiamu
Aku disini tetap kan merindukanmu
Yang pasti, yang tak bisa kuterima
Andaikan disana kau tak bahagia
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Bunga - bunga cinta kian berkembang
Menebarkan serbuk - serbuk asmara
Penuh aroma menusuk tuk mengundang
Kian merasuk sesak didada
Nafsu kian tak tertahan
Tak tertahankan oleh rayuan
Mengundang sejuta hasrat
Yang lama kian tersirat
Benak kian berdegub
Saat kau torehkan senyuman
Aku hanya menatap penuh takjub
Penuh harap pandangan tak terpalingkan
Ingin diri memetik bulan
Yang terajut bintang - bintang
Tuk ku persembahkan untukmu tersayang
Mungkin ini hanya sebuah bualan
Tapi yang pasti aku tlah jatuh lunglai
Jatuh tersungkur dalam cinta asmara
Dan harus ku akui semua
Dalam hatiku kau yang buatku damai
Izinkan ku tuk ungkap cinta
Sedalam seluasnya samudera
Setinggi dan sebiru angkasa raya
Hati dan cintaku hanya untukmu satu selamanya
Menebarkan serbuk - serbuk asmara
Penuh aroma menusuk tuk mengundang
Kian merasuk sesak didada
Nafsu kian tak tertahan
Tak tertahankan oleh rayuan
Mengundang sejuta hasrat
Yang lama kian tersirat
Benak kian berdegub
Saat kau torehkan senyuman
Aku hanya menatap penuh takjub
Penuh harap pandangan tak terpalingkan
Ingin diri memetik bulan
Yang terajut bintang - bintang
Tuk ku persembahkan untukmu tersayang
Mungkin ini hanya sebuah bualan
Tapi yang pasti aku tlah jatuh lunglai
Jatuh tersungkur dalam cinta asmara
Dan harus ku akui semua
Dalam hatiku kau yang buatku damai
Izinkan ku tuk ungkap cinta
Sedalam seluasnya samudera
Setinggi dan sebiru angkasa raya
Hati dan cintaku hanya untukmu satu selamanya
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Dataran hijau membentang disetiap pulau
Menyatu dengan alam rupa kemilau
Menyuplai udara yang tak berbau
Mengalir tanpa henti tanpa tuju
Habitat segala mahluk yang hidup
Butuh akan dirinya tuk menetap
Sumber hayati nan meluap
Manusia tak henti - henti terus menghisap
Dari yang terkecil hingga yang terbesar
Dibabat habis semua terbakar
Asap hitam mengepul berkoar
Gundul kini hutan tanpa akar
Terpotong - potong tanpa sisa
Dijual keluar bangsa
Terbentuk dengan proses yang lama
Sekejap hilang oleh tangan manusia
Panas bumi jadi sangat terasa
Mau apa...? dan bagai mana...?
Yang tlah terjadi begitu saja
Reboisasi bukan hanya sekejap mata
Lestarikan hutan Indonesia
Tanpa hutan kita mati sia - sia
Kendalikan diri kita
Cintai hutan raya kita
Menyatu dengan alam rupa kemilau
Menyuplai udara yang tak berbau
Mengalir tanpa henti tanpa tuju
Habitat segala mahluk yang hidup
Butuh akan dirinya tuk menetap
Sumber hayati nan meluap
Manusia tak henti - henti terus menghisap
Dari yang terkecil hingga yang terbesar
Dibabat habis semua terbakar
Asap hitam mengepul berkoar
Gundul kini hutan tanpa akar
Terpotong - potong tanpa sisa
Dijual keluar bangsa
Terbentuk dengan proses yang lama
Sekejap hilang oleh tangan manusia
Panas bumi jadi sangat terasa
Mau apa...? dan bagai mana...?
Yang tlah terjadi begitu saja
Reboisasi bukan hanya sekejap mata
Lestarikan hutan Indonesia
Tanpa hutan kita mati sia - sia
Kendalikan diri kita
Cintai hutan raya kita
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Pertapa duduk bersila
Coba tuk lupakan segalanya
Burung berkicau di alam terbuka
Tanpa henti menutup mata
Segala sesuatu disini bermula
Kasat mata samar dirasa
Bagai laba - laba merajut cinderamata
Tak tau itu semua hanya maya
Bait - bait puisi dalam kata terbaca
Riuh gemuruh ombak yang menerpa
Bersauh tak tau ruanya
Menerpa hidup bagai lentera
Pagi membuka jendela
Lekukan bumi yang terhampar nyata
Segar terasa hirup udara
Bercampur sinar surya menyapa
Bergegas lari kesana
Melangkah menyapu jalan desa
Serabutan jejak kinerja
Bertumpuk buku - buku diatas meja
Memulai pagi bersama
Dibalik gedung penuh kaca
Terkuras stamina dalam raga
Hari ini pagi yang ceria
Coba tuk lupakan segalanya
Burung berkicau di alam terbuka
Tanpa henti menutup mata
Segala sesuatu disini bermula
Kasat mata samar dirasa
Bagai laba - laba merajut cinderamata
Tak tau itu semua hanya maya
Bait - bait puisi dalam kata terbaca
Riuh gemuruh ombak yang menerpa
Bersauh tak tau ruanya
Menerpa hidup bagai lentera
Pagi membuka jendela
Lekukan bumi yang terhampar nyata
Segar terasa hirup udara
Bercampur sinar surya menyapa
Bergegas lari kesana
Melangkah menyapu jalan desa
Serabutan jejak kinerja
Bertumpuk buku - buku diatas meja
Memulai pagi bersama
Dibalik gedung penuh kaca
Terkuras stamina dalam raga
Hari ini pagi yang ceria
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Aku memang bukan pecinta sejati
Yang riuh akan rayuan puisi
Akupun tak bergelimang materi
Yang selama ini kau cari - cari
Aku hanya punya ketulusan
Apa adanya tanpa perbedaan
Kan ku beri engkau kedamaian
Terasa dalam dekapan pelukan
Memang kau bukan yang pertama
Memberi arti dalam jiwa
Tapi kau kan kusuguhi sejatinya cinta
Yang belum kau rasakan didada
Tersusun semua rasa
Satu yang pasti terlaksana
Bila kau tetap setia
Dan selama aku masih bernyawa
Sayangku tercurah untukmu
Diriku seutuhnya milikmu
Terjaga cinta dihati kuberi padamu
Itulah janji cintaku terhadapmu
Kuingin kau mengerti
Kan terukir namamu dihati
Tapi takkan kupaksakan semua ini
Hanya kau yang ingin kumiliki
Yang riuh akan rayuan puisi
Akupun tak bergelimang materi
Yang selama ini kau cari - cari
Aku hanya punya ketulusan
Apa adanya tanpa perbedaan
Kan ku beri engkau kedamaian
Terasa dalam dekapan pelukan
Memang kau bukan yang pertama
Memberi arti dalam jiwa
Tapi kau kan kusuguhi sejatinya cinta
Yang belum kau rasakan didada
Tersusun semua rasa
Satu yang pasti terlaksana
Bila kau tetap setia
Dan selama aku masih bernyawa
Sayangku tercurah untukmu
Diriku seutuhnya milikmu
Terjaga cinta dihati kuberi padamu
Itulah janji cintaku terhadapmu
Kuingin kau mengerti
Kan terukir namamu dihati
Tapi takkan kupaksakan semua ini
Hanya kau yang ingin kumiliki
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Tergapai sunyi dan sepi
Dalam alunan gitar bernyanyi
Yang duduk termangu sendiri
Bertemankan malam tak terhiasi
Benamkan diri dalam lamunan
Hanyut terbawa deras malam
Seorang diri bermandikan cahaya bulan
Tersapu angin yang menderu mencekam
Lampu - lampu kota berkedap - kedip bagai kunang - kunang
Berteriak mengalun nada coba tuk mengundang
Malam ini mari kita berdendang
Putri malampun singgah bertandang ikut bergoyang
Ramai dalam malam bernyanyi
Dikerumuni damai menari
Tak ingin suasana malam ini terhenti
Bersama bersulang hangatnya kopi
Suka ria mengusir sunyi sepi
Mengejar gembira hati
Oh...! tersadar terbangunkan diri
Ternyata ini hanya sebuah mimpi
Mimpi malam bernyanyi bersama putri
Berakhir karna sinaran mentari
Nyata terasa bagai bukan mimpi
Dan selalu ingin mengulang lagi
Dalam alunan gitar bernyanyi
Yang duduk termangu sendiri
Bertemankan malam tak terhiasi
Benamkan diri dalam lamunan
Hanyut terbawa deras malam
Seorang diri bermandikan cahaya bulan
Tersapu angin yang menderu mencekam
Lampu - lampu kota berkedap - kedip bagai kunang - kunang
Berteriak mengalun nada coba tuk mengundang
Malam ini mari kita berdendang
Putri malampun singgah bertandang ikut bergoyang
Ramai dalam malam bernyanyi
Dikerumuni damai menari
Tak ingin suasana malam ini terhenti
Bersama bersulang hangatnya kopi
Suka ria mengusir sunyi sepi
Mengejar gembira hati
Oh...! tersadar terbangunkan diri
Ternyata ini hanya sebuah mimpi
Mimpi malam bernyanyi bersama putri
Berakhir karna sinaran mentari
Nyata terasa bagai bukan mimpi
Dan selalu ingin mengulang lagi
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Terjadi dalam hati, raga dan pikiran
Setiap yang dilalui tuk berjalan
Mengiringi nada kehidupan
Ujian Tuhan....
Tak perlu mencari
Pasti kan datang sendiri
Hanya perlu menjalani
Tuk memahami maksud apa yang terjadi
Tahap demi tahap
Rendah ketinggi, tinggi kerendah tak tetap
Apa yang terjadi tak perlu meratap
Hadapi dengan dada tegap
Tuhan tak memberi cobaan yang kita tak bisa pecahkan
Karna kita masih punya pikiran
Tuk mencoba suatu hambatan
Walau kadang menyakitkan
Kuatkah kita...? tegarkah kita...? sabarkah kita...?
Dalam proses ujian pendewasaan manusia
Yang diberikan Tuhan kepada kita "manusia"
Dan percaya atau tidak percaya
Dibalik ujian dan cobaan itu
Terkandung hikmah tuk memacu
Kita, manusia agar merasa dekat menyatu
Dengan Allah, Tuhan kita satu
Setiap yang dilalui tuk berjalan
Mengiringi nada kehidupan
Ujian Tuhan....
Tak perlu mencari
Pasti kan datang sendiri
Hanya perlu menjalani
Tuk memahami maksud apa yang terjadi
Tahap demi tahap
Rendah ketinggi, tinggi kerendah tak tetap
Apa yang terjadi tak perlu meratap
Hadapi dengan dada tegap
Tuhan tak memberi cobaan yang kita tak bisa pecahkan
Karna kita masih punya pikiran
Tuk mencoba suatu hambatan
Walau kadang menyakitkan
Kuatkah kita...? tegarkah kita...? sabarkah kita...?
Dalam proses ujian pendewasaan manusia
Yang diberikan Tuhan kepada kita "manusia"
Dan percaya atau tidak percaya
Dibalik ujian dan cobaan itu
Terkandung hikmah tuk memacu
Kita, manusia agar merasa dekat menyatu
Dengan Allah, Tuhan kita satu
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Tak pasti walau trus mencari
Satu makna dalam hidupku ini
Yang terdalam yang memberi arti
Karna tlah lelah ku trus menanti
Langkah seribu coba jalani
Walau tajam terus kutekuni
Liku dan jurang tetap kuhadapi
Dan mungkin berakhir mati
Kini ku rasa tak peduli
Menjalani semua ini sendiri
Persetan kata orang nanti
Ku hanya coba tepati janji
Janji pada hati nurani
Tuk dapat diriku menjumpai
Suatu makna perjalananku ini
Menguak gambaran takdir diri
Terbuang jauh sesal dan benci
Memang harus terasa begini...?
Mengejar terus berlari - lari
Tanpa lelah tuk menyudahi
Tak mau terus terkurung sepi
Dalam endapan tumpukan jerami
Bernyanyi agar ramai
Tlah kucoba mengukir nama dibumi
Satu makna dalam hidupku ini
Yang terdalam yang memberi arti
Karna tlah lelah ku trus menanti
Langkah seribu coba jalani
Walau tajam terus kutekuni
Liku dan jurang tetap kuhadapi
Dan mungkin berakhir mati
Kini ku rasa tak peduli
Menjalani semua ini sendiri
Persetan kata orang nanti
Ku hanya coba tepati janji
Janji pada hati nurani
Tuk dapat diriku menjumpai
Suatu makna perjalananku ini
Menguak gambaran takdir diri
Terbuang jauh sesal dan benci
Memang harus terasa begini...?
Mengejar terus berlari - lari
Tanpa lelah tuk menyudahi
Tak mau terus terkurung sepi
Dalam endapan tumpukan jerami
Bernyanyi agar ramai
Tlah kucoba mengukir nama dibumi
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Tangan halus merajut sutra
Helai demi hekai tergerai
Membentuk ukiran mantra
Sungguh gadis yang piawai
Senyum manis menebar pesona
Memikat hati yang melihatnya
Paras cantik bak putri cinderella
Terbuai dalam wangi asmara
Manja menggoda tatapan matanya
Menuang sejuta cinta dalam bejana
Sastrawan cinta coba menggoda
Bertandang dengan emas permata
Gadis sutra bak mutiara
Putih halus mulus kulitnya
Bermata sayu bagai angsa
Sastrawan cinta benar - benar terpikat olehnya
Gadis sutra dari desa
Selendang membalut tubuhnya
Mandi bersama cahaya bulan purnama
Caktik rupawan paras wajahnya
Sastrawan cinta kini menyuntingnya
Dia tlah jatuh cinta pada pandangan pertama
Hidup romantis berdua penuh puisi
Menghias hari - hari cinta suci
Helai demi hekai tergerai
Membentuk ukiran mantra
Sungguh gadis yang piawai
Senyum manis menebar pesona
Memikat hati yang melihatnya
Paras cantik bak putri cinderella
Terbuai dalam wangi asmara
Manja menggoda tatapan matanya
Menuang sejuta cinta dalam bejana
Sastrawan cinta coba menggoda
Bertandang dengan emas permata
Gadis sutra bak mutiara
Putih halus mulus kulitnya
Bermata sayu bagai angsa
Sastrawan cinta benar - benar terpikat olehnya
Gadis sutra dari desa
Selendang membalut tubuhnya
Mandi bersama cahaya bulan purnama
Caktik rupawan paras wajahnya
Sastrawan cinta kini menyuntingnya
Dia tlah jatuh cinta pada pandangan pertama
Hidup romantis berdua penuh puisi
Menghias hari - hari cinta suci
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Gelora cinta yang terpendam sekian lama
Tak tertoreh dalam belaian asmara
Terpendam di dasar hati sanubari
Membuat rasa di dada ingin menemui
Wahai engkau pujaan terkasih
Rindu ini berkecamuk terasa perih
Bila tak dapat bertemu denganmu
Yang begitu jauh dari sisiku
Ingin ku belai wajahmu
Agar ku dapat melukis dirimu
Tuk mengobati rindu hati ini
Merasakan hangat kecupan bibir mungilmu
Menghilangkan dinginnya jiwa
Yang kian lama kian membeku
Kini ku sedang berlari ke arahmu
Ingin segera memeluk tubuhmu
Dan melepaskan rindu yang tersimpan
Karna ku rasa damai dalam dekapanmu
Hanya dirimulah yang mampu...
Mampu tuk redamkan geloraku
Kau yang tercinta
Satu dalam jiwa raga
Kau yang ku sayang pidadariku
Selamanya dihati hanya engkau yang kurindu
Tak tertoreh dalam belaian asmara
Terpendam di dasar hati sanubari
Membuat rasa di dada ingin menemui
Wahai engkau pujaan terkasih
Rindu ini berkecamuk terasa perih
Bila tak dapat bertemu denganmu
Yang begitu jauh dari sisiku
Ingin ku belai wajahmu
Agar ku dapat melukis dirimu
Tuk mengobati rindu hati ini
Merasakan hangat kecupan bibir mungilmu
Menghilangkan dinginnya jiwa
Yang kian lama kian membeku
Kini ku sedang berlari ke arahmu
Ingin segera memeluk tubuhmu
Dan melepaskan rindu yang tersimpan
Karna ku rasa damai dalam dekapanmu
Hanya dirimulah yang mampu...
Mampu tuk redamkan geloraku
Kau yang tercinta
Satu dalam jiwa raga
Kau yang ku sayang pidadariku
Selamanya dihati hanya engkau yang kurindu
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Lari kalang kabut
Menyebar kesegala penjuru sudut
Hati yang merasakan takut
Kaget terperanjat
Menghujat kata dalam hati
Dag... dig... dug... tak henti
Tak tenang akan sesuatu yang menanti
Dag... dig... dug... pasti terjadi
Tapi itu sesuatu yang belum kita tau
Kapan...? dimana...?, mau tak mau
Menghadapi sesuatu nan meresahkan kalbu
Yang mungkin berbentuk tabu
Menjumpai hal yang ditakuti kita
Apapun itu sesuatu rahasia
Tapi kita pasti kan menjumpainya
Ketakutan akan sesuatu menutup mata
Mengumpat pasti kita mengumpat kata dalam rasa
Berbahasa memohon "jangan pernah terjadi itu semua"
Dan apa bila itu terjadi bagaikan jenggot penuh semut
Kita pasti akan coba tuk menutup menyumbat
Dengan kata bertakjub kebohongan
Takkan mengakui dan terakui
Yang takkan pernah hilang merasakan
Takut yang ada dalam hati
Menyebar kesegala penjuru sudut
Hati yang merasakan takut
Kaget terperanjat
Menghujat kata dalam hati
Dag... dig... dug... tak henti
Tak tenang akan sesuatu yang menanti
Dag... dig... dug... pasti terjadi
Tapi itu sesuatu yang belum kita tau
Kapan...? dimana...?, mau tak mau
Menghadapi sesuatu nan meresahkan kalbu
Yang mungkin berbentuk tabu
Menjumpai hal yang ditakuti kita
Apapun itu sesuatu rahasia
Tapi kita pasti kan menjumpainya
Ketakutan akan sesuatu menutup mata
Mengumpat pasti kita mengumpat kata dalam rasa
Berbahasa memohon "jangan pernah terjadi itu semua"
Dan apa bila itu terjadi bagaikan jenggot penuh semut
Kita pasti akan coba tuk menutup menyumbat
Dengan kata bertakjub kebohongan
Takkan mengakui dan terakui
Yang takkan pernah hilang merasakan
Takut yang ada dalam hati
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Pertama memang biasa
Mendesah penuh acuh
Memalingkan muka tanpa kata
Hanya menatap angkuh
Kian lama kian larut
Raga bergerak ingin mendekap
Sesuatu yang dulu tak terlihat
Memang mudah bibir berucap
Semudah membalik telapak tangan
Angan memuncak
Bagaikan dongeng kerajaan
Tapi diri tak beranjak tuk bergerak
Memang aku penasaran...
Namun bingung tuk memulai
Laksana patung bebatuan
Ah... aku bagaimana...? karna ego yang tinggi
Pikiran terbayang menghantui
Kapan bisa melepas angan...
Kapan juga bisa menyudahi...
Rasa bertakjub enggan
Memilikinya bersanding
Harapan tanpa proses terjadi
Buang semua gengsi yang bertandang
Melangkah perlahan tapi pasti
Mendesah penuh acuh
Memalingkan muka tanpa kata
Hanya menatap angkuh
Kian lama kian larut
Raga bergerak ingin mendekap
Sesuatu yang dulu tak terlihat
Memang mudah bibir berucap
Semudah membalik telapak tangan
Angan memuncak
Bagaikan dongeng kerajaan
Tapi diri tak beranjak tuk bergerak
Memang aku penasaran...
Namun bingung tuk memulai
Laksana patung bebatuan
Ah... aku bagaimana...? karna ego yang tinggi
Pikiran terbayang menghantui
Kapan bisa melepas angan...
Kapan juga bisa menyudahi...
Rasa bertakjub enggan
Memilikinya bersanding
Harapan tanpa proses terjadi
Buang semua gengsi yang bertandang
Melangkah perlahan tapi pasti
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Melangkah seribu jejak kaki
Dari waktu ke waktu tanpa henti
Yang kadang singgah berhenti
Meratapi dan merenungi
Harapan berangan - angan keawan
Menanti suatu kenangan
Jiwa yang penuh pengalaman
Dan takkan lekang oleh zaman
Rasa tau dan ingin tau
Yang kian menyatu
Tetapkan hati tuk terus berseru
Kuatkan diri agar menyerbu
Rangkaian suatu ilmu
Tertutup tebalnya kelambu
Kadang pula batu
Yang menerpa menyiksa kalbu
Mengamati apa yang bisa diamati
Mengerti apa yang bisa dimengerti
Membaca apa yang bisa terbaca hati
Mencari tau apa yang harus dicari
Cari sendiri semua yang berguna
Walau penuh tanya
Suatu yang kan menyapa
Masa depan diri kita, dan hanya kita!
Dari waktu ke waktu tanpa henti
Yang kadang singgah berhenti
Meratapi dan merenungi
Harapan berangan - angan keawan
Menanti suatu kenangan
Jiwa yang penuh pengalaman
Dan takkan lekang oleh zaman
Rasa tau dan ingin tau
Yang kian menyatu
Tetapkan hati tuk terus berseru
Kuatkan diri agar menyerbu
Rangkaian suatu ilmu
Tertutup tebalnya kelambu
Kadang pula batu
Yang menerpa menyiksa kalbu
Mengamati apa yang bisa diamati
Mengerti apa yang bisa dimengerti
Membaca apa yang bisa terbaca hati
Mencari tau apa yang harus dicari
Cari sendiri semua yang berguna
Walau penuh tanya
Suatu yang kan menyapa
Masa depan diri kita, dan hanya kita!
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Menusuk semua terasa menusuk
Kekuatan ego bergejolak
Hati meletus tuk berteriak
Tak henti - henti menguak
Kondisi diri siap beranjak
Dalam kacau yang membelalak
Omongan kian bersorak
Tak henti dalam mengajak
Terlontar semua kata busuk
Memaki penuh congkak
Mengumpat seribu bahasa berlagak
Entah apa yang mengusik
Malam kian berlalu, berteman suara jangkrik
Emosi kian melambung penuh dahak
Tak terasa suara menjadi serak
Hingga menginjak waktu berdetak
Sudah banyak tenaga yang bergerak
Otot dan urat sudah sulit untuk merangkak
Amarah yang telah meledak
Merusak ketenangan jiwa menyimpan congkak
Hening sejenak...
Renungi sesal yang coba merasuk
Apa yang telah terjadi mendadak
Terpikir untuk kembali rujuk
Kekuatan ego bergejolak
Hati meletus tuk berteriak
Tak henti - henti menguak
Kondisi diri siap beranjak
Dalam kacau yang membelalak
Omongan kian bersorak
Tak henti dalam mengajak
Terlontar semua kata busuk
Memaki penuh congkak
Mengumpat seribu bahasa berlagak
Entah apa yang mengusik
Malam kian berlalu, berteman suara jangkrik
Emosi kian melambung penuh dahak
Tak terasa suara menjadi serak
Hingga menginjak waktu berdetak
Sudah banyak tenaga yang bergerak
Otot dan urat sudah sulit untuk merangkak
Amarah yang telah meledak
Merusak ketenangan jiwa menyimpan congkak
Hening sejenak...
Renungi sesal yang coba merasuk
Apa yang telah terjadi mendadak
Terpikir untuk kembali rujuk
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Kembali dalam hening malam
Yang terasa kian mencekam
Terpatri diri penuh sekam
Dan terus akan membungkam
Dalam tiap malam aku sendiri
Seorang diri tak tertemani
Meraung agar terasa ramai
Tapi malam tetap bisu dan mati
Tergeletak diri dalam lembaran kasur
Masih merasa hening yang mengubur
Berlari tuk bisa kabur
Tak peduli berapa jauh tlah terukur
Untuk tinggalkan malam penuh hening
Hingga aku jatuh terpelanting
Merasakan luka perih dan pening
Terus berlari meninggalkan hal - hal penting
Yang terlupakan karna sepi menyiksa diri
Mencari teman dalam malam sepi
Menyiangi helai demi helai tirai malam melambai
Karna berfikir dapat diri menyudahi
Tapi tetap temukan hening malam
Yang tak terakhiri dan terus menyulam
Setiap waktu tuk tenggelam
Dalam kelunya hening malam menerkam
Yang terasa kian mencekam
Terpatri diri penuh sekam
Dan terus akan membungkam
Dalam tiap malam aku sendiri
Seorang diri tak tertemani
Meraung agar terasa ramai
Tapi malam tetap bisu dan mati
Tergeletak diri dalam lembaran kasur
Masih merasa hening yang mengubur
Berlari tuk bisa kabur
Tak peduli berapa jauh tlah terukur
Untuk tinggalkan malam penuh hening
Hingga aku jatuh terpelanting
Merasakan luka perih dan pening
Terus berlari meninggalkan hal - hal penting
Yang terlupakan karna sepi menyiksa diri
Mencari teman dalam malam sepi
Menyiangi helai demi helai tirai malam melambai
Karna berfikir dapat diri menyudahi
Tapi tetap temukan hening malam
Yang tak terakhiri dan terus menyulam
Setiap waktu tuk tenggelam
Dalam kelunya hening malam menerkam
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Sesaat kau tampakkan sosokmu
Anggun dan gemuali nian gerakanmu
Dalam setiap derap dan deru langkahmu
Itupun terpancar lewat tutur kata dari bibirmu
Yang menyapu setiap mata lelaki
Entah kenapa kini kumulai terbuai
Akan indah raut muka yang cantik
Hanya karna pertemuan sesaat, terkuak
Tatap matamu mengisyaratkan diri coba tuk beranjak
Untuk lebih dalam mengenal dirimu agar terkuak
Bayangmupun masih teringat dalam benak
Saat kau beranjak tuk pergi menapak
Kini dirimu seutuhnya tlah terlukis oleh otakku
Yang takkan pernah bisa terhapuskan
Karna engkau selalu terbayang dalam setiap waktuku
Berharap dapat bertemu denganmu kembali
Seandainya ada waktu dalam hari yang teraih
Ku ingin coba tuk berjumpa denganmu tanpa tertatih
Andaikan ada sebuah harapan dlam kepastian
Akan kucoba menyerukan isi hati untuk sebuah perasaan
Teruntuk dirimu yang selalu terbayang
Akankah slalu bisa terulang
Pertemuan yang kutunggu denganmu
Yang membuatku merasakan rindu
Anggun dan gemuali nian gerakanmu
Dalam setiap derap dan deru langkahmu
Itupun terpancar lewat tutur kata dari bibirmu
Yang menyapu setiap mata lelaki
Entah kenapa kini kumulai terbuai
Akan indah raut muka yang cantik
Hanya karna pertemuan sesaat, terkuak
Tatap matamu mengisyaratkan diri coba tuk beranjak
Untuk lebih dalam mengenal dirimu agar terkuak
Bayangmupun masih teringat dalam benak
Saat kau beranjak tuk pergi menapak
Kini dirimu seutuhnya tlah terlukis oleh otakku
Yang takkan pernah bisa terhapuskan
Karna engkau selalu terbayang dalam setiap waktuku
Berharap dapat bertemu denganmu kembali
Seandainya ada waktu dalam hari yang teraih
Ku ingin coba tuk berjumpa denganmu tanpa tertatih
Andaikan ada sebuah harapan dlam kepastian
Akan kucoba menyerukan isi hati untuk sebuah perasaan
Teruntuk dirimu yang selalu terbayang
Akankah slalu bisa terulang
Pertemuan yang kutunggu denganmu
Yang membuatku merasakan rindu
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Terpaut dalam balutan selendang ibunda
Sipit mataku merapat menatap matanya
Berteriak meratap lidah dan bibirku ingin disusuinya
Jemari kecilku menggenggam erat sebilah jemari manisnya
Itu aku dulu...
Belum berfikr menggebu
Masih menunggu
Tumbuh dewasa dan masih lugu
Tya begitu panggilan yang diberikan
Melekat hingga sekarang dalam setiap perjalanan
Memberikan do'a pada setiap aku memijakan
Hingga keluar jauh dalam lingkup kekeluargaan
Seperti lepas....
Terbang bebas tanpa suatu batas
Melaju cepat waktu pun tertembus
Bagai busur melepas anak panah melesat deras
Kini...
Aku bisa berfikir sendiri
Menentukan garis hidupku menurut pilihan hati
Agar bibirku tetap berseri
Terlepas dari kesemuanya itu
Problema dalam takdirku mengiringi langkahku
Yang tertelusuri goda dan coba terus merayu
Menghantui aku dalam setiap waktu
Kadang aku frustasi...
Terkadang diri tegar berdiri
Dan ada kalanya diri bersimbah air mata hati
Menguji ketabahan dalam pergulatan jatidiri
Hidup ini terisi
Dengan adanya keluarga yang mendampingi
Orang terkasih yang mengasihi
Sahabat dan teman yang menemani
Kesemuanya itu adalah bagian hidupku, bagai embun....
Yang kan terus menetesi tanah jiwa penuh kesejukan
Menyinari bak mentari memberi kehangatan
Cahayanya menuntun setiap perjalanan
@ andree-celezska
18.September.2010
02:44:25 AM
Sipit mataku merapat menatap matanya
Berteriak meratap lidah dan bibirku ingin disusuinya
Jemari kecilku menggenggam erat sebilah jemari manisnya
Itu aku dulu...
Belum berfikr menggebu
Masih menunggu
Tumbuh dewasa dan masih lugu
Tya begitu panggilan yang diberikan
Melekat hingga sekarang dalam setiap perjalanan
Memberikan do'a pada setiap aku memijakan
Hingga keluar jauh dalam lingkup kekeluargaan
Seperti lepas....
Terbang bebas tanpa suatu batas
Melaju cepat waktu pun tertembus
Bagai busur melepas anak panah melesat deras
Kini...
Aku bisa berfikir sendiri
Menentukan garis hidupku menurut pilihan hati
Agar bibirku tetap berseri
Terlepas dari kesemuanya itu
Problema dalam takdirku mengiringi langkahku
Yang tertelusuri goda dan coba terus merayu
Menghantui aku dalam setiap waktu
Kadang aku frustasi...
Terkadang diri tegar berdiri
Dan ada kalanya diri bersimbah air mata hati
Menguji ketabahan dalam pergulatan jatidiri
Hidup ini terisi
Dengan adanya keluarga yang mendampingi
Orang terkasih yang mengasihi
Sahabat dan teman yang menemani
Kesemuanya itu adalah bagian hidupku, bagai embun....
Yang kan terus menetesi tanah jiwa penuh kesejukan
Menyinari bak mentari memberi kehangatan
Cahayanya menuntun setiap perjalanan
@ andree-celezska
18.September.2010
02:44:25 AM
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Saat kedua mata terkualai berair
Menetes kerap tanpa berhenti mengalir
Tubuh terasa runtuh kebumi, lunglai tak bersuara
Kala memandang, menatap luas hamparan manusia
Pikiran dalam otak terasa mendung menderu
Tatkala tanah pijakan bergoyang menggebu
Meruntuhkan persinggahan peraduan kelabu
Mencoba menghancurkan yang menjulang tugu
Rintihan ribuan suara penuh ratap menyambut
Ditinggalkan kerabat terdekat tergeletak tak bergerak berdegub
Tertimbun ribuan reruntuhan debu beton bangunan
Karna gejolak bumi yang meratakan kerumunan
Tak pelak harta benda musnah tak berbekas
Kini diri coba tuk meminta tangan berwelas
Mengurangi derita hati yang terkuras
Tuk berderap memapah tubuh yang lemas
Entah... siapapun tak ada yang kan tau
Luka hati, derita, ratapan ini akan bencana melanda
Hanya terus bersandar dalam kain yang berdebu
Yang kan berteriak keras setiap kali dirundung duka
Tuhan tolong hilangkan derita ini, Tuhan...
Apakah ini termasuk ujian dan cobaan darimu
Yang melanda terus silih berganti tanpa henti menghujam
Kami tak tau kehendakmu, Tuhan... berikan ridhomu...
Menetes kerap tanpa berhenti mengalir
Tubuh terasa runtuh kebumi, lunglai tak bersuara
Kala memandang, menatap luas hamparan manusia
Pikiran dalam otak terasa mendung menderu
Tatkala tanah pijakan bergoyang menggebu
Meruntuhkan persinggahan peraduan kelabu
Mencoba menghancurkan yang menjulang tugu
Rintihan ribuan suara penuh ratap menyambut
Ditinggalkan kerabat terdekat tergeletak tak bergerak berdegub
Tertimbun ribuan reruntuhan debu beton bangunan
Karna gejolak bumi yang meratakan kerumunan
Tak pelak harta benda musnah tak berbekas
Kini diri coba tuk meminta tangan berwelas
Mengurangi derita hati yang terkuras
Tuk berderap memapah tubuh yang lemas
Entah... siapapun tak ada yang kan tau
Luka hati, derita, ratapan ini akan bencana melanda
Hanya terus bersandar dalam kain yang berdebu
Yang kan berteriak keras setiap kali dirundung duka
Tuhan tolong hilangkan derita ini, Tuhan...
Apakah ini termasuk ujian dan cobaan darimu
Yang melanda terus silih berganti tanpa henti menghujam
Kami tak tau kehendakmu, Tuhan... berikan ridhomu...
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Mungkin aku yang salah menilai
Terlambat tuk menyadari kehadiranmu
Memberikan sebuah arti untukku
Dan mungkin aku tak memahami
Salahku yang terlalu acuh padamu
Seseorang yang peduli terhadapku
Kini engkau berpaling dari hadapanku
Beralih kehati yang mengerti dirimu
Terlambat kini harus kusesali sendiri
Kebodohan yang ada pada diri
Kini hanya bisa mengecap kelu dalam hati
Yang tak bisa memiliki hati bermanusiawi
Maaf atas sikapku terhadapmu
Mungkin hanya itu yang pantas kuucap padamu
Karna kutak bisa tuk memilikimu
Damai bersama dalam pujaanmu
Perlahan tapi sangat pasti
Kini kau harus segera pergi
Bersama kasihmu yang tlah bertaut dihatimu
Kuharus relakan kepergianmu
Terlambat tuk menyadari kehadiranmu
Memberikan sebuah arti untukku
Dan mungkin aku tak memahami
Salahku yang terlalu acuh padamu
Seseorang yang peduli terhadapku
Kini engkau berpaling dari hadapanku
Beralih kehati yang mengerti dirimu
Terlambat kini harus kusesali sendiri
Kebodohan yang ada pada diri
Kini hanya bisa mengecap kelu dalam hati
Yang tak bisa memiliki hati bermanusiawi
Maaf atas sikapku terhadapmu
Mungkin hanya itu yang pantas kuucap padamu
Karna kutak bisa tuk memilikimu
Damai bersama dalam pujaanmu
Perlahan tapi sangat pasti
Kini kau harus segera pergi
Bersama kasihmu yang tlah bertaut dihatimu
Kuharus relakan kepergianmu
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Bergerak tapi tak berlari
Cepat tetap terasa lambat
Untuk mengubah bentukan alur hati
Dan kembali takkan terarah tepat
Beban sungguh terasa berat
Menumpuk penuh dalam jidat
Bergoyang bukan miring
Tumpuan kaki terasa tak seimbang
Jalan pendek tapi tak pernah terbatas
Bermuara tapi tak berujung
Cucuran hujan keringat mengucur deras
Karna rasa was - was dalam berjuang
Terlihat tapi tak terpandang
Samar coba kembali mengundang
Diam..., dan terus terdiam terpaku
Berkutat dalam lumpur hidup tanpa jemu
Stagnan jiwa raga tak terkejar
Garang meronta mulut berkoar
Merasa mati suri juga tak merasa mati
Tapi hidup jiwa tetap terasakan mati
Berasa hambar tapi memiliki rasa
Terbilang diri kini dalam putaran depresi
Bertenaga tapi akan tetap tak pernah kuasa
Stagnan..., oh stagnan problema kapan terakhiri !
Cepat tetap terasa lambat
Untuk mengubah bentukan alur hati
Dan kembali takkan terarah tepat
Beban sungguh terasa berat
Menumpuk penuh dalam jidat
Bergoyang bukan miring
Tumpuan kaki terasa tak seimbang
Jalan pendek tapi tak pernah terbatas
Bermuara tapi tak berujung
Cucuran hujan keringat mengucur deras
Karna rasa was - was dalam berjuang
Terlihat tapi tak terpandang
Samar coba kembali mengundang
Diam..., dan terus terdiam terpaku
Berkutat dalam lumpur hidup tanpa jemu
Stagnan jiwa raga tak terkejar
Garang meronta mulut berkoar
Merasa mati suri juga tak merasa mati
Tapi hidup jiwa tetap terasakan mati
Berasa hambar tapi memiliki rasa
Terbilang diri kini dalam putaran depresi
Bertenaga tapi akan tetap tak pernah kuasa
Stagnan..., oh stagnan problema kapan terakhiri !
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Kau yang dulu kucintai dan kusayangi
Kau juga yang dulu memberiku rasa memahami dan mengasihi
Hingga sampai putaran waktu hidupmu terhenti
Dirimu tetap memberikan hati pada diriku ini
Kini engkau tlah menutup kedua matamu
Kini engkau bertemankan para malaikat
Karna engkau benar - benar tlah tiada tinggalkan diriku
Dan kusadari warna hatiku pun menjadi pucat
Penuh ratap air mata dalam setiap detakku
Kini tak tau apa saja yang harus kuperbuat
Hingga ku temukan sebuah harapan yang mendekat
Untuk dapat lanjutkan perjalanan dalam hidupku
Sehingga kutetapkan tuk mengganti cinta dan kasihmu
Dengan sebuah hati yang lainnya dan dapat mengganti...
Mengganti namamu dalam hatiku yang kudekap erat sekali
Dan menetapkan engkau menjadi kenangan indah dihidupku
Perjalanan tuk mencari pengganti dirimu masih terus berjalan
Tanpa henti, tanpa letih diriku terus mencari
Walau penuh godaan dan penuh seabrek rintangan
Yah... sudah, engkau memang harus tergantikan kini
Kau juga yang dulu memberiku rasa memahami dan mengasihi
Hingga sampai putaran waktu hidupmu terhenti
Dirimu tetap memberikan hati pada diriku ini
Kini engkau tlah menutup kedua matamu
Kini engkau bertemankan para malaikat
Karna engkau benar - benar tlah tiada tinggalkan diriku
Dan kusadari warna hatiku pun menjadi pucat
Penuh ratap air mata dalam setiap detakku
Kini tak tau apa saja yang harus kuperbuat
Hingga ku temukan sebuah harapan yang mendekat
Untuk dapat lanjutkan perjalanan dalam hidupku
Sehingga kutetapkan tuk mengganti cinta dan kasihmu
Dengan sebuah hati yang lainnya dan dapat mengganti...
Mengganti namamu dalam hatiku yang kudekap erat sekali
Dan menetapkan engkau menjadi kenangan indah dihidupku
Perjalanan tuk mencari pengganti dirimu masih terus berjalan
Tanpa henti, tanpa letih diriku terus mencari
Walau penuh godaan dan penuh seabrek rintangan
Yah... sudah, engkau memang harus tergantikan kini
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Satu menyerukan kebajikan
Satu menyerukan kejahatan
Semua tergantung penggunanya
Tanpa tertipu suatu penampilannya
Orang baik dan taat agama
Bisa saja melakukan pembantaian sadis
Dan orang jahat berhati iblis
Malah dapat melakukan sebaliknya
Setan dan iblis memang berbahaya
Tapi tak sedahsyat jahatnya isi hati manusia
Malaikat senantiasa membisikkan kebaikan
Dan iblis menjunjung kezaliman
Manusia memang sulit diterka
Tapi lebih sulit menerka isi hati manusia
Tampan, rapi bukan jaminan
Buruk rupa, gembel juga belum tentu jaminan
Mengukur dan menilai kebaikan
Menimbang dan memutuskan kejahatan
Memang menyakitkan dan membingungkan
Tak bisa seenaknya untuk menentukan
Isi hati siapa bisa menerka
Mulut memang berbicara jujur
Tapi belum tentu hati yang berkata
Hanya diri kita yang tau berkata jujur
Satu menyerukan kejahatan
Semua tergantung penggunanya
Tanpa tertipu suatu penampilannya
Orang baik dan taat agama
Bisa saja melakukan pembantaian sadis
Dan orang jahat berhati iblis
Malah dapat melakukan sebaliknya
Setan dan iblis memang berbahaya
Tapi tak sedahsyat jahatnya isi hati manusia
Malaikat senantiasa membisikkan kebaikan
Dan iblis menjunjung kezaliman
Manusia memang sulit diterka
Tapi lebih sulit menerka isi hati manusia
Tampan, rapi bukan jaminan
Buruk rupa, gembel juga belum tentu jaminan
Mengukur dan menilai kebaikan
Menimbang dan memutuskan kejahatan
Memang menyakitkan dan membingungkan
Tak bisa seenaknya untuk menentukan
Isi hati siapa bisa menerka
Mulut memang berbicara jujur
Tapi belum tentu hati yang berkata
Hanya diri kita yang tau berkata jujur
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Saat ini kubutuh cinta
Dan kini ku perlu kasih
Karna terpaut api asmara
Hati yang tak tersinggahi orang terkasih
Ingin memulai mencari tambatan hati
Seleksi mata terus terbuka tanpa henti
Tapi siapa??? dan ada dimana dia???
Pertautan hati yang terakhir menerima
Rasa sayang dalam hati ingin tercurahkan
Tapi kembali bertanya "kepada siapa???"
Belum terjumpai putihnya kelambu hati wanita
Yang dapat menggetarkan dan menggerakkan
Untuk bibir diri menyatakan pernyataan
Dan belum ada yang pantas menerima ungkapanku
Bingung tapi butuh akan cinta seseorang
Kalut menyelubungi diri untuk menguji
Banyak pilihan cinta, tapi hati siapa...???
Banyak macam kasih sayang, tapi yang seperti apa...??
Siapakah gerangan dia...? yang dapat membuaiku
Yang dapat mencintai dan menyayangi diriku
Kini belum kutemukan...
Bukan hati ini, mungkin?
Atau bukan ditenpat ini kujumpai
Kini berjalan berkelana mencari siapa dia???
Dan kini ku perlu kasih
Karna terpaut api asmara
Hati yang tak tersinggahi orang terkasih
Ingin memulai mencari tambatan hati
Seleksi mata terus terbuka tanpa henti
Tapi siapa??? dan ada dimana dia???
Pertautan hati yang terakhir menerima
Rasa sayang dalam hati ingin tercurahkan
Tapi kembali bertanya "kepada siapa???"
Belum terjumpai putihnya kelambu hati wanita
Yang dapat menggetarkan dan menggerakkan
Untuk bibir diri menyatakan pernyataan
Dan belum ada yang pantas menerima ungkapanku
Bingung tapi butuh akan cinta seseorang
Kalut menyelubungi diri untuk menguji
Banyak pilihan cinta, tapi hati siapa...???
Banyak macam kasih sayang, tapi yang seperti apa...??
Siapakah gerangan dia...? yang dapat membuaiku
Yang dapat mencintai dan menyayangi diriku
Kini belum kutemukan...
Bukan hati ini, mungkin?
Atau bukan ditenpat ini kujumpai
Kini berjalan berkelana mencari siapa dia???
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Awan mendung yang kelam menyelimuti hatiku
Yang kini sedang resah dan gundah tak menentu
Karna kau pergi menghilang dan tak pernah kan kembali
Tinggalkan semua kenangan dan kisah dihati
Kau sisakan perih yang dalam dihatiku
Kau tinggalkan luka yang tak dapat terobati
Musnah sudah harapan dan anganku
Tuk dapat hidup berdua denganmu kini
Langit yang menjulang seakan menertawaiku
Bintang kesaksian pun mulai pudar menghilang
Karna kegelapan cintaku saat ini padanya
Ku tak pernah tau apa sebabnya dia pergi menghilang
Oh... Tuhan tolonglah kembalikan dia padaku
Karna ku........., karna ku............
Sangat butuh dia tuk jadi pendampingku
Membagi apa yang belum terbagi berdua
Yang kini sedang resah dan gundah tak menentu
Karna kau pergi menghilang dan tak pernah kan kembali
Tinggalkan semua kenangan dan kisah dihati
Kau sisakan perih yang dalam dihatiku
Kau tinggalkan luka yang tak dapat terobati
Musnah sudah harapan dan anganku
Tuk dapat hidup berdua denganmu kini
Langit yang menjulang seakan menertawaiku
Bintang kesaksian pun mulai pudar menghilang
Karna kegelapan cintaku saat ini padanya
Ku tak pernah tau apa sebabnya dia pergi menghilang
Oh... Tuhan tolonglah kembalikan dia padaku
Karna ku........., karna ku............
Sangat butuh dia tuk jadi pendampingku
Membagi apa yang belum terbagi berdua
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Berpisah dengan dirimu indri...
Hal yang sungguh tak kuinginkan kini
Tapi tetap harus kulalui
Karna kau tak mungkin kembali
Meraih rajutan untaian sulaman hati
Yang penuh ukiran tentang dirimu
Kau yang terlepas dari pelukanku
Dan kini harus kurendra hari sendiri
Terasa perih mendayu - dayu
Saat kau hempas nafas terakhirmu
Kurasa...., ku sangat butuh engkau
Yang tak mungkin bisa terlepas dari hatiku
Walau trus coba tuk lupakan
Semua hasrat terpendam mendalam
Akan kenangan cintamu yang kusimpan
Semua kini terasa begitu kelam
Hatiku menyatakan " tak bisa lepas "
Dari bayang - bayang cinta seputih kertas
Yang dulu kau suguhkan tuk hatiku
Kini kurasa kelu tanpa kesejukan kasihmu
Tunjukkan padaku...
Jalan tuk melepaskan hatimu
Yang terikat erat dalam hatimu
Tak terlepaskan semua jejak rasa
Hal yang sungguh tak kuinginkan kini
Tapi tetap harus kulalui
Karna kau tak mungkin kembali
Meraih rajutan untaian sulaman hati
Yang penuh ukiran tentang dirimu
Kau yang terlepas dari pelukanku
Dan kini harus kurendra hari sendiri
Terasa perih mendayu - dayu
Saat kau hempas nafas terakhirmu
Kurasa...., ku sangat butuh engkau
Yang tak mungkin bisa terlepas dari hatiku
Walau trus coba tuk lupakan
Semua hasrat terpendam mendalam
Akan kenangan cintamu yang kusimpan
Semua kini terasa begitu kelam
Hatiku menyatakan " tak bisa lepas "
Dari bayang - bayang cinta seputih kertas
Yang dulu kau suguhkan tuk hatiku
Kini kurasa kelu tanpa kesejukan kasihmu
Tunjukkan padaku...
Jalan tuk melepaskan hatimu
Yang terikat erat dalam hatimu
Tak terlepaskan semua jejak rasa
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Disaat kumerindu
Hangat lembut belaimu
Hanyutkan diriku
Dalam lamunanku
Kasih pijarkan selalu
Sinar terang cintamu
Kasih janganlah engkau...
Coba padamkan cintaku
Indah cintamu....
Penuh dengan kasih
Segarkan nurani terbasuh
Akan hampanya jiwaku
Kau selalu hadir
Didalam mimpiku tertidur
Ku takkan pernah...
Berpaling darimu kasih...
Yakinkan itu dalam hatimu
Benar dan nyata adanya
Ku kan selalu lembut membelaimu
Dalam mimpi dan nyata
Hangat lembut belaimu
Hanyutkan diriku
Dalam lamunanku
Kasih pijarkan selalu
Sinar terang cintamu
Kasih janganlah engkau...
Coba padamkan cintaku
Indah cintamu....
Penuh dengan kasih
Segarkan nurani terbasuh
Akan hampanya jiwaku
Kau selalu hadir
Didalam mimpiku tertidur
Ku takkan pernah...
Berpaling darimu kasih...
Yakinkan itu dalam hatimu
Benar dan nyata adanya
Ku kan selalu lembut membelaimu
Dalam mimpi dan nyata
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Tiuplah lilin itu yang menyala disana
Panjatkan harapan didalam hatimu
Agar terkabulkan semua anganmu nyata
Dan ingin kunyanyikan untukmu
"Selamat ulang tahun wahai kawanku
Selamat ulang tahun semoga panjang umur
Didalam hari - harimu didunia ini
Kan selalu kau temukan bahagia sampai akhir"
Dihari ini penuh dengan canda
Seiring dengan gelak tawamu terkulai
Suasana penuh dengan riang tawa
Selaras nyanyian dan tarian suara hati
Kau kini siratkan kebahagiaan
Tersirat dalam sinar matamu
Kau berdansa dan tertawa seru
Penuh suka ria dalam ruangan
"Semoga ini jadikan kenangan
Pada hari yang melelahkan
Dan terasa berkepanjangan
Sanggup kau tempuh semua suratan"
Panjatkan harapan didalam hatimu
Agar terkabulkan semua anganmu nyata
Dan ingin kunyanyikan untukmu
"Selamat ulang tahun wahai kawanku
Selamat ulang tahun semoga panjang umur
Didalam hari - harimu didunia ini
Kan selalu kau temukan bahagia sampai akhir"
Dihari ini penuh dengan canda
Seiring dengan gelak tawamu terkulai
Suasana penuh dengan riang tawa
Selaras nyanyian dan tarian suara hati
Kau kini siratkan kebahagiaan
Tersirat dalam sinar matamu
Kau berdansa dan tertawa seru
Penuh suka ria dalam ruangan
"Semoga ini jadikan kenangan
Pada hari yang melelahkan
Dan terasa berkepanjangan
Sanggup kau tempuh semua suratan"
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Saat kuterawangi kalbuku
Sesegar embun pagi hari
Terasa dalam hatiku
Bergetar jiwa dalam diri
Hatiku terkoyak - koyak
Kumerasa terhempas melayang
Saat ku diterpa deru ombak
Diterpa badai angin cintamu berkalang
Berhembus menari dalam diri
Menembus didalam hati
Terasa perih dan pedih
Aku merintihkan cintaku, sedih...
Dan saat kau tebarkan
Harum aroma cintamu
Kala kau hamburkan
Semua pesonamu padaku
Api cintaku membara dalam dada
Kupu - kupu cintaku kini terbang nyata
Dibawa hanyut arus wangimu
Yang kan hinggap dibunga hatimu
Apakah kini harus kusyairkan?
Apakah harus kedendangkan?
Lagu cinta hatiku padamu...
Yang slalu mengalun didalam hatiku
Sesegar embun pagi hari
Terasa dalam hatiku
Bergetar jiwa dalam diri
Hatiku terkoyak - koyak
Kumerasa terhempas melayang
Saat ku diterpa deru ombak
Diterpa badai angin cintamu berkalang
Berhembus menari dalam diri
Menembus didalam hati
Terasa perih dan pedih
Aku merintihkan cintaku, sedih...
Dan saat kau tebarkan
Harum aroma cintamu
Kala kau hamburkan
Semua pesonamu padaku
Api cintaku membara dalam dada
Kupu - kupu cintaku kini terbang nyata
Dibawa hanyut arus wangimu
Yang kan hinggap dibunga hatimu
Apakah kini harus kusyairkan?
Apakah harus kedendangkan?
Lagu cinta hatiku padamu...
Yang slalu mengalun didalam hatiku
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Dari dulu cinta antara dua manusia
Sudahlah terbentuk didalam hati
Hingga Dia menciptakan adam dan hawa
Untuk saling mencintai tanpa terbagi
Karna rasa cinta anugerah-Nya
Yang tak dapat terkira tiada tara
Indah bila cinta sejati bersatu
Dan untuk selamanya saling mencumbu
Indahnya direguk bersama
Dua insan yang saling mencintai
Bahagia selalu dihati mereka
Cinta yang suci dari lubuk hati
Begitu pula diriku, kamu dan semua
Dihati kita ada cahaya cinta
Untuk pujaan hati kita
Baik didunia dan disurga
Sebuah perasaan cinta....
Yang takkan lekang binasa
Selalu terurai didalam jiwa
Bagai kisah cinta adam dan hawa
Sudahlah terbentuk didalam hati
Hingga Dia menciptakan adam dan hawa
Untuk saling mencintai tanpa terbagi
Karna rasa cinta anugerah-Nya
Yang tak dapat terkira tiada tara
Indah bila cinta sejati bersatu
Dan untuk selamanya saling mencumbu
Indahnya direguk bersama
Dua insan yang saling mencintai
Bahagia selalu dihati mereka
Cinta yang suci dari lubuk hati
Begitu pula diriku, kamu dan semua
Dihati kita ada cahaya cinta
Untuk pujaan hati kita
Baik didunia dan disurga
Sebuah perasaan cinta....
Yang takkan lekang binasa
Selalu terurai didalam jiwa
Bagai kisah cinta adam dan hawa
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Kini ku mulai luluh padamu
Karna semua pesona diragamu
Karna cinta yang ada dihatimu
Selamanya ku ingin kau jadi milik ku
Kau yang ku cintai sepenuh hati
Takkan pernah hilang dan mati
Ku harap kau tau besarnya cinta ku
Selama - lamanya padamu
Biarkanlah cinta kita
Pudar ditelan sang waktu
Sampai maut memisahkannya
Ku hanya kan mencintaimu
Selamanya....
Kan ku jaga cinta kita
Dengan ikrar janji yang suci
Bersamamu tuk hidup semati
Karna semua pesona diragamu
Karna cinta yang ada dihatimu
Selamanya ku ingin kau jadi milik ku
Kau yang ku cintai sepenuh hati
Takkan pernah hilang dan mati
Ku harap kau tau besarnya cinta ku
Selama - lamanya padamu
Biarkanlah cinta kita
Pudar ditelan sang waktu
Sampai maut memisahkannya
Ku hanya kan mencintaimu
Selamanya....
Kan ku jaga cinta kita
Dengan ikrar janji yang suci
Bersamamu tuk hidup semati
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Maafkan diriku yang kini membuang mu
Mencampakkan mu dan membunuh hatimu
Karna kesombongan dan keangkuhanku
Yang tak pernah mengerti perasaan hatimu
Teman maafkanlah diriku
Yang tak bermaksud menghianati mu
Mungkin kita tak bisa lagi
Membagi semua sepenuh hati
Antara aku dan kamu
Karna kita tak bisa bersatu
Saat ku acuhkan dirimu
Dan tak pernah pedulikan mu
Disaat kau butuh pertolonganku
Tak pernah ku hiraukan kisah mu
Karna kini kupunya teman baru
Yang lebih baik dari dirimu
Karna sesungguhnya aku bosan
Dengan semua kebohongan
Dan kata - kata bualan mu
Yang selalu kau banggakan padaku
Mencampakkan mu dan membunuh hatimu
Karna kesombongan dan keangkuhanku
Yang tak pernah mengerti perasaan hatimu
Teman maafkanlah diriku
Yang tak bermaksud menghianati mu
Mungkin kita tak bisa lagi
Membagi semua sepenuh hati
Antara aku dan kamu
Karna kita tak bisa bersatu
Saat ku acuhkan dirimu
Dan tak pernah pedulikan mu
Disaat kau butuh pertolonganku
Tak pernah ku hiraukan kisah mu
Karna kini kupunya teman baru
Yang lebih baik dari dirimu
Karna sesungguhnya aku bosan
Dengan semua kebohongan
Dan kata - kata bualan mu
Yang selalu kau banggakan padaku
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Pedal becak....
Terkayuh hentakan dua kaki
Terangkai dalam besi penuh cagak
Menyatroni jalan tanpa henti
Cucuran - cucuran keringat membanjiri
Dalam deruan panas mentari
Berjalan tiga roda penuh rotasi
Seolah akan mengitari bumi
Manusia - manusia penuh otot baja
Terbuang dalam pinggiran jalan
Yang mungkin kan lekang oleh zaman
Akan sebuah tatanan bentuk kota
Bermodal caping dan tenaga
Kembali coba tuk menerjang rasa
Terguyur deras hujan badai
Tapi tak henti pedal dibawah kaki
Untuk tetap terus bergulir
Menguak kejamnya dunia jalanan kota
Terus dan terus becak terkikis tersingkir
Hingga nafas tipis terbuka menganga
Becak roda tiga pinggir kota
Membawa manusia yang malas berjalan
Becak mengungkap jerit tangis jalanan
Aaah, hanya becak roda tiga yang penuh dahaga
Terkayuh hentakan dua kaki
Terangkai dalam besi penuh cagak
Menyatroni jalan tanpa henti
Cucuran - cucuran keringat membanjiri
Dalam deruan panas mentari
Berjalan tiga roda penuh rotasi
Seolah akan mengitari bumi
Manusia - manusia penuh otot baja
Terbuang dalam pinggiran jalan
Yang mungkin kan lekang oleh zaman
Akan sebuah tatanan bentuk kota
Bermodal caping dan tenaga
Kembali coba tuk menerjang rasa
Terguyur deras hujan badai
Tapi tak henti pedal dibawah kaki
Untuk tetap terus bergulir
Menguak kejamnya dunia jalanan kota
Terus dan terus becak terkikis tersingkir
Hingga nafas tipis terbuka menganga
Becak roda tiga pinggir kota
Membawa manusia yang malas berjalan
Becak mengungkap jerit tangis jalanan
Aaah, hanya becak roda tiga yang penuh dahaga
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Tanah lapang berisikan nisan
Berjajar membentuk barisan
Tak terhiasi oleh kembang setaman
Dan tanpa lukisan sebagai hiasan
Kuburan tempat orang mati
Bukan tempat mencari rizqi
Dan bukan pula untuk menguji diri
Orang - orang yang tak tau diri
Karna kuburan bukan tempat setan
Bukan pula tempat pemujaan
Apalagi tempat untuk bermesraan
Duduk diatas nisan berduaan
Kuburan tempat peristirahatan
Untuk menjelang masa depan
Kehidupan diatas awan
Yang penuh kedamaian
Kuburan juga bukan tempat orang hilang tujuan
Dalam kehidupan yang melelahkan
Yang gontai jalani ini penuh riskan
Manusia yang cuma malas - malasan
Kuburan bukan untuk mengakhiri
Bentukan kegagalan manusia berdiri
Sakralnya kuburan untuk berdiri
Yang coba tuk mengukur diri
Berjajar membentuk barisan
Tak terhiasi oleh kembang setaman
Dan tanpa lukisan sebagai hiasan
Kuburan tempat orang mati
Bukan tempat mencari rizqi
Dan bukan pula untuk menguji diri
Orang - orang yang tak tau diri
Karna kuburan bukan tempat setan
Bukan pula tempat pemujaan
Apalagi tempat untuk bermesraan
Duduk diatas nisan berduaan
Kuburan tempat peristirahatan
Untuk menjelang masa depan
Kehidupan diatas awan
Yang penuh kedamaian
Kuburan juga bukan tempat orang hilang tujuan
Dalam kehidupan yang melelahkan
Yang gontai jalani ini penuh riskan
Manusia yang cuma malas - malasan
Kuburan bukan untuk mengakhiri
Bentukan kegagalan manusia berdiri
Sakralnya kuburan untuk berdiri
Yang coba tuk mengukur diri
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Kenangan adalah gambaran lalu
Tapi hanya gambaran yang semu
Menyatu dalam memori bisu
Kenangan yang tertutup oleh waktu
Hilang ingatan hilang pula kenangan
Kenangan hilang bukan hilang ingatan
Gila pun kan hilangkan kenangan
Dan mati untuk membuang kenangan
Apa sebenarnya kenangan itu?
Yang selalu ada dalam diri kita
Takkan pernah kita kan jemu
Mengulang semua bentuk kenangan yang ada
Bekerja untuk terus mengingat
Tanpa ada yang mengikat
Otak pun kadang terasa penat
Kala kenangan datang tersurat
Buruk dan jelek, gelap dan hitam
Merupakan wujud dari memori kehidupan
Yang terfokus oleh lensa mata terpejam
Melukiskan gambaran semu perjalanan
Tercurah lewat rasa sebuah kenangan
Terbuai diri dalam lukisan angan
Menembus putaran waktu yang panjang
Hanya tuk kenangan yang kan terbuang
Tapi hanya gambaran yang semu
Menyatu dalam memori bisu
Kenangan yang tertutup oleh waktu
Hilang ingatan hilang pula kenangan
Kenangan hilang bukan hilang ingatan
Gila pun kan hilangkan kenangan
Dan mati untuk membuang kenangan
Apa sebenarnya kenangan itu?
Yang selalu ada dalam diri kita
Takkan pernah kita kan jemu
Mengulang semua bentuk kenangan yang ada
Bekerja untuk terus mengingat
Tanpa ada yang mengikat
Otak pun kadang terasa penat
Kala kenangan datang tersurat
Buruk dan jelek, gelap dan hitam
Merupakan wujud dari memori kehidupan
Yang terfokus oleh lensa mata terpejam
Melukiskan gambaran semu perjalanan
Tercurah lewat rasa sebuah kenangan
Terbuai diri dalam lukisan angan
Menembus putaran waktu yang panjang
Hanya tuk kenangan yang kan terbuang
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Sendiri dalam sepi
Duduk melamun tanpa bunyi
Mata menatap tanpa henti
Tapi masih begitu sunyi
Bertemankan meja dan kursi
Mendengar dentuman menari
Dari jam dinding yang berotasi
Waktu berjalan tanpa henti
Tak terisi ruang sepi
Dengan alunan mulut bernyanyi
Hampa diri terus menanti
Berpacu bisu yang tersembunyi
Coba tuk ruang terisi
Manusia - manusia yang berlari
Masuk ruang tanpa permisi
Tuk sekedar menemani
Biar diri tak terperi
Dalam sunyi ruang sepi
Yang tampak asri tak berseri
Dipenuhi benda materi
Ah..., hilanglah sepi ini
Bergantikan seri dihati
Tapi ternyata hanya mimpi
Ruang belum terisi dan masih sepi
Duduk melamun tanpa bunyi
Mata menatap tanpa henti
Tapi masih begitu sunyi
Bertemankan meja dan kursi
Mendengar dentuman menari
Dari jam dinding yang berotasi
Waktu berjalan tanpa henti
Tak terisi ruang sepi
Dengan alunan mulut bernyanyi
Hampa diri terus menanti
Berpacu bisu yang tersembunyi
Coba tuk ruang terisi
Manusia - manusia yang berlari
Masuk ruang tanpa permisi
Tuk sekedar menemani
Biar diri tak terperi
Dalam sunyi ruang sepi
Yang tampak asri tak berseri
Dipenuhi benda materi
Ah..., hilanglah sepi ini
Bergantikan seri dihati
Tapi ternyata hanya mimpi
Ruang belum terisi dan masih sepi
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Galau hati penuh pikiran bergemuruh
Tangispun tak terelakkan
Raga jiwa dalam diri serasa runtuh
Yang kini tlah engkau tinggalkan
Lemas semua persendian tulangku
Dan hanya duduk diam terpaku
Tanpa bisa untuk bibir berseru
Karna rasa dirundung duka lelayu
Dirimu yang teramat kucinta
Kenapa engkau tlah tiada
Menyisakan goresan lara didada
Jauh kini tanpa terjangkau mata
Tapi tetap diri mencari...
Tempat ragamu tersembunyi
Hari yang ku lewati kini
Hanya tekuni tuk mencari
Sesal yang meraja dalam hati
Penuh kelabu tertutup debu
Tak bisa temukan kubur yang terkunci
Daya dan upaya tlah coba mencarimu
Kini diri hanya berharap.....
Bertemu engkau di surga
Tersisa gelap mendekap
Sesal tak bisa tabur bunga
Tangispun tak terelakkan
Raga jiwa dalam diri serasa runtuh
Yang kini tlah engkau tinggalkan
Lemas semua persendian tulangku
Dan hanya duduk diam terpaku
Tanpa bisa untuk bibir berseru
Karna rasa dirundung duka lelayu
Dirimu yang teramat kucinta
Kenapa engkau tlah tiada
Menyisakan goresan lara didada
Jauh kini tanpa terjangkau mata
Tapi tetap diri mencari...
Tempat ragamu tersembunyi
Hari yang ku lewati kini
Hanya tekuni tuk mencari
Sesal yang meraja dalam hati
Penuh kelabu tertutup debu
Tak bisa temukan kubur yang terkunci
Daya dan upaya tlah coba mencarimu
Kini diri hanya berharap.....
Bertemu engkau di surga
Tersisa gelap mendekap
Sesal tak bisa tabur bunga
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Terlahir tanpa cacat
Menjerit penuh kaget
Dengan wajah pucat
Coba tuk hidup walau penuh hujat
Aku... memang hanya aku...
Merangkak perlahan tatihan
Yang tak tau arah tuju
Terbawa dalam peluk gendongan
Menjalani hari demi hari terlewati
Besar tubuh terisi gumpalan daging
Tanpa henti jalani kosong dan sunyi
Yang tertuang dalam jam dinding
Aku..., bersifat layaknya aku...
Terdoktrin komunitas masyarakat
Membawa tanpa arah tuju
Hingga dalam hati terasa mengikat
Aku..., ya..., hanya aku...
Aku... bukan kau...!!!
Tapi tetap aku...
Dan memang aku...
Diterima dan tidaknya aku...
Hanya beginilah wujudku...
Sekarang dan selamanya tetap aku...
Aku... dan aku...!
Menjerit penuh kaget
Dengan wajah pucat
Coba tuk hidup walau penuh hujat
Aku... memang hanya aku...
Merangkak perlahan tatihan
Yang tak tau arah tuju
Terbawa dalam peluk gendongan
Menjalani hari demi hari terlewati
Besar tubuh terisi gumpalan daging
Tanpa henti jalani kosong dan sunyi
Yang tertuang dalam jam dinding
Aku..., bersifat layaknya aku...
Terdoktrin komunitas masyarakat
Membawa tanpa arah tuju
Hingga dalam hati terasa mengikat
Aku..., ya..., hanya aku...
Aku... bukan kau...!!!
Tapi tetap aku...
Dan memang aku...
Diterima dan tidaknya aku...
Hanya beginilah wujudku...
Sekarang dan selamanya tetap aku...
Aku... dan aku...!
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Terpejam mata dalam malam
Membuka diri dalam kelam
Pekat lelah yang mengeram
Merajut gambaran penuh bungkam
Terkulai tubuh dalam kamar
Nyaring penuh nada dengkur
Yang tak henti berkoar
Lantai kasur beralaskan tikar
Tenang nikmati perjalanan maya
Yang tak bisa terjadi saat datang mentari
Bantal jadi sandaran kepala
Dalam bentukan diri yang terselimuti
Semua bisa terjadi saat tidur
Hal yang semula belum terjadi
Walau itu hanya semu yang terbongkar
Tak tersudahi akan pergi
Beristirahat dalam dekapan tidur
Pulihkan raga jiwa penuh depresi
Dengan dongeng malam yang berikrar
Tampakkan mimpi tanpa janji
Tidur yang lelap....
Merajai malam yang gelap
Tanpa ada mata penuh tatap
Dan mulut yang bercakap
Membuka diri dalam kelam
Pekat lelah yang mengeram
Merajut gambaran penuh bungkam
Terkulai tubuh dalam kamar
Nyaring penuh nada dengkur
Yang tak henti berkoar
Lantai kasur beralaskan tikar
Tenang nikmati perjalanan maya
Yang tak bisa terjadi saat datang mentari
Bantal jadi sandaran kepala
Dalam bentukan diri yang terselimuti
Semua bisa terjadi saat tidur
Hal yang semula belum terjadi
Walau itu hanya semu yang terbongkar
Tak tersudahi akan pergi
Beristirahat dalam dekapan tidur
Pulihkan raga jiwa penuh depresi
Dengan dongeng malam yang berikrar
Tampakkan mimpi tanpa janji
Tidur yang lelap....
Merajai malam yang gelap
Tanpa ada mata penuh tatap
Dan mulut yang bercakap
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Berjalan perlahan tapi pasti
Jalan dengan putaran penuh rotasi
Berpindah dari angka satu sampai dua belas
Terbagi tiga jarum penuh ruas
Detik demi detik terlewati
Menit dan menit terbagi
Jam demi jam terlampoi
Hingga berganti dengan hari
Kau jadwal waktu dan hari
Tanpa terasa jemu terus mengisi
Petang dan pagi tanpa henti
Terus nampak detak rotasi bumi
Tak terasa kau pun penambah umur
Dengan sekian lama kau terus mengukur
Rambut dikepala yang terus tercukur
Hingga diri harus mati terkubur
Tapi kau takkan lekang
Laju waktu memang berbeda
Kau terus menjelang menentang
Butiran - butiran waktu yang menganga
Biaskan untaian perguliran waktu
Waktu sekecil apapun pasti berarti
Memberikan diri satu kesempatan tanpa jemu
Hanya waktu yang bisa menyudahi dan mengakhiri
Jalan dengan putaran penuh rotasi
Berpindah dari angka satu sampai dua belas
Terbagi tiga jarum penuh ruas
Detik demi detik terlewati
Menit dan menit terbagi
Jam demi jam terlampoi
Hingga berganti dengan hari
Kau jadwal waktu dan hari
Tanpa terasa jemu terus mengisi
Petang dan pagi tanpa henti
Terus nampak detak rotasi bumi
Tak terasa kau pun penambah umur
Dengan sekian lama kau terus mengukur
Rambut dikepala yang terus tercukur
Hingga diri harus mati terkubur
Tapi kau takkan lekang
Laju waktu memang berbeda
Kau terus menjelang menentang
Butiran - butiran waktu yang menganga
Biaskan untaian perguliran waktu
Waktu sekecil apapun pasti berarti
Memberikan diri satu kesempatan tanpa jemu
Hanya waktu yang bisa menyudahi dan mengakhiri
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Kembali terkulai dalam isak tangis
Akan deruan hidup yang teramat sadis
Serasa diri tak bisa menepis
Dan terus menyisakan perih yang tak tertepis
Dalam setiap golakan perjalanan takdir
Hanyakan menyisakan gumpalan ikrar
Yang berisikan duka tak berakhir
Oh..., beginikah yang terukir?!?!
Kenapa diriku hanya merasakan getir
Dan tiada pernah merasakan rona bahagia
Diripun coba tuk terus berzikir...
Tergilas dalam hati yang teramat sengsara
Andaikan hidup ini pun berakhir
Ku kan merasa penuh syukur
Karna mungkin berakhir pula takdir yang perih
Terlepas pula dari dalam jeratan penuh rintih
Oh..., dunia kenapa kau tempatkan diri...?
Dalam megahnya panggung ciptaan penuh duka
Diantara sandiwara yang diri perani
Tiada tersirat hasrat kan bahagia...?
Akan deruan hidup yang teramat sadis
Serasa diri tak bisa menepis
Dan terus menyisakan perih yang tak tertepis
Dalam setiap golakan perjalanan takdir
Hanyakan menyisakan gumpalan ikrar
Yang berisikan duka tak berakhir
Oh..., beginikah yang terukir?!?!
Kenapa diriku hanya merasakan getir
Dan tiada pernah merasakan rona bahagia
Diripun coba tuk terus berzikir...
Tergilas dalam hati yang teramat sengsara
Andaikan hidup ini pun berakhir
Ku kan merasa penuh syukur
Karna mungkin berakhir pula takdir yang perih
Terlepas pula dari dalam jeratan penuh rintih
Oh..., dunia kenapa kau tempatkan diri...?
Dalam megahnya panggung ciptaan penuh duka
Diantara sandiwara yang diri perani
Tiada tersirat hasrat kan bahagia...?
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Raga adalah sebuah bentuk
Yang terisi sebentuk jiwa
Tanpa pernah kan coba menguak
Suatu raga jiwa yang berbentuk manusia
Jiwa yang mengobsesikan rasa
Lewat kata bertakjub cinta
Mengalun menggema dalam raga
Tapi tak mengerti makna cinta
Bergerak raga karna rasa
Ingin memulai dan menyudahi
Gelembung - gelembung bergelora
Jalani kehidupan duniawi
Saat jiwa terlepas pergi
Bentuk raga kembali diam....
Diam... untuk terbungkus tanpa isi
Kain putih seragam makam
Menyisakan kenangan yang tak terbuang
Kadang penuh iba dan gelak tawa
Kepergian yang pasti akan kita jelang
Dan kapan menyinggahi kita untuk terbawa
Pergi... dan pasti kan pergi
Menjulang tinggi ke nirwana tak terketahui
Meninggalkan hal - hal duniawi
Dan bertukar raga yang bermanusiawi
Yang terisi sebentuk jiwa
Tanpa pernah kan coba menguak
Suatu raga jiwa yang berbentuk manusia
Jiwa yang mengobsesikan rasa
Lewat kata bertakjub cinta
Mengalun menggema dalam raga
Tapi tak mengerti makna cinta
Bergerak raga karna rasa
Ingin memulai dan menyudahi
Gelembung - gelembung bergelora
Jalani kehidupan duniawi
Saat jiwa terlepas pergi
Bentuk raga kembali diam....
Diam... untuk terbungkus tanpa isi
Kain putih seragam makam
Menyisakan kenangan yang tak terbuang
Kadang penuh iba dan gelak tawa
Kepergian yang pasti akan kita jelang
Dan kapan menyinggahi kita untuk terbawa
Pergi... dan pasti kan pergi
Menjulang tinggi ke nirwana tak terketahui
Meninggalkan hal - hal duniawi
Dan bertukar raga yang bermanusiawi
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Deru jantung diri berpacu kencang
Menderu galau tak terasa tenang
Berkomat - kamit mulut tuk terucap
Kala mendengar kabar yang mereka ucap
Bahwa kini engkau tlah tiada...
Untuk merangkai hari bersama
Runtuh diri bersimbah duka
Dan tak bisa menahan jatuh air mata
Hati merasa tak terima...
Atas apa yang sedang teralami
Oh... Tuhan mengapa begitu cepatnya....
Dia harus berpulang pada ilahi...?!
Kini engkau telah terkafani
Bersiap tuk menuju peraduan terakhir
Tangis isak tak mengiklaskan engkau pergi
Tapi tetap kau tak terbangunkan
Diri kini menyesalkan...?
Kenapa diri tak diberi kesempatan
Untuk mengantar engkau berperaduan
Oh... waktu tanpa kesempatan
Diri berucapkan kata - kata...
"Manakah keadilan bagi hamba..."
"Dimanakah kesempatan waktu hamba..."
"Oh... Tuhan tiadakah diri berkesempatan...."
Menderu galau tak terasa tenang
Berkomat - kamit mulut tuk terucap
Kala mendengar kabar yang mereka ucap
Bahwa kini engkau tlah tiada...
Untuk merangkai hari bersama
Runtuh diri bersimbah duka
Dan tak bisa menahan jatuh air mata
Hati merasa tak terima...
Atas apa yang sedang teralami
Oh... Tuhan mengapa begitu cepatnya....
Dia harus berpulang pada ilahi...?!
Kini engkau telah terkafani
Bersiap tuk menuju peraduan terakhir
Tangis isak tak mengiklaskan engkau pergi
Tapi tetap kau tak terbangunkan
Diri kini menyesalkan...?
Kenapa diri tak diberi kesempatan
Untuk mengantar engkau berperaduan
Oh... waktu tanpa kesempatan
Diri berucapkan kata - kata...
"Manakah keadilan bagi hamba..."
"Dimanakah kesempatan waktu hamba..."
"Oh... Tuhan tiadakah diri berkesempatan...."
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Terbangun pada pagi yang dingin
Berat mata masih ingin terpejam
Subuh menggema penuh adzan
Tapi diri masih meringkuk mendekam
Jam lima lebih tiga puluh menit
Coba tuk berpacu mengejar waktu
Terdengar seruan yang menjerit
"Kareta akan segera berangkat melaju"
Bergegas menuju loket
Berebut lembaran - lembaran tiket
"Ahhh..." lega terasa duduk tak terlambat
Dengan nafas penuh sendat
Riuh gemuruh penumpang berlalu lalang
Berteriak - teriak menjajakan makanan
Mengais rejeki demi uang
Kereta ekonomi kini menempuh perjalanan
Tempat demi tempat terlewati
Stasiun demi stasiun tersinggahi
Terlihat pemandangan yang alami
Diri menatap penuh seri
Terdengar benturan roda dengan rel kereta
"Ah... sampai..."asing stasiun lempuyangan
Hanya mata yang meraja tanpa kata
Bertemu dengan sahabat terucap kata "kangen"
Berat mata masih ingin terpejam
Subuh menggema penuh adzan
Tapi diri masih meringkuk mendekam
Jam lima lebih tiga puluh menit
Coba tuk berpacu mengejar waktu
Terdengar seruan yang menjerit
"Kareta akan segera berangkat melaju"
Bergegas menuju loket
Berebut lembaran - lembaran tiket
"Ahhh..." lega terasa duduk tak terlambat
Dengan nafas penuh sendat
Riuh gemuruh penumpang berlalu lalang
Berteriak - teriak menjajakan makanan
Mengais rejeki demi uang
Kereta ekonomi kini menempuh perjalanan
Tempat demi tempat terlewati
Stasiun demi stasiun tersinggahi
Terlihat pemandangan yang alami
Diri menatap penuh seri
Terdengar benturan roda dengan rel kereta
"Ah... sampai..."asing stasiun lempuyangan
Hanya mata yang meraja tanpa kata
Bertemu dengan sahabat terucap kata "kangen"
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Pecah.... prang..ng..ng...?!?!
Berserakan terbuang
Penuh serpihan berkubang
Dalam tatanan waktu dan ruang
Mungkin cukup menuang
Ataukah akan mendulang
Adanya pecahan hati seseorang
Kadang mulut meraung....
Kini coba tuk menyapu ulang
Hamparang hati yang tertendang
Rasa kini tlah hilang...
Tanpa sedikit terkenang
Tekuni coba menyambung
Jalani kata hati nan melambung
Untuk dapat terus tersambung
Karna temukan pecahan tanpa berkabung
Terbungkus pecahan hati dengan selendang
Tetapkan diri tuk terus tetap berjuang
Jalani hidup penuh ulang
Dan takkan mengundang bencana mendatang
Cinta yang kini kau buang
Tak akan terambil ulang
Hingga ajal menjelang
Karna kau dihatiku tlah hilang
Berserakan terbuang
Penuh serpihan berkubang
Dalam tatanan waktu dan ruang
Mungkin cukup menuang
Ataukah akan mendulang
Adanya pecahan hati seseorang
Kadang mulut meraung....
Kini coba tuk menyapu ulang
Hamparang hati yang tertendang
Rasa kini tlah hilang...
Tanpa sedikit terkenang
Tekuni coba menyambung
Jalani kata hati nan melambung
Untuk dapat terus tersambung
Karna temukan pecahan tanpa berkabung
Terbungkus pecahan hati dengan selendang
Tetapkan diri tuk terus tetap berjuang
Jalani hidup penuh ulang
Dan takkan mengundang bencana mendatang
Cinta yang kini kau buang
Tak akan terambil ulang
Hingga ajal menjelang
Karna kau dihatiku tlah hilang
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Berderai....., berderu.....
Datang menyerbu menggebu
Titik tetesan terjatuh kelu
Menghambur tanpa jemu
Tanpa suatu arah tuju
Untuk tetap saling beradu
Mengunci dentuman kelabu
Tetap membuat syair sendu
Terlantun dalam suaramu
Gemericik membentuk tirai semu
Datang untuk menyapu
Butiran - butiran warna semu
Mengisi wadah untuk terisi
Harapan hidup yang pasti
Air Mu sungguh memberi arti
Tanpa harus merasa mati
Kau mengoyak panasnya mentari
Segar air Mu terbawa bernyanyi
Bersama anak kecil turut berlari
Dan hiasi hati penuh tari
Hujan... tetaplah kau jadi hujan
Yang lengkapi kehidupan
Segarnya air yang kau teteskan
Membasuh lusuh diri bersabun
Datang menyerbu menggebu
Titik tetesan terjatuh kelu
Menghambur tanpa jemu
Tanpa suatu arah tuju
Untuk tetap saling beradu
Mengunci dentuman kelabu
Tetap membuat syair sendu
Terlantun dalam suaramu
Gemericik membentuk tirai semu
Datang untuk menyapu
Butiran - butiran warna semu
Mengisi wadah untuk terisi
Harapan hidup yang pasti
Air Mu sungguh memberi arti
Tanpa harus merasa mati
Kau mengoyak panasnya mentari
Segar air Mu terbawa bernyanyi
Bersama anak kecil turut berlari
Dan hiasi hati penuh tari
Hujan... tetaplah kau jadi hujan
Yang lengkapi kehidupan
Segarnya air yang kau teteskan
Membasuh lusuh diri bersabun
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Kedukaan slalu menghampiri diri
Menghujam tak terbendung bagai hujan
Terus menusuk - nusuk pertapaan hati
Tak terasa hingga termakan waktu berkepanjangan
Kesepian tak luput ikut merengkuhku
Tak lekang dalam keramaian
Menggerogoti bibir tak bisa tersenyum lucu
Bertabur bercampur baur tak berkesudahan
Walau begitu jalan jiwa tlah tertorehkan
Tuk melaju terus tanpa putus
Menggapai tinggi kehidupan
Yang indah dan terbaik tuk memupus
Kerinduan akan kebahagiaan slalu kunanti
Dan slalu kucari keberadaannya
Agar menghilang salah satu duka ini
Biar itu hanya sebentar saja
Ingin ku memeluk kehangatan keramaian
Biar memudar bekunya sepi
Terpecah ramai yang bersantun
Membuat nyaman kehidupanku lagi
Selama ini ku terus berjalan dengan harapan
Ada kedamaian yang benar terasa
Biar ku mendekam tak terbangunkan tanpa kepalsuan
Berselimutkan kebahagiaan bersama
Dan masih kucoba terus tersenyum
Walau tak sanggup ku tersenyum
Berlatih menjelang bahagia biar tak kaku
Karna ku yakin pasti ada kebahagiaan dan senyum manis untukku
Menghujam tak terbendung bagai hujan
Terus menusuk - nusuk pertapaan hati
Tak terasa hingga termakan waktu berkepanjangan
Kesepian tak luput ikut merengkuhku
Tak lekang dalam keramaian
Menggerogoti bibir tak bisa tersenyum lucu
Bertabur bercampur baur tak berkesudahan
Walau begitu jalan jiwa tlah tertorehkan
Tuk melaju terus tanpa putus
Menggapai tinggi kehidupan
Yang indah dan terbaik tuk memupus
Kerinduan akan kebahagiaan slalu kunanti
Dan slalu kucari keberadaannya
Agar menghilang salah satu duka ini
Biar itu hanya sebentar saja
Ingin ku memeluk kehangatan keramaian
Biar memudar bekunya sepi
Terpecah ramai yang bersantun
Membuat nyaman kehidupanku lagi
Selama ini ku terus berjalan dengan harapan
Ada kedamaian yang benar terasa
Biar ku mendekam tak terbangunkan tanpa kepalsuan
Berselimutkan kebahagiaan bersama
Dan masih kucoba terus tersenyum
Walau tak sanggup ku tersenyum
Berlatih menjelang bahagia biar tak kaku
Karna ku yakin pasti ada kebahagiaan dan senyum manis untukku
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Berharap…….. Untuk mengucap
Tak tau rasa bibir berkecap
Mengurai makna kata
Dalam berbicara kepadanya
Mungkin dia tau mungkin juga tidak
Apa yang menjadi kehendak
Berkemelut dalam hati
Yang mulai berhenti berdetak tuk mati
Tersampaikan dalam lidah
Menggores bibir kering jadi pecah
Tenggorokan berat dengan kata
Yang penuh dengan dahak dosa
Kini tubuh mulai terasa dingin
Dingin bagai bermandikan air dingin
Dan terasa sakit, sakit sekali……..
Serasa mau lepas setiap sendi-sendi
Oh….. Betapa susahnya aku mengucap
Sebuah kata yang memeng harus ku ucap
Menjelang semua menjadi gelap
Dan akan menjadi sebuah ratap
Berlinang air mata hangat
Dari yang meratapi aku mangkat
Kembali ketanah lembab
Dan singgah dineraka biadab
"Lailahailallah muhamadarosulullah"
Mengapa harus terpatah-patah
Dan harus dipapah untuk mengucapkannya
Dibisikkan dalam kalbu jiwa
Apa karna dosaku terlampau banyak……?
Atau karna ku tak biasa bersua seperti itu
Melafalkan engkaulah tuhanku ya allah
Dan muhammadlah rosulku yang patut ku sembah
Ya Allah segeralah tutup kedua mataku
Yang tak dapat melihat hikmahmu
Ya Allah segeralah bungkam mulutku
Yang selalu menentangperintah-perintahmu
Sungguh aku tak tahan lagi
Dengan sakarotil maut darimu ini
Bakarlah aku dengan api nerakamu
Dan sucikan jiwaku lagi dari dosa-dosaku
"Innalillahi roji’un"……………..
Allahu akbar……..
Tak tau rasa bibir berkecap
Mengurai makna kata
Dalam berbicara kepadanya
Mungkin dia tau mungkin juga tidak
Apa yang menjadi kehendak
Berkemelut dalam hati
Yang mulai berhenti berdetak tuk mati
Tersampaikan dalam lidah
Menggores bibir kering jadi pecah
Tenggorokan berat dengan kata
Yang penuh dengan dahak dosa
Kini tubuh mulai terasa dingin
Dingin bagai bermandikan air dingin
Dan terasa sakit, sakit sekali……..
Serasa mau lepas setiap sendi-sendi
Oh….. Betapa susahnya aku mengucap
Sebuah kata yang memeng harus ku ucap
Menjelang semua menjadi gelap
Dan akan menjadi sebuah ratap
Berlinang air mata hangat
Dari yang meratapi aku mangkat
Kembali ketanah lembab
Dan singgah dineraka biadab
"Lailahailallah muhamadarosulullah"
Mengapa harus terpatah-patah
Dan harus dipapah untuk mengucapkannya
Dibisikkan dalam kalbu jiwa
Apa karna dosaku terlampau banyak……?
Atau karna ku tak biasa bersua seperti itu
Melafalkan engkaulah tuhanku ya allah
Dan muhammadlah rosulku yang patut ku sembah
Ya Allah segeralah tutup kedua mataku
Yang tak dapat melihat hikmahmu
Ya Allah segeralah bungkam mulutku
Yang selalu menentangperintah-perintahmu
Sungguh aku tak tahan lagi
Dengan sakarotil maut darimu ini
Bakarlah aku dengan api nerakamu
Dan sucikan jiwaku lagi dari dosa-dosaku
"Innalillahi roji’un"……………..
Allahu akbar……..
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Sendiri…….seakan tak mau pergi
Walau semua kini berdendang menari
Yang kurasakan telinga jadi tuli
Hampa menerpa menuai sepi
Banyak teman………?
Banyak sahabat………?
Banyak kerabat……..?
Mengikuti bagai bayangan
Tapi entah kenapa…….?
Duniaku dan dunia mereka rasa berbeda
Tampak tawa
Tampak gembira
Tapi kenapa aku tidak
Kenapa kepala tak mau tegak
Tersungkur menunduk
Entah apa yang harus ku kuak
Sepi…..dan masih sendiri…
Masih ku jalani
Walau tak tau pasti
Kapan semuanya menjadi pasti
Mungkin hati ini masih siri
Jiwa yang terpaut benci
Mengoyak menjadi - jadi
Dalam sebuah misteri diri
Aaaahhhh…..apa aku yang salah…?
Dan apa yang salah dalam diriku…..?
Percuma saja aku mengeluh
Kini apa yang harus ku pacu?
Mengorek dunia ini
Mencari dan mencari
Segala bentuk nurani
Yang tak merasa sepi
Ingin tertawa lagi bersama mereka
Ingin menorehkan bahagia
Memberikan kenangan indah dijiwa
Tak ada tangis tersisa
Tak ingin sendiri lagi
Benar - benar tak ingin lagi
Duka bergantilah kini
Ku rasa muak dengan mu kini
Bosan dengan kemurungan
Jenuh dengan sendiri dijalan
Penat dengan keluhan - keluhan
Yang membuatku merasakan kesedihan
Esok hari saat mentari bersinar
Akan kuganti lembar demi lembar
Coretan tak menyenangkan biar berbinar
Menyeringai senyum dalam bibir
Semuanya bantu aku kembali
Sambutlah jemariku ini
Rengkuh aku bersama menari
Menyerukan dendang menyanyi
Ku ingin bersama kalian
Walau bukan tuk selamanya
Tapi ku ingin memulai dari kalian
Lembar baru dalam jiwa
Maukah kalian….?
Mau tuk bantu aku…
Menapak dunia baru
Bersama kalian
Dan pasti ku janji
Kan ku ukir senyum yang indah buat semua
Biar penuh warna pelangi
Yang membentang sepanjang masa
Walau semua kini berdendang menari
Yang kurasakan telinga jadi tuli
Hampa menerpa menuai sepi
Banyak teman………?
Banyak sahabat………?
Banyak kerabat……..?
Mengikuti bagai bayangan
Tapi entah kenapa…….?
Duniaku dan dunia mereka rasa berbeda
Tampak tawa
Tampak gembira
Tapi kenapa aku tidak
Kenapa kepala tak mau tegak
Tersungkur menunduk
Entah apa yang harus ku kuak
Sepi…..dan masih sendiri…
Masih ku jalani
Walau tak tau pasti
Kapan semuanya menjadi pasti
Mungkin hati ini masih siri
Jiwa yang terpaut benci
Mengoyak menjadi - jadi
Dalam sebuah misteri diri
Aaaahhhh…..apa aku yang salah…?
Dan apa yang salah dalam diriku…..?
Percuma saja aku mengeluh
Kini apa yang harus ku pacu?
Mengorek dunia ini
Mencari dan mencari
Segala bentuk nurani
Yang tak merasa sepi
Ingin tertawa lagi bersama mereka
Ingin menorehkan bahagia
Memberikan kenangan indah dijiwa
Tak ada tangis tersisa
Tak ingin sendiri lagi
Benar - benar tak ingin lagi
Duka bergantilah kini
Ku rasa muak dengan mu kini
Bosan dengan kemurungan
Jenuh dengan sendiri dijalan
Penat dengan keluhan - keluhan
Yang membuatku merasakan kesedihan
Esok hari saat mentari bersinar
Akan kuganti lembar demi lembar
Coretan tak menyenangkan biar berbinar
Menyeringai senyum dalam bibir
Semuanya bantu aku kembali
Sambutlah jemariku ini
Rengkuh aku bersama menari
Menyerukan dendang menyanyi
Ku ingin bersama kalian
Walau bukan tuk selamanya
Tapi ku ingin memulai dari kalian
Lembar baru dalam jiwa
Maukah kalian….?
Mau tuk bantu aku…
Menapak dunia baru
Bersama kalian
Dan pasti ku janji
Kan ku ukir senyum yang indah buat semua
Biar penuh warna pelangi
Yang membentang sepanjang masa
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Semua tercipta
Semua tercapai
Semua tergapai
Dan semua menganga
Saat semua terbaca
Saat semua terbuka
Saat semua menyapa
Dan saat semua berkata
Semua jadi ramai
Semua jadi gontai
Semua jadi berapi
Semua jadi meratapi
Kini coba sendiri
Kini coba tak bersuara
Kini coba tak ada makna
Dan kini coba sembunyi
Apa mereka tau…?
Apa mereka mau…?
Apa mereka bisa…?
Apa mereka akan…?
Meskipun tak mengerti
Meskipun tak menyadari
Meskipun tak mengakhiri
Dan meskipun tak berarti
Segala sesuatu
Segala menyatu
Segala terburu
Segala tercumbu
Aku hanya ingin sendiri
Aku hanya ingin menyepi
Aku hanya ingin tak bernyanyi
Dan aku hanya ingin menyudahi
Semua yang tlah berbunyi
Semua yang tlah menaburi
Semua yang tlah menyirami
Dan semua yang tlah menjadi api
Lelah……..
Lelah aku menengadah
Lelah aku berwajah
Lelah aku bersumpah
Semua tercapai
Semua tergapai
Dan semua menganga
Saat semua terbaca
Saat semua terbuka
Saat semua menyapa
Dan saat semua berkata
Semua jadi ramai
Semua jadi gontai
Semua jadi berapi
Semua jadi meratapi
Kini coba sendiri
Kini coba tak bersuara
Kini coba tak ada makna
Dan kini coba sembunyi
Apa mereka tau…?
Apa mereka mau…?
Apa mereka bisa…?
Apa mereka akan…?
Meskipun tak mengerti
Meskipun tak menyadari
Meskipun tak mengakhiri
Dan meskipun tak berarti
Segala sesuatu
Segala menyatu
Segala terburu
Segala tercumbu
Aku hanya ingin sendiri
Aku hanya ingin menyepi
Aku hanya ingin tak bernyanyi
Dan aku hanya ingin menyudahi
Semua yang tlah berbunyi
Semua yang tlah menaburi
Semua yang tlah menyirami
Dan semua yang tlah menjadi api
Lelah……..
Lelah aku menengadah
Lelah aku berwajah
Lelah aku bersumpah
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Dikala ku sedih selalu sendiri
Dikala ku susah selalu sendiri
Dikala ku sengsara selalu sendiri
Dikala ku berduka selalu sendiri
Semua serasa menjauh dariku
Semua serasa menghilang dariku
Semua serasa berpaling dariku
Semua serasa membuang diriku
Dikala ku bahagia selalu ada
Dikala ku senang selalu ada
Dikala ku suka selalu ada
Dikala ku riang selalu ada
Semua serasa menyenangkan diriku
Semua serasa mengelukan diriku
Semua serasa menyertai diriku
Semua serasa mendukung diriku
Adakah keiklasan dalam hati
Yang datang tak mengenal henti
Selalu singgah menemani
Tanpa sesuatu yang melukai hati
Adakah yang bisa menghiburku
Disaat susah merajaiku
Adakah mereka teman-temanku
Dimana…dimana harus kucari temanku
Berbagi semua denganku
Mengiris semua problemaku
Membagi semua penatku
Menuangkan keluh kesahku
Adakah…..?????
Adakah satu diantara kalian….???
Datanglah….!!!
Datanglah ketempatku…!!!
Dikala ku susah selalu sendiri
Dikala ku sengsara selalu sendiri
Dikala ku berduka selalu sendiri
Semua serasa menjauh dariku
Semua serasa menghilang dariku
Semua serasa berpaling dariku
Semua serasa membuang diriku
Dikala ku bahagia selalu ada
Dikala ku senang selalu ada
Dikala ku suka selalu ada
Dikala ku riang selalu ada
Semua serasa menyenangkan diriku
Semua serasa mengelukan diriku
Semua serasa menyertai diriku
Semua serasa mendukung diriku
Adakah keiklasan dalam hati
Yang datang tak mengenal henti
Selalu singgah menemani
Tanpa sesuatu yang melukai hati
Adakah yang bisa menghiburku
Disaat susah merajaiku
Adakah mereka teman-temanku
Dimana…dimana harus kucari temanku
Berbagi semua denganku
Mengiris semua problemaku
Membagi semua penatku
Menuangkan keluh kesahku
Adakah…..?????
Adakah satu diantara kalian….???
Datanglah….!!!
Datanglah ketempatku…!!!
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Hari.......
Kenapa engkau selalu berganti.........?
Kenapa engkau tak terpatri.........?
Kenapa engkau harus berlari........?
Kenapa juga engkau bersembunyi.......?
Hari.......
Adakah engkau tak berganti.........?
Adakah engkau terpatri........?
Adakah engkau berdiam diri.........?
Adakah engkau tak selalu bersembunyi.........?
Hari.......
Ku ingin engkau berhenti!
Dan ku ingin engkau coba menikmati
Indahnya waktu pagi, sore, petang dan malam hari
Melihat mentari, bulan, bintang dan pelangi
Hari........
Hei.... Hari......
Tataplah mata ini
Jangan kau selalu berpaling pergi
Dengarlah suara bumi ini
Yang tlah lelah engkau putari
Dan tak pernah engkau singgahi
Hanya berlalu tak tersudahi
Si bumi sudah tua kini
Yang sebentar lagi akan mati
Hari........
Ayolah hari........
Bersantailah disini
Duduk bersebelahan diserambi
Sambil meneguk secangkir kopi
Hari........
Tak maukah enkau mandi
Bersama sang pidadari
Disebuah telaga yang sunyi
Bertaburkan bunga warna-warni
Dan tak maukah engkau meringkuk disini
Berselimutkan selendang pidadari
Menabur indah hayal mimpi
Berbentuk bunga-bunga surgawi
Yang diciptakan malaikat untuk mimpi
Oh..... Hari........
Aku sungguh ingin engkau berhenti
Sesungguhnya aku tlah lelah sekali
Merajut semua penanggalan tubuhmu ini
Yang terus dan terus berganti
Dan aku benar-benar bosan sekali
Melihat dan mendengar namamu terkunci
Tak bisa terganti
Dan terus dan terus terulangi
Sampai semua benar-benar mati
Kenapa engkau selalu berganti.........?
Kenapa engkau tak terpatri.........?
Kenapa engkau harus berlari........?
Kenapa juga engkau bersembunyi.......?
Hari.......
Adakah engkau tak berganti.........?
Adakah engkau terpatri........?
Adakah engkau berdiam diri.........?
Adakah engkau tak selalu bersembunyi.........?
Hari.......
Ku ingin engkau berhenti!
Dan ku ingin engkau coba menikmati
Indahnya waktu pagi, sore, petang dan malam hari
Melihat mentari, bulan, bintang dan pelangi
Hari........
Hei.... Hari......
Tataplah mata ini
Jangan kau selalu berpaling pergi
Dengarlah suara bumi ini
Yang tlah lelah engkau putari
Dan tak pernah engkau singgahi
Hanya berlalu tak tersudahi
Si bumi sudah tua kini
Yang sebentar lagi akan mati
Hari........
Ayolah hari........
Bersantailah disini
Duduk bersebelahan diserambi
Sambil meneguk secangkir kopi
Hari........
Tak maukah enkau mandi
Bersama sang pidadari
Disebuah telaga yang sunyi
Bertaburkan bunga warna-warni
Dan tak maukah engkau meringkuk disini
Berselimutkan selendang pidadari
Menabur indah hayal mimpi
Berbentuk bunga-bunga surgawi
Yang diciptakan malaikat untuk mimpi
Oh..... Hari........
Aku sungguh ingin engkau berhenti
Sesungguhnya aku tlah lelah sekali
Merajut semua penanggalan tubuhmu ini
Yang terus dan terus berganti
Dan aku benar-benar bosan sekali
Melihat dan mendengar namamu terkunci
Tak bisa terganti
Dan terus dan terus terulangi
Sampai semua benar-benar mati
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Lelah seluruh raga
Lemas seluruh jiwa
Lunglai semangat diri
Letih terus begini
Berjalan kesana-kesini
Bercakap disana-disini
Berlari kian kemari
Berjuang tanpa henti
Hanya temukan sendiri
Hanya rasakan sepi
Hanya terhanyut angan-angan kosong
Hanya terbuang sendiri melompong
Ingin kembali...
Ingin berbalik lagi
Ingin mengulang waktu
Ingin sepert waktu dulu
Kapan...?
Dimana...?
Siapa...?
Yang kan menggendongku kembali
Lemas seluruh jiwa
Lunglai semangat diri
Letih terus begini
Berjalan kesana-kesini
Bercakap disana-disini
Berlari kian kemari
Berjuang tanpa henti
Hanya temukan sendiri
Hanya rasakan sepi
Hanya terhanyut angan-angan kosong
Hanya terbuang sendiri melompong
Ingin kembali...
Ingin berbalik lagi
Ingin mengulang waktu
Ingin sepert waktu dulu
Kapan...?
Dimana...?
Siapa...?
Yang kan menggendongku kembali
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Apa yang akan engkau gambarkan...?
Apa yang akan engkau tuangkan...?
Segala sesuatu yang terbenam dalam pikiranmu
Semua yang mendekam dalam benakmu
Yang mengasingkan kenyataan yang ada
Yang menyingkirkan kesenangan dunia
Semua berawal dari maya
Dan diakhiri dengan maya pula
Fiksi yang tak tertuliskan dalam bahasa kata
Grafis yang tak terlukiskan dalam bingkai
Yang ada hanya semu
Yang ada hanya palsu
Tentang apakah...
Tentang siapakah...
Tentang adakah...
Tentang dimanakah...
Apa yang akan engkau tuangkan...?
Segala sesuatu yang terbenam dalam pikiranmu
Semua yang mendekam dalam benakmu
Yang mengasingkan kenyataan yang ada
Yang menyingkirkan kesenangan dunia
Semua berawal dari maya
Dan diakhiri dengan maya pula
Fiksi yang tak tertuliskan dalam bahasa kata
Grafis yang tak terlukiskan dalam bingkai
Yang ada hanya semu
Yang ada hanya palsu
Tentang apakah...
Tentang siapakah...
Tentang adakah...
Tentang dimanakah...
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Semua bergerak sangatlah semakin cepat
Aku hanya berdiri saja dan terus terlambat
Berjalanpun kian terasa sangat lambat
Kian lama kian bertambah usia jadi lanjut
Serasa beralih kebelakang
Tak kuat berbalik menerjang
Arus putaran waktu yang panjang
Berat sangatlah berat aku bertandang
Tak ingin lagi kembali
Kemasa lalu yang suram kini
Kan ku gapai lentera surya pagi
Yang hangat memeluk perlahan diri
Kuatkan hati...
Kuatkan nurani
Kuatkan ragaku ini
Kuatkan langkah diri
Biarlah semua masa lalu terbuang
Biarlah dia tak berkembang
Dalam setiap detak jantung
Begitu buruk dan tak ingin ku kenang
Aku hanya berdiri saja dan terus terlambat
Berjalanpun kian terasa sangat lambat
Kian lama kian bertambah usia jadi lanjut
Serasa beralih kebelakang
Tak kuat berbalik menerjang
Arus putaran waktu yang panjang
Berat sangatlah berat aku bertandang
Tak ingin lagi kembali
Kemasa lalu yang suram kini
Kan ku gapai lentera surya pagi
Yang hangat memeluk perlahan diri
Kuatkan hati...
Kuatkan nurani
Kuatkan ragaku ini
Kuatkan langkah diri
Biarlah semua masa lalu terbuang
Biarlah dia tak berkembang
Dalam setiap detak jantung
Begitu buruk dan tak ingin ku kenang
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Segala daya telah sempurna aku lakukan
Tapi semua daya itu pula yang menghalangi jalan
Tak sanggup lagi kan langkahkan
Lembaran demi lembaran jejak angan
Ingin sekali melantunkan
Lengkingan nada yang tinggi menjulang
Tapi tak kuasa lidah tergenang
Menyuarakan dentuman
Achh... Bagai manakah ini Tuhan...
Berilah secercah jalan
Walau semua jalan penuh guratan
Kan ku rajuti penuh harapan
Kembali berjuang
Kembali mengulang
Kembali berangan
Dan kembali menjulang ke awan
Harapan itu yang masih ada dalam genggaman
Karna engkau Tuhan aku bertahan
Tuk senantiasa merasa damai dan nyaman
Walau jalanMu penuh rintangan
Tapi semua daya itu pula yang menghalangi jalan
Tak sanggup lagi kan langkahkan
Lembaran demi lembaran jejak angan
Ingin sekali melantunkan
Lengkingan nada yang tinggi menjulang
Tapi tak kuasa lidah tergenang
Menyuarakan dentuman
Achh... Bagai manakah ini Tuhan...
Berilah secercah jalan
Walau semua jalan penuh guratan
Kan ku rajuti penuh harapan
Kembali berjuang
Kembali mengulang
Kembali berangan
Dan kembali menjulang ke awan
Harapan itu yang masih ada dalam genggaman
Karna engkau Tuhan aku bertahan
Tuk senantiasa merasa damai dan nyaman
Walau jalanMu penuh rintangan
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Kekasih "SEJATI" takkan pernah "MATI"
Kekasih "SETIA" takkan pernah "SIRNA"
Kekasih "JUJUR" takkan pernah "HANCUR"
Kekasih "TULUS" takkan pernah "PUTUS"
Kekasih "SAYANG" takkan pernah "HILANG"
Kekasih "RINDU" takkan pernah "RAGU"
Aku punya sepasang mata
Tapi tak dapat melihatmu setiap masa
Aku punya sepasang telinga
Tapi nggak bisa mendengar suaramu setiap ketika
Tapi aku punya satu hati
Yang mengingatmu sampai mati
Hidup berkesimbung penuh dengan galau
Perasaan bingung peluh riuh risau
Adakah rindunya untukku
Adakah perasaan kasih cintanya padaku
Mungkinkah ku hidup hanya berteman bayangan semu
Ku yakin dia tau
Ku pastikan dia hanya untukku
Terlalukah cintaku?
Terlalukah rinduku?
Terlalukah sayangku?
Jangan kau tanya mengapa
Karna ku pun tak tau
Beribu malam ku tangisi
Hanya mengalunkan sepi yang menyiksa hati
Bagaimana kini ku harus bawa diri
"KASIH" kau bawa cintaku pergi
Embun pagi membasahi badan...!
Embun malam membasahi hati...!
Rindu pagi bisa kupendam...!
Rindu malam...ku bawa mimpi...!
Hanya untuk mas andree sayang...
*Tulisan Almarhumah Pacarku Sebelum Dia Dipanggil Sang Ilahi Allah SWT*
.INDRI NISA SALSABILA PAMUNGKAS.
Kekasih "SETIA" takkan pernah "SIRNA"
Kekasih "JUJUR" takkan pernah "HANCUR"
Kekasih "TULUS" takkan pernah "PUTUS"
Kekasih "SAYANG" takkan pernah "HILANG"
Kekasih "RINDU" takkan pernah "RAGU"
Aku punya sepasang mata
Tapi tak dapat melihatmu setiap masa
Aku punya sepasang telinga
Tapi nggak bisa mendengar suaramu setiap ketika
Tapi aku punya satu hati
Yang mengingatmu sampai mati
Hidup berkesimbung penuh dengan galau
Perasaan bingung peluh riuh risau
Adakah rindunya untukku
Adakah perasaan kasih cintanya padaku
Mungkinkah ku hidup hanya berteman bayangan semu
Ku yakin dia tau
Ku pastikan dia hanya untukku
Terlalukah cintaku?
Terlalukah rinduku?
Terlalukah sayangku?
Jangan kau tanya mengapa
Karna ku pun tak tau
Beribu malam ku tangisi
Hanya mengalunkan sepi yang menyiksa hati
Bagaimana kini ku harus bawa diri
"KASIH" kau bawa cintaku pergi
Embun pagi membasahi badan...!
Embun malam membasahi hati...!
Rindu pagi bisa kupendam...!
Rindu malam...ku bawa mimpi...!
Hanya untuk mas andree sayang...
*Tulisan Almarhumah Pacarku Sebelum Dia Dipanggil Sang Ilahi Allah SWT*
.INDRI NISA SALSABILA PAMUNGKAS.
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Semuanya bermula
Awal dari permulaan dalam mata
Terpampang sejuta warna
Tersiratkan aroma rasa
Entah kapan itu terjadi
Kini mulai berkecamuk dalam siri
Karna tak kuasa membawa hati
Yang penuh berisi
Kata - kata cinta
Gelora rindu didada
Berkecamuk tak kuasa
Karna begitu sempurnanya
Ohh...hati....
Berikan daku berani
Mengutarakan semua ini
Agar terlepas semua cintamu ini
Kepadanya...
Sang pujaan mu disana
Torehkan luapanmu dalam kata
Salurkan dalam alunan nada
Betapa engkau menginginkannya kini
Betapa engkau mendambanya kini
Betapa engkau mencintainya kini
Betapa engkau ingin bersamanya kini
Merajut semua cinta
Berdua menyatu dalam dunia
Menabur benih bersanding dipelaminan berdua
Melebur jadi satu keluarga
Awal dari permulaan dalam mata
Terpampang sejuta warna
Tersiratkan aroma rasa
Entah kapan itu terjadi
Kini mulai berkecamuk dalam siri
Karna tak kuasa membawa hati
Yang penuh berisi
Kata - kata cinta
Gelora rindu didada
Berkecamuk tak kuasa
Karna begitu sempurnanya
Ohh...hati....
Berikan daku berani
Mengutarakan semua ini
Agar terlepas semua cintamu ini
Kepadanya...
Sang pujaan mu disana
Torehkan luapanmu dalam kata
Salurkan dalam alunan nada
Betapa engkau menginginkannya kini
Betapa engkau mendambanya kini
Betapa engkau mencintainya kini
Betapa engkau ingin bersamanya kini
Merajut semua cinta
Berdua menyatu dalam dunia
Menabur benih bersanding dipelaminan berdua
Melebur jadi satu keluarga
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Aku berhenti diujung jalan
Tak tau lagi arah perjalanan
Sejenak duduk diatas batu
Melepas semua lelah dan membuang peluh yang bertabur bagai debu
Sembari menikmati deburan sang bayu
Ku mulai memejamkan kedua bola mataku yang sayu
Mendengarkan alunan symphoni diatas pohon
Yang saling bersautan silih berganti beriringan
Ku pasrahkan jiwaku pada alam
Biar terbawa sampai keperaduan malam
Sambil mencari-cari langkah kembali
Tuk memulai menapakkan sendi-sendi
Biar... biarkan aku sekarang bermimpi
Bertaburkan bintang-bintang yang berseri
Lagi ku nikmati sendiri waktu ini
Dan biarkan inspirasiku kembali
Menapaki bukit-bukit hidup
Membuat jalan sendiri dalam gelap
Biar aku tak menjadikanku seorang yang kalap
Dan bisa tegap, lantang berucap dalam kecap
Kini mimpiku tlah usai berganti nyata
Menghirup terangnya fajar pagi yang menyapa
Dan saatnya aku menuju dedaunan mencari embun
Tuk membasuh segala guratan dalam wajahku yang penuh goresan
Siap... kini aku siap tuk merangkak
Dan perlahan-lahan kabut kukuak
Menyiangi jalan-jalan setapak
Dan tak mau lagi aku terjebak dalam lingkup hidup yang penuh muak
Tak tau lagi arah perjalanan
Sejenak duduk diatas batu
Melepas semua lelah dan membuang peluh yang bertabur bagai debu
Sembari menikmati deburan sang bayu
Ku mulai memejamkan kedua bola mataku yang sayu
Mendengarkan alunan symphoni diatas pohon
Yang saling bersautan silih berganti beriringan
Ku pasrahkan jiwaku pada alam
Biar terbawa sampai keperaduan malam
Sambil mencari-cari langkah kembali
Tuk memulai menapakkan sendi-sendi
Biar... biarkan aku sekarang bermimpi
Bertaburkan bintang-bintang yang berseri
Lagi ku nikmati sendiri waktu ini
Dan biarkan inspirasiku kembali
Menapaki bukit-bukit hidup
Membuat jalan sendiri dalam gelap
Biar aku tak menjadikanku seorang yang kalap
Dan bisa tegap, lantang berucap dalam kecap
Kini mimpiku tlah usai berganti nyata
Menghirup terangnya fajar pagi yang menyapa
Dan saatnya aku menuju dedaunan mencari embun
Tuk membasuh segala guratan dalam wajahku yang penuh goresan
Siap... kini aku siap tuk merangkak
Dan perlahan-lahan kabut kukuak
Menyiangi jalan-jalan setapak
Dan tak mau lagi aku terjebak dalam lingkup hidup yang penuh muak
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Desiran bayu semilir
Membawa rasa rindu
Terbayang rias wajahmu
Bagai memahat berukir
Waktu seakan lama
Kala engkau tiada
Hanya tertinggal kerinduanku
Yang tertuju pada hatimu
Akankah engkau menghampiri
Tuk singgah menyuapi
Rasa dahagaku akan pelukmu
Walau hanya dalam mimpiku
Esok aku akan berlari
Mengejar tempatmu berdiri
Tuk segera memeluk erat tubuhmu
Melepas keringnya rinduku padamu kekasihku
Membawa rasa rindu
Terbayang rias wajahmu
Bagai memahat berukir
Waktu seakan lama
Kala engkau tiada
Hanya tertinggal kerinduanku
Yang tertuju pada hatimu
Akankah engkau menghampiri
Tuk singgah menyuapi
Rasa dahagaku akan pelukmu
Walau hanya dalam mimpiku
Esok aku akan berlari
Mengejar tempatmu berdiri
Tuk segera memeluk erat tubuhmu
Melepas keringnya rinduku padamu kekasihku
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Semua ada
Semua terasa
Tanpa satu asa
Hanya tawa canda bahagia
Yang berbaur dalam jiwa
Saat melihat dirimu disana
Berseri menyapa
Kini benar ada
Bukan suatu yang maya
Tak henti terus membawa
Rantaian ungkapan cinta
Yang terhembuskan lewat nada
Semua terasa
Tanpa satu asa
Hanya tawa canda bahagia
Yang berbaur dalam jiwa
Saat melihat dirimu disana
Berseri menyapa
Kini benar ada
Bukan suatu yang maya
Tak henti terus membawa
Rantaian ungkapan cinta
Yang terhembuskan lewat nada
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Syair yang tertuang dalam kata
Terlontar dalam lentera jiwa
Terpusat pada hati sanubari
Kunci dalam memohon untuk diberi
Sesuatu bentuk pasti dan tak pasti
Syair..., terucap bait demi bait
Bagaikan luapan diri berpuisi
Gumpalan benak yang terhujat
Do`a terpusat dari kesungguhan diri
Dalam diubah dan berubah
Sesuatu yang terpenjara dalam kalbu hati
Karna iman kepada yang disembah
Tergugah diri untuk bersyair do`a
Menyambar hati berkeluh kesah
Luapan mata berair dituangnya
Yang terbungkus dosa dan salah
Do`a Laksana tempat koreksi hati
Mengerti akan arti memberi, mengasihi
Untuk saling bertoleransi kembali
Dalam hidup penuh fana ini...
Ahhh..., do`a?
Yang kan sembuhkan diri
Hanya syair do`a yang terbaca
Dalam bentukan sebuah arti diri
Terlontar dalam lentera jiwa
Terpusat pada hati sanubari
Kunci dalam memohon untuk diberi
Sesuatu bentuk pasti dan tak pasti
Syair..., terucap bait demi bait
Bagaikan luapan diri berpuisi
Gumpalan benak yang terhujat
Do`a terpusat dari kesungguhan diri
Dalam diubah dan berubah
Sesuatu yang terpenjara dalam kalbu hati
Karna iman kepada yang disembah
Tergugah diri untuk bersyair do`a
Menyambar hati berkeluh kesah
Luapan mata berair dituangnya
Yang terbungkus dosa dan salah
Do`a Laksana tempat koreksi hati
Mengerti akan arti memberi, mengasihi
Untuk saling bertoleransi kembali
Dalam hidup penuh fana ini...
Ahhh..., do`a?
Yang kan sembuhkan diri
Hanya syair do`a yang terbaca
Dalam bentukan sebuah arti diri
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Kini tercecar diri ini
Kemana pun jejakkan kaki
Tak pernah kan bisa terlepas dan puas
Akan kesalahan yang hamba lepas
Perbuatan yang penuh dosa
Mengganjal dalam jadah ini!
Dan mungkin tak pantas sebagai manusia
Karna perbuatan hamba ini
Terjerumus dalam buaian setan
Yang takkan pernah berkata "enggan"
Dalam merasuki diri meniti jalan
Menemukan setitik cahaya untuk tinggalkan
Dunia yang sudah penuh dengan setan!
Berjalan, mengembara dalam hutan
Ingin temukan syair adzan
Dan kembali hamba terlahirkan
Ohhh..., Tuhan berikan hamba kesempatan...
Meraih terbuangnya kehidupan
Untuk kembali bersujud menyembah Mu
Ohhh..., Tuhan tuntunlah kembali jalan Mu
Agar hati diri tak tersesat kembali
Untuk tetap jadi pengikut Mu
Kini tersadar hati hamba hina ini
Bersujud meminta taubat kepada Mu
Kemana pun jejakkan kaki
Tak pernah kan bisa terlepas dan puas
Akan kesalahan yang hamba lepas
Perbuatan yang penuh dosa
Mengganjal dalam jadah ini!
Dan mungkin tak pantas sebagai manusia
Karna perbuatan hamba ini
Terjerumus dalam buaian setan
Yang takkan pernah berkata "enggan"
Dalam merasuki diri meniti jalan
Menemukan setitik cahaya untuk tinggalkan
Dunia yang sudah penuh dengan setan!
Berjalan, mengembara dalam hutan
Ingin temukan syair adzan
Dan kembali hamba terlahirkan
Ohhh..., Tuhan berikan hamba kesempatan...
Meraih terbuangnya kehidupan
Untuk kembali bersujud menyembah Mu
Ohhh..., Tuhan tuntunlah kembali jalan Mu
Agar hati diri tak tersesat kembali
Untuk tetap jadi pengikut Mu
Kini tersadar hati hamba hina ini
Bersujud meminta taubat kepada Mu
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Berjajar barisan topeng
Terpahat dalam dentuman kayu
Meraih bentukan wajah bertopeng
Akan bermaknanya sebuah topeng kayu
Cermin dari gambaran kehidupan
Hitamkah...? atau putihkah...?
Baikkah...? atau burukkah...?
Suatu goresan bentuk bertopeng pahatan
Alunan - alunan sandiwara wajah
Tertuang dalam lekukan kayu bertuah
Peran dalam bertopeng jadah
Tersyair gundah dalam tubuh merekah
Tak bergerak sebuah topeng
Tanpa tangan telanjang berjenjang
Meraih bentukan peran wajah topeng
Dalam anjungan - anjungan panggung
Topeng tak akan terbuang
Akan waktu yang kan datang
Hanya akan tersimpan kenangan
Yang terpajang topeng hiasan
Peran topeng menutup wajah diri
Dalam tatanan sandiwara kehidupan
Yang mengunci bentukan asli
Topeng kayu peran tak bertuan
Terpahat dalam dentuman kayu
Meraih bentukan wajah bertopeng
Akan bermaknanya sebuah topeng kayu
Cermin dari gambaran kehidupan
Hitamkah...? atau putihkah...?
Baikkah...? atau burukkah...?
Suatu goresan bentuk bertopeng pahatan
Alunan - alunan sandiwara wajah
Tertuang dalam lekukan kayu bertuah
Peran dalam bertopeng jadah
Tersyair gundah dalam tubuh merekah
Tak bergerak sebuah topeng
Tanpa tangan telanjang berjenjang
Meraih bentukan peran wajah topeng
Dalam anjungan - anjungan panggung
Topeng tak akan terbuang
Akan waktu yang kan datang
Hanya akan tersimpan kenangan
Yang terpajang topeng hiasan
Peran topeng menutup wajah diri
Dalam tatanan sandiwara kehidupan
Yang mengunci bentukan asli
Topeng kayu peran tak bertuan
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Hangat yang menyeruak dalam deburan awan
Tertatih merambat perlahan pagi yang mengguncang
Dalam tetesan embun yang terjatuh tak tertahan
Terkulai akan pagi datang menjelang
Burung pipit bersuarakan dendang bersautan
Dari rajutan ranting - ranting dan dahan
Mengisi dawai pagi penuh kekosongan
Yang tadi terisi malam dan hujan
Beranjak coba tuk melayang
Sejenak singgah dalam tanah kerontang
Mencabut untaian rumput kering
Mencoba untuk menyulam kembali sarang
Sesaat kembali dalam kehidupan
Tersadar dan beranjak dari lamunan
Menyimak nyanyian tak beraturan
Gemuruh pagi orang lalu lalang berjalan
Burung pipit tetap merajut penuh dendang
Tak peduli akan waktu yang berjalan
Tertuang dalam lingkaran sarang
Yang masih acak penuh guratan - guratan
Hanya burung pipit yang tak terbuang
Demi sebuah harapan dan angan
Menguak tabir kehidupan mendatang
Tanpa suatu sakral menentang
Tertatih merambat perlahan pagi yang mengguncang
Dalam tetesan embun yang terjatuh tak tertahan
Terkulai akan pagi datang menjelang
Burung pipit bersuarakan dendang bersautan
Dari rajutan ranting - ranting dan dahan
Mengisi dawai pagi penuh kekosongan
Yang tadi terisi malam dan hujan
Beranjak coba tuk melayang
Sejenak singgah dalam tanah kerontang
Mencabut untaian rumput kering
Mencoba untuk menyulam kembali sarang
Sesaat kembali dalam kehidupan
Tersadar dan beranjak dari lamunan
Menyimak nyanyian tak beraturan
Gemuruh pagi orang lalu lalang berjalan
Burung pipit tetap merajut penuh dendang
Tak peduli akan waktu yang berjalan
Tertuang dalam lingkaran sarang
Yang masih acak penuh guratan - guratan
Hanya burung pipit yang tak terbuang
Demi sebuah harapan dan angan
Menguak tabir kehidupan mendatang
Tanpa suatu sakral menentang
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Berdiri tegak kokoh keatas
Tertutup dalam bentukan ruang
Hanya terbuka pintu dan jendela bertuas
Terbentuk sudut persegi panjang
Ruang yang terisi...
Lamunan bait - bait puisi
Takkan lekang jalani
Pergantian waktu hadapi hari
Terkotak dalam sekat
Dan selalu terikat
Tanpa hujat penuh penat
Karna tersambung pondasi yang kuat
Tertata dan berganti sebuah ruang
Dengan sandaran bangun - bangun ruang
Terpajang hiasan tanpa meraung
Karna paku tertancap terselubung
Menyangga panas dan hujan
Tak akan letih walau sejenak
Bentukan berwarna hibur diri tak beranjak
Layaknya pelangi yang terlukiskan
Begitu penting arti sebuah ruang
Dan jangan terbuang ruang hidup seseorang
Karna lembab terasa dingin menjelang...
Saksi bisu yang penuh kenangan, ruang...
Tertutup dalam bentukan ruang
Hanya terbuka pintu dan jendela bertuas
Terbentuk sudut persegi panjang
Ruang yang terisi...
Lamunan bait - bait puisi
Takkan lekang jalani
Pergantian waktu hadapi hari
Terkotak dalam sekat
Dan selalu terikat
Tanpa hujat penuh penat
Karna tersambung pondasi yang kuat
Tertata dan berganti sebuah ruang
Dengan sandaran bangun - bangun ruang
Terpajang hiasan tanpa meraung
Karna paku tertancap terselubung
Menyangga panas dan hujan
Tak akan letih walau sejenak
Bentukan berwarna hibur diri tak beranjak
Layaknya pelangi yang terlukiskan
Begitu penting arti sebuah ruang
Dan jangan terbuang ruang hidup seseorang
Karna lembab terasa dingin menjelang...
Saksi bisu yang penuh kenangan, ruang...
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Diam....!!!, Diam....!!!
Tanpa terucap kata...
Kata bermakna maupun tak bermakna
Coba untuk terkunci diam
Katup bibir hanya tertutup
Tak ada suara yang mengecap
Ssssttt...ssssttt...ssssttt...
Tutup mulut...!!!
Berkatalah lewat suara hati
Yang coba siarkan luapan
Merasa bisu terkunci
Dengarkan saja semua ungkapan
Berkata memang penting
Tapi coba rasa diam...
Tangkap semua suara yang berdentum
Hanya dengan daun telinga bergendang
Hening tanpa suara kata
Rasakan sunyi tanpa hujat
Ssssttt...ssssttt...ssssttt...
Diam...!!!, Diam...!!!, dengarkan saja...
Hanya diam...
Dan coba tetap diam...
Tanpa ada satu kecam
Diam...
Tanpa terucap kata...
Kata bermakna maupun tak bermakna
Coba untuk terkunci diam
Katup bibir hanya tertutup
Tak ada suara yang mengecap
Ssssttt...ssssttt...ssssttt...
Tutup mulut...!!!
Berkatalah lewat suara hati
Yang coba siarkan luapan
Merasa bisu terkunci
Dengarkan saja semua ungkapan
Berkata memang penting
Tapi coba rasa diam...
Tangkap semua suara yang berdentum
Hanya dengan daun telinga bergendang
Hening tanpa suara kata
Rasakan sunyi tanpa hujat
Ssssttt...ssssttt...ssssttt...
Diam...!!!, Diam...!!!, dengarkan saja...
Hanya diam...
Dan coba tetap diam...
Tanpa ada satu kecam
Diam...
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Surya terbitkan sinarnya dipagi ini
Dengan terangnya dia tersenyum menari
Memberkas dalam setiap daratan bumi
Bersambut kicau burung yang berdendang kesana - kemari
Disiang hari begitu cerah
Guratkan tetesan keringat membasahi wajah
Bertaburkan dedaunan yang terbang
Menghiasi tanah yang kering
Tetapi saat sore menjelang
Awan hitam mulai memayungi
Menderu diatas penuh kelekar yang menggelegar
Kilat menyambar menghiasi gelap
Berdesis dari kejauhan
Tertiup hembusan
Angin yang menyeruak menghambur
Menggoyangkan setiap pepohonan yang berdiri tegar
Menerbangkan setiap helai dedaunan
Menumbangkan setiap batang pohonnya
Menyapu bersih segala yang ada
Dan hanya menyisakan kekacauan
Apa ini suatu cobaan dari engkau ya Allah...
Engkau hanya hembuskan nafasmu
Semua jadi porak - poranda
Hentikanlah ya Allah segala musibahmu kepada kami
Dengan terangnya dia tersenyum menari
Memberkas dalam setiap daratan bumi
Bersambut kicau burung yang berdendang kesana - kemari
Disiang hari begitu cerah
Guratkan tetesan keringat membasahi wajah
Bertaburkan dedaunan yang terbang
Menghiasi tanah yang kering
Tetapi saat sore menjelang
Awan hitam mulai memayungi
Menderu diatas penuh kelekar yang menggelegar
Kilat menyambar menghiasi gelap
Berdesis dari kejauhan
Tertiup hembusan
Angin yang menyeruak menghambur
Menggoyangkan setiap pepohonan yang berdiri tegar
Menerbangkan setiap helai dedaunan
Menumbangkan setiap batang pohonnya
Menyapu bersih segala yang ada
Dan hanya menyisakan kekacauan
Apa ini suatu cobaan dari engkau ya Allah...
Engkau hanya hembuskan nafasmu
Semua jadi porak - poranda
Hentikanlah ya Allah segala musibahmu kepada kami
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Setiap yang ku lamunkan adalah mimpi
Setiap yang ku tatap adalah semu
Setiap yang ku rasa adalah maya
Setiap yang ku punya adalah bayangan
Kini ku semakin terpuruk
Tiada arah yang pasti
Kering kerontang sahara
Air matapun kering
Aku hidup seakan mati
Terhempas kedunia lain
Tak tersisakan di tubuhku
Hanya berhiaskan duka yang lara
Panca indera ku musnah
Aku merasa kehancuran
Kekosongan, keterpurukan, kepalsuan
Bercampur jadi bagian dalam diriku ini
Setiap yang ku tatap adalah semu
Setiap yang ku rasa adalah maya
Setiap yang ku punya adalah bayangan
Kini ku semakin terpuruk
Tiada arah yang pasti
Kering kerontang sahara
Air matapun kering
Aku hidup seakan mati
Terhempas kedunia lain
Tak tersisakan di tubuhku
Hanya berhiaskan duka yang lara
Panca indera ku musnah
Aku merasa kehancuran
Kekosongan, keterpurukan, kepalsuan
Bercampur jadi bagian dalam diriku ini
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Disaat cinta menemui jalan buntu
Dan tak seorangpun yang dapat membantu
Tuk temukan setitik cahaya terang
Tuk menyinari hatiku
Yang terselubung mendung
Dan yang ku temukan dalam suara hatiku
Adalah kebencian yang teramat mendalam
Akankah ku temukan
Pengganti rasa benci
Dan apakah kutemukan cinta yang sejati
Yang kan temukan pada hawa yang lain
Selain dirimu yang ku damba…..
Dan tak seorangpun yang dapat membantu
Tuk temukan setitik cahaya terang
Tuk menyinari hatiku
Yang terselubung mendung
Dan yang ku temukan dalam suara hatiku
Adalah kebencian yang teramat mendalam
Akankah ku temukan
Pengganti rasa benci
Dan apakah kutemukan cinta yang sejati
Yang kan temukan pada hawa yang lain
Selain dirimu yang ku damba…..
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Dari angkasa kau tampak kecil
Dan kau tampak memukau
Dari darat kau tampak luas
Dan terasa begitu sayu
Tapi kau dihatiku tampak memukau
Dan ku sangat mengagumi engkau
Ini adalah salah satu ciptaan-Mu
Begitu pula dengan diriku
Bagaimana kau menciptanya
Dengan segala kesempurnaan-Mu
Bumi yang dihias dengan permata hijau dan biru
Yang terbentuk sebagai air dan daun
Kau ciptakan pula keragamannya
Baik itu hayati dan hewani
Dengan setruktur yang sempurna
Kau ciptakan pula manusia
Yang engkau tunjuk sebagai penjaganya
Pelindungnya, dan pelestarinya
Kau ciptakan pula materi dan mineral
Dan kini telah sempurnanya ciptaan-Mu
Diangkasa kau ciptakan cahaya
Matahari, bulan dan bintang – bintang
Matahari kau atur siang hari
Bulan dan bintang kau jadwal malam hari
Tak akan ada yang dapat menirunya
Tak akan ada yang bisa menirunya
Meniru dan menciptakannya
Hanya engkaulah satu sang pencipta
Dan kau tampak memukau
Dari darat kau tampak luas
Dan terasa begitu sayu
Tapi kau dihatiku tampak memukau
Dan ku sangat mengagumi engkau
Ini adalah salah satu ciptaan-Mu
Begitu pula dengan diriku
Bagaimana kau menciptanya
Dengan segala kesempurnaan-Mu
Bumi yang dihias dengan permata hijau dan biru
Yang terbentuk sebagai air dan daun
Kau ciptakan pula keragamannya
Baik itu hayati dan hewani
Dengan setruktur yang sempurna
Kau ciptakan pula manusia
Yang engkau tunjuk sebagai penjaganya
Pelindungnya, dan pelestarinya
Kau ciptakan pula materi dan mineral
Dan kini telah sempurnanya ciptaan-Mu
Diangkasa kau ciptakan cahaya
Matahari, bulan dan bintang – bintang
Matahari kau atur siang hari
Bulan dan bintang kau jadwal malam hari
Tak akan ada yang dapat menirunya
Tak akan ada yang bisa menirunya
Meniru dan menciptakannya
Hanya engkaulah satu sang pencipta
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Saat sang surya mulai tenggelam
Tertidurlah dia di ufuk barat
Lelah, letih dan bermimpilah dia
Di bawah rayuan sang rembulan
Rembulan yang tampak pucat pasi
Tak dapat menahan gejolak api cinta
Rambut – rambut cinta dari matahari
Akankah dia bertahan hingga esok hari
Bintang – bintang yang melihat bingung
Kenapa api cinta matahari begitu besar
Serana tak kuasa menahannya
Bagaimanakah dia harus ku tolong
Akankah harus ku teriak
Apakah aku harus berlari
Tutupilah saja api cintanya
Dengan langit yang kelam kelabu
Tapi haruskah dia selalu begitu
Setiap hari berganti hari
Dia merasakan sakit pada hatinya
Merasakan kepedihan dimalam hari
Tolong – tolonglah dia
Bagaimana dia harus melangkah
Menuju menyelesaikan hasrat hati
Untuk menguraikan rasa cintanya itu
Tertidurlah dia di ufuk barat
Lelah, letih dan bermimpilah dia
Di bawah rayuan sang rembulan
Rembulan yang tampak pucat pasi
Tak dapat menahan gejolak api cinta
Rambut – rambut cinta dari matahari
Akankah dia bertahan hingga esok hari
Bintang – bintang yang melihat bingung
Kenapa api cinta matahari begitu besar
Serana tak kuasa menahannya
Bagaimanakah dia harus ku tolong
Akankah harus ku teriak
Apakah aku harus berlari
Tutupilah saja api cintanya
Dengan langit yang kelam kelabu
Tapi haruskah dia selalu begitu
Setiap hari berganti hari
Dia merasakan sakit pada hatinya
Merasakan kepedihan dimalam hari
Tolong – tolonglah dia
Bagaimana dia harus melangkah
Menuju menyelesaikan hasrat hati
Untuk menguraikan rasa cintanya itu
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Berkata – kata sumpah
Dalam seonggok sampah
Terbungkus dalam keranjang sampah
Dengan alasan sumpah serapah
Terus dan terus berkata – kata
Dalam barisan – barisan baitnya
Seakan kata bergema
Dengan alunan suara – suara
Kata – kata terucap setia
Janji kepada ajal tanahnya
Untuk terus merasa berjasa
Kepada ayah, ibu, saudara – saudaranya
Tapi apa daya suara
Dengan teriakan kata – kata
Yang hanya bergema dalam gua
Tanpa ada jalur dan alurnya
Kadang cuma biasa
Terkadang pula cuma hanya rasa
Yang cuma semu dan maya
Meraung – raung dalam jiwa
Kata – kata hanya kata
Sumpah juga hanya kata
Tersenyum dan tertawa saja
Karna hanya sebuah kata – kata
Dalam seonggok sampah
Terbungkus dalam keranjang sampah
Dengan alasan sumpah serapah
Terus dan terus berkata – kata
Dalam barisan – barisan baitnya
Seakan kata bergema
Dengan alunan suara – suara
Kata – kata terucap setia
Janji kepada ajal tanahnya
Untuk terus merasa berjasa
Kepada ayah, ibu, saudara – saudaranya
Tapi apa daya suara
Dengan teriakan kata – kata
Yang hanya bergema dalam gua
Tanpa ada jalur dan alurnya
Kadang cuma biasa
Terkadang pula cuma hanya rasa
Yang cuma semu dan maya
Meraung – raung dalam jiwa
Kata – kata hanya kata
Sumpah juga hanya kata
Tersenyum dan tertawa saja
Karna hanya sebuah kata – kata
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Terpatri dalam titik relung hidup
Yang hanya berkutat dalam kabut rotasi
Hanya kadang meratap dan menatap
Dalam luluh lebur suatu kondisi
Hati, jiwa dan idelisme masing – masing
Bentuk wadah semua bentuk kehidupan
Yang berakal berbudi pekerti yang matang
Bukan suatu bentuk gundah dan kegelapan
Berjuang dalam suatu perjalanan
Langkah – langkah penuh darah
Bersumpah dalam suatu janji pendirian
Untuk saling merogoh dan menambah gagah
Satu untuk semua wadah hidup
Yang tergolong sama wadah hidup
Kadang wadah penuh ratap
Kitap – kitap dalam satu tatap
Akankah hidup suatu wadah berubah
Mengapa terus hal – hal yang susah
Harus dan akan tetap berpisah
Dalam suatu ajal wadah hidup bertanah
Air dingin menetes dari kelopak – kelopak tatap
Sembam dan memerah dalam putaran waktu
Dalam hidup suatu wadah hidup yang belum tetap
Mati dan hidup untuk wadah hidup pasti berlaku
Yang hanya berkutat dalam kabut rotasi
Hanya kadang meratap dan menatap
Dalam luluh lebur suatu kondisi
Hati, jiwa dan idelisme masing – masing
Bentuk wadah semua bentuk kehidupan
Yang berakal berbudi pekerti yang matang
Bukan suatu bentuk gundah dan kegelapan
Berjuang dalam suatu perjalanan
Langkah – langkah penuh darah
Bersumpah dalam suatu janji pendirian
Untuk saling merogoh dan menambah gagah
Satu untuk semua wadah hidup
Yang tergolong sama wadah hidup
Kadang wadah penuh ratap
Kitap – kitap dalam satu tatap
Akankah hidup suatu wadah berubah
Mengapa terus hal – hal yang susah
Harus dan akan tetap berpisah
Dalam suatu ajal wadah hidup bertanah
Air dingin menetes dari kelopak – kelopak tatap
Sembam dan memerah dalam putaran waktu
Dalam hidup suatu wadah hidup yang belum tetap
Mati dan hidup untuk wadah hidup pasti berlaku
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Saat mentari berganti bulan
Dan terang berganti gelap
Terdengar seruan tarian dan nyanyian
Dalam keheningan yang senyap
Bertaburlah banyaknya bintang
Bertemankan lentera abadi
Yang selalu akan terasing dalam hening
Tak akan pula bisa berlari
Berjalan diiringi rembulan
Yang terlihat hanya gelap pekat
Menyelimuti arah dan tujuan
Hingga terjerumus dalam sesat
Berjuang lalui malam senyam
Coba untuk cari kembali
Datangnya surya yang bersemayam
Dalam suatu ujung tepi
Kurindu akan cahaya
Kurindu akan kehangatan
Kurindu akan terang dalam nyata
Kurindu akan keharuman dan keindahan
Baunya menyengat jiwa
Tak bertuah tak berasa
Sengir asam terbaut
Dalam lembab suasana kabut
Dan terang berganti gelap
Terdengar seruan tarian dan nyanyian
Dalam keheningan yang senyap
Bertaburlah banyaknya bintang
Bertemankan lentera abadi
Yang selalu akan terasing dalam hening
Tak akan pula bisa berlari
Berjalan diiringi rembulan
Yang terlihat hanya gelap pekat
Menyelimuti arah dan tujuan
Hingga terjerumus dalam sesat
Berjuang lalui malam senyam
Coba untuk cari kembali
Datangnya surya yang bersemayam
Dalam suatu ujung tepi
Kurindu akan cahaya
Kurindu akan kehangatan
Kurindu akan terang dalam nyata
Kurindu akan keharuman dan keindahan
Baunya menyengat jiwa
Tak bertuah tak berasa
Sengir asam terbaut
Dalam lembab suasana kabut
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Saat ku terapung dan terasing
Hanyut terbawa suasana
Yang terdengar riuh dan bising
Terjerembab dalam jendela
Dengan halauan tirai
Menutup semua makna
Yang terselubung dalam hati
Bermakna dan berarti di jiwa
Meraung seolah menggema
Dalam hembusan kabut
Menggonggong dan berkata – kata
Yang takkan pernah tersebut
Suatu bentuk hayal harapan
Terpikir berpusar dalam otak
Lewat jalur rajutan – rajutan
Otot dan syaraf yang berontak
Terbuai dalam semu
Terhasut dalam maya
Terkunci dalam jeruji batu
Terbuang dalam tanah bata
Imajinasi kadang bentuk harapan
Yang tersumbat dalam selokan
Penuh dengan kotoran – kotoran
Dalam setiap tarikan dan hembusan
Hanyut terbawa suasana
Yang terdengar riuh dan bising
Terjerembab dalam jendela
Dengan halauan tirai
Menutup semua makna
Yang terselubung dalam hati
Bermakna dan berarti di jiwa
Meraung seolah menggema
Dalam hembusan kabut
Menggonggong dan berkata – kata
Yang takkan pernah tersebut
Suatu bentuk hayal harapan
Terpikir berpusar dalam otak
Lewat jalur rajutan – rajutan
Otot dan syaraf yang berontak
Terbuai dalam semu
Terhasut dalam maya
Terkunci dalam jeruji batu
Terbuang dalam tanah bata
Imajinasi kadang bentuk harapan
Yang tersumbat dalam selokan
Penuh dengan kotoran – kotoran
Dalam setiap tarikan dan hembusan
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Terbuka dan terkunci
Dalam kotak terukir besi
Rasa yang bertumpuk basi
Terjebak tanpa suatu sisi
Bertabur dalam kebutan debu
Tersembur dalam tabu hati
Tersapu lubuk kalbu
Berkutak lebih dini
Hanya berteman laba – laba
Yang terus berkata – kata
“Hiduplah terus kau disana”
Tanpa terperanjat dan membuka mata
Bertepuk – tepuklah sang cicak
Dan terus berketuk dalam lubuk
Bernyanyilah laba – laba dan cicak
Bersama saling terus bersorak
Ku hanya bisa tersenyum
Dalam kotak yang kelam
Lembab, basah dan senyam
Yang terus tertutup kalam
Tubuh hanya berharap
Dengan tuntunan do’a yang terucap
Untuk dapat bisa membuka
Lembaran hidup yang terus terjera
Dalam kotak terukir besi
Rasa yang bertumpuk basi
Terjebak tanpa suatu sisi
Bertabur dalam kebutan debu
Tersembur dalam tabu hati
Tersapu lubuk kalbu
Berkutak lebih dini
Hanya berteman laba – laba
Yang terus berkata – kata
“Hiduplah terus kau disana”
Tanpa terperanjat dan membuka mata
Bertepuk – tepuklah sang cicak
Dan terus berketuk dalam lubuk
Bernyanyilah laba – laba dan cicak
Bersama saling terus bersorak
Ku hanya bisa tersenyum
Dalam kotak yang kelam
Lembab, basah dan senyam
Yang terus tertutup kalam
Tubuh hanya berharap
Dengan tuntunan do’a yang terucap
Untuk dapat bisa membuka
Lembaran hidup yang terus terjera
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Hidup berjalan selaksa air
Tak bertuju tanpa jalur
Hanya selalu terpancar
Dalam angin layar
Hanyut bersama arus
Yang terbawa deras
Dan terus menguras
Segala tatapan malas
Kutemui suatu kedalaman
Akupun turut tenggelam
Bergerak dalam selam
Tertuju di ruang kegelapan
Kadang ku merasuk yang dangkal
Terbentur dalam batu yang terjal
Lalui waktu penuh hayal
Tanpa tertinggal sedikit akal
Gemericik air menuju samudera
Dan aku terus terbawa
Hingga merengkuh cita dan cinta
Sampai ku terkubur disana
Ku hanya ikuti hati air
Dengan kata seperti air
Terus dan terus mengalir
Seperti apa adanya hidup air
Tak bertuju tanpa jalur
Hanya selalu terpancar
Dalam angin layar
Hanyut bersama arus
Yang terbawa deras
Dan terus menguras
Segala tatapan malas
Kutemui suatu kedalaman
Akupun turut tenggelam
Bergerak dalam selam
Tertuju di ruang kegelapan
Kadang ku merasuk yang dangkal
Terbentur dalam batu yang terjal
Lalui waktu penuh hayal
Tanpa tertinggal sedikit akal
Gemericik air menuju samudera
Dan aku terus terbawa
Hingga merengkuh cita dan cinta
Sampai ku terkubur disana
Ku hanya ikuti hati air
Dengan kata seperti air
Terus dan terus mengalir
Seperti apa adanya hidup air
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Terbang bersama terpaut dalam alur
Dan saling terpaku untuk mengukur
Dari mata yang terus terpancar
Menggali apa yang dapat terkuar
Halus bagai selembar kertas
Dalam suatu hati yang getas
Terus dan terus terkupas
Di gundukan – gundukan kapas
Dua hari kini berlalu
Tak ada jua yang kelu
Kini rasa hanya kau yang ku tuju
Ragu merasuk ke samudera biru
Terpesona dalam dirimu yang indah
Alur hati kembali tergugah
Istana hati bertabur megah
Penuh dengan gambaran anugerah
Lanjut kini ku dalam hati
Terkurung dalam asa nurani
Yang terus tertutup tirani
Kembali hati jadi berjanji
Alur hati kadang pula terbuka
Dengan kata penuh terbata
Terengkuh dalam laba – laba jala
Untuk mengungkap suatu rasa
Dan saling terpaku untuk mengukur
Dari mata yang terus terpancar
Menggali apa yang dapat terkuar
Halus bagai selembar kertas
Dalam suatu hati yang getas
Terus dan terus terkupas
Di gundukan – gundukan kapas
Dua hari kini berlalu
Tak ada jua yang kelu
Kini rasa hanya kau yang ku tuju
Ragu merasuk ke samudera biru
Terpesona dalam dirimu yang indah
Alur hati kembali tergugah
Istana hati bertabur megah
Penuh dengan gambaran anugerah
Lanjut kini ku dalam hati
Terkurung dalam asa nurani
Yang terus tertutup tirani
Kembali hati jadi berjanji
Alur hati kadang pula terbuka
Dengan kata penuh terbata
Terengkuh dalam laba – laba jala
Untuk mengungkap suatu rasa
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Dulu kita berdua layaknya sepasang merpati
Berbagi segala gundah dan resah di hati
Dulu kalapun aku bahagia bersamamu
Merajut semua rasa rindu berdua denganmu
Waktu terus berlalu menggilas hati
Tanpa ku sadari aku yang terus berlari
Mengejar dan meraih semua yang kau mau
Ingin ku berhenti dan tertidur tanpamu
Disini, di peraduan alam hidupku
Yang larut tanpa ada bayang – bayangmu
Kadang pula terbesit rasa bosan
Terkadang aku muang dengan tingkahmu yang menjengkelkan
Kau yang memulai kaupun yang mengakhiri
Kau pun yang membuat suatu pemicu
Keputusan yang bulat untuk mengakhiri
Segala apa yang pernah kita buka
Hati, jiwa, ragaku kini berselimut gontai
Remuk tersapu hujan dan badai
Inilah waktu yang tepat untuk berpisah
Tapi ku ingin ini adalah akhir yang indah
Terlepas dari semua gundah
Yang terasa megah dalam hatiku
Mungkin kita bukan suatu jodoh
Selamat tinggal, terimalah suratanmu
Berbagi segala gundah dan resah di hati
Dulu kalapun aku bahagia bersamamu
Merajut semua rasa rindu berdua denganmu
Waktu terus berlalu menggilas hati
Tanpa ku sadari aku yang terus berlari
Mengejar dan meraih semua yang kau mau
Ingin ku berhenti dan tertidur tanpamu
Disini, di peraduan alam hidupku
Yang larut tanpa ada bayang – bayangmu
Kadang pula terbesit rasa bosan
Terkadang aku muang dengan tingkahmu yang menjengkelkan
Kau yang memulai kaupun yang mengakhiri
Kau pun yang membuat suatu pemicu
Keputusan yang bulat untuk mengakhiri
Segala apa yang pernah kita buka
Hati, jiwa, ragaku kini berselimut gontai
Remuk tersapu hujan dan badai
Inilah waktu yang tepat untuk berpisah
Tapi ku ingin ini adalah akhir yang indah
Terlepas dari semua gundah
Yang terasa megah dalam hatiku
Mungkin kita bukan suatu jodoh
Selamat tinggal, terimalah suratanmu
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Angin mendera sayu bertiup di dedaunan
Awan yang menyelimuti hanya diam terpaku
Menatap anak – anak rumput yang bergoyang
Bersuara pekik bersama halilintar yang menggelegar
Cambuk – cambuk yang semakin tajam
Datang menyambut tanah yang pekat
Menghujam tubuh yang rentan
Tetes – tetes darah mengalir ke samudera
Disana hanya terombang – ambing gelombang
Tanpa dasar, tanpa tepi dan tanpa arah
Terkoyak dengan luka – luka yang menyanyi
Ingin berlari dan menggapai sepinya hati
Aku ingin berteriak dan menggonggong
Tolong – tolong dalam tarian takdir
Mulut memuntahkan darah segar dari dalam tubuh
Lukaku semakin parah hingga kejiwa
Tapi lolonganku hanya sampai hati
Tanpa keluar melalui cerobong tenggorokan
Terseret dan terus terseret dalam ayunan hidup
Hanya bisa mendesah lirih berbisik pada buih
Aku harap cepat kembali ke peraduan
Berbaring dalam lubang tanah kecil
Biarkan aku menjadi tanah kembali
Selamanya tidur dan tak terbangunkan oleh mimpi
Awan yang menyelimuti hanya diam terpaku
Menatap anak – anak rumput yang bergoyang
Bersuara pekik bersama halilintar yang menggelegar
Cambuk – cambuk yang semakin tajam
Datang menyambut tanah yang pekat
Menghujam tubuh yang rentan
Tetes – tetes darah mengalir ke samudera
Disana hanya terombang – ambing gelombang
Tanpa dasar, tanpa tepi dan tanpa arah
Terkoyak dengan luka – luka yang menyanyi
Ingin berlari dan menggapai sepinya hati
Aku ingin berteriak dan menggonggong
Tolong – tolong dalam tarian takdir
Mulut memuntahkan darah segar dari dalam tubuh
Lukaku semakin parah hingga kejiwa
Tapi lolonganku hanya sampai hati
Tanpa keluar melalui cerobong tenggorokan
Terseret dan terus terseret dalam ayunan hidup
Hanya bisa mendesah lirih berbisik pada buih
Aku harap cepat kembali ke peraduan
Berbaring dalam lubang tanah kecil
Biarkan aku menjadi tanah kembali
Selamanya tidur dan tak terbangunkan oleh mimpi
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Kau peluk aku saat ku menangis
Kehangatan kasihmu yang terlepas
Dari sebuah tangan sutera
Yang membelai lembut kelopak mata
Kau membawaku terbang
Kepak – kepak sayap cintamu
Kedalam maya yang terang
Yang membuatku menyatu denganmu
Dari sebuah serpihan batu pualam
Di tempa menjadi batu intan permata
Dari setiap malam – malam yang kelam
Kita tempa dan saling menempa
Kisah kasih yang takkan terlupakan
Hingga suatu ajal tiba
Kekal abadi selamanya
Sampai tercipta kehidupan abadi-Nya
Kembali berdua sampai alam baka
Walau tubuh tinggal tulang
Tapi hati tetap utuh dan terbuka
Selalu suci menerima cintamu yang terselubung
Dalam kegelapan yang kelam
Dalam kehidupan yang hitam
Inginku rengkuh engkau dalam cahaya
Hingga melebur semua jadi satu berdua
Kehangatan kasihmu yang terlepas
Dari sebuah tangan sutera
Yang membelai lembut kelopak mata
Kau membawaku terbang
Kepak – kepak sayap cintamu
Kedalam maya yang terang
Yang membuatku menyatu denganmu
Dari sebuah serpihan batu pualam
Di tempa menjadi batu intan permata
Dari setiap malam – malam yang kelam
Kita tempa dan saling menempa
Kisah kasih yang takkan terlupakan
Hingga suatu ajal tiba
Kekal abadi selamanya
Sampai tercipta kehidupan abadi-Nya
Kembali berdua sampai alam baka
Walau tubuh tinggal tulang
Tapi hati tetap utuh dan terbuka
Selalu suci menerima cintamu yang terselubung
Dalam kegelapan yang kelam
Dalam kehidupan yang hitam
Inginku rengkuh engkau dalam cahaya
Hingga melebur semua jadi satu berdua
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Suatu yang bisa dan tak bisa
Antara pasti dan tak pasti
Berkecamuk pikiran bergelora
Untuk berjalan dan meniti
Langkah dalam dua jalur
Bercabang tak bertepi
Membuatku tersungkur
Dalam pilihan hati
Akankah ku menepi
Dari sebuah nyata
Akankah ku mencari
Setitik cahaya
Untukku dapat memilih
Walaupun tak dapat kembali
Dalam kemelut yang gundah
Dihati, jiwa dan nurani
Baik dan baik
Buruk dan buruk
Kini bercampur menyatu
Seiring tangisan nada melayu
Kata hati mungkin jawaban
Segala ragu yang ada
Untukku meniti jalan
Antara engkau dan dia
Antara pasti dan tak pasti
Berkecamuk pikiran bergelora
Untuk berjalan dan meniti
Langkah dalam dua jalur
Bercabang tak bertepi
Membuatku tersungkur
Dalam pilihan hati
Akankah ku menepi
Dari sebuah nyata
Akankah ku mencari
Setitik cahaya
Untukku dapat memilih
Walaupun tak dapat kembali
Dalam kemelut yang gundah
Dihati, jiwa dan nurani
Baik dan baik
Buruk dan buruk
Kini bercampur menyatu
Seiring tangisan nada melayu
Kata hati mungkin jawaban
Segala ragu yang ada
Untukku meniti jalan
Antara engkau dan dia
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Hati yang berkutat dengan cadar
Satupun celah tak lagi terbongkar
Yang tergetar dengan cakar – cakar
Hingga tiba kini kau muali tersungkur
Kembali hidup dan mati
Kembali terdiam dan bernyanyi
Menggema dalam jiwa dan nurani
Terkubur didalam inti bumi
Suling – suling yang tertiup bari bambu
Menyeruak masuk kedalam kalbu
Seiring raungan – raungan lembu
Hanya awan yang diam membisu
Air yang mengisi tanpa nada
Dengan tirai – tirai yang melagu
Batu – batu yang ikut berdetak penuh rasa
Membuka taria dan nyanyian alam
Kadang lagu penuh suram
Kadang syair menyayat kelam
Dalam seribu keheningan malam
Rimba raya yang menangis
Ditinggal sang raja alam semesta
Bercicit – cicit penuh lapis
Merintih bernada luruh lapa
Satupun celah tak lagi terbongkar
Yang tergetar dengan cakar – cakar
Hingga tiba kini kau muali tersungkur
Kembali hidup dan mati
Kembali terdiam dan bernyanyi
Menggema dalam jiwa dan nurani
Terkubur didalam inti bumi
Suling – suling yang tertiup bari bambu
Menyeruak masuk kedalam kalbu
Seiring raungan – raungan lembu
Hanya awan yang diam membisu
Air yang mengisi tanpa nada
Dengan tirai – tirai yang melagu
Batu – batu yang ikut berdetak penuh rasa
Membuka taria dan nyanyian alam
Kadang lagu penuh suram
Kadang syair menyayat kelam
Dalam seribu keheningan malam
Rimba raya yang menangis
Ditinggal sang raja alam semesta
Bercicit – cicit penuh lapis
Merintih bernada luruh lapa
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Rahasia demi rahasia yang terkunci
Terkubur yang terdalam di sebuah guci
Hatipun kini mulai terikat benang suci
Tanpa ada suatu sakral dan benci
Kembali tergali oleh jiwa
Yang mengandung sejuta makna
Walau tersiram gelombang air laut
Tertimbun dengan gunung selamet
Tak kan lelah terus mencari
Tak kan henti walau meniti
Bilapun sang mentari berganti
Senada ikut bernyanyi
Dalam gundah hati yang sunyi
Meraug dan merengkuh kembali
Batu – batu, pasir – pasir
Yang menyisir untaian benang kucir
Walau kadang kesat penuh sesat
Kadang kaget penuh terperanjat
Menatap pidadari yang melesat
Tanpa arah dan tuju yang tepat
Ku cari engkau hingga magma tercurat
Membakar seluruh sendi – sendi surat
Dan aku hanya bisa berkutat
Dalam suatu surat yang ketat
Terkubur yang terdalam di sebuah guci
Hatipun kini mulai terikat benang suci
Tanpa ada suatu sakral dan benci
Kembali tergali oleh jiwa
Yang mengandung sejuta makna
Walau tersiram gelombang air laut
Tertimbun dengan gunung selamet
Tak kan lelah terus mencari
Tak kan henti walau meniti
Bilapun sang mentari berganti
Senada ikut bernyanyi
Dalam gundah hati yang sunyi
Meraug dan merengkuh kembali
Batu – batu, pasir – pasir
Yang menyisir untaian benang kucir
Walau kadang kesat penuh sesat
Kadang kaget penuh terperanjat
Menatap pidadari yang melesat
Tanpa arah dan tuju yang tepat
Ku cari engkau hingga magma tercurat
Membakar seluruh sendi – sendi surat
Dan aku hanya bisa berkutat
Dalam suatu surat yang ketat
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Biarkanlah hati yang berbicara
Dan semua akan jadi bermakna
Dalam rangkaian yang sesungguhnya
Tanpa ada sedikit duka dan luka
Berlari sambil menggapai
Terdiam sambil berfikir
Merenung bukan bermimpi
Hingga waktupun terkuar
Jadikan karangan hayal
Pasti dan akan tercapai
Meski hidup memang terjal
Walau kadang jalan penuh duri
Jalan – jalan menuju cinta
Yang mesti tertempuh
Dalam ikatan tali takdir-Nya
Yang mesti kita rengkuh
Kau tak pantas terus berlari
Kau tak pantas terus bermimpi
Untuk menyunting sang dewi
Yang begitu suci dan murni
Kasihmulah yang bisa menjawab
Sayangmulah yang bisa menguak
Semua di benak yang berkitab
Yang terkunci oleh jarak
Dan semua akan jadi bermakna
Dalam rangkaian yang sesungguhnya
Tanpa ada sedikit duka dan luka
Berlari sambil menggapai
Terdiam sambil berfikir
Merenung bukan bermimpi
Hingga waktupun terkuar
Jadikan karangan hayal
Pasti dan akan tercapai
Meski hidup memang terjal
Walau kadang jalan penuh duri
Jalan – jalan menuju cinta
Yang mesti tertempuh
Dalam ikatan tali takdir-Nya
Yang mesti kita rengkuh
Kau tak pantas terus berlari
Kau tak pantas terus bermimpi
Untuk menyunting sang dewi
Yang begitu suci dan murni
Kasihmulah yang bisa menjawab
Sayangmulah yang bisa menguak
Semua di benak yang berkitab
Yang terkunci oleh jarak
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Kita sudah lewati semua
Waktu, berbagi dan terbuka
Walau kadang pahit dan manis
Kita tegar dan lepas
Saat kau menangis, tertawa
Seiring merajut semua
Yang pasti dan tak pasti
Yang hidup dan mati
Bagai pohon sakura
Kita tumbuh bersama
Dengan waktu yang sekian lama
Antara terasa dan tidak terasa
Saling membuang rasa
Saling menumbuhkan rasa
Terbentuk suatu rasa
Yang terasa dalam sukma
Bagaikan para dewa dan dewi
Yang selalu berikan damai
Cahaya yang di atas cahayaku
Yang slalu menghangatkan jiwaku
Kini ingin ku rubah semua
Rasa dengan rasa hati
Lebih dari suatu yang biasa
Tak akan pernah lari dan mati
Waktu, berbagi dan terbuka
Walau kadang pahit dan manis
Kita tegar dan lepas
Saat kau menangis, tertawa
Seiring merajut semua
Yang pasti dan tak pasti
Yang hidup dan mati
Bagai pohon sakura
Kita tumbuh bersama
Dengan waktu yang sekian lama
Antara terasa dan tidak terasa
Saling membuang rasa
Saling menumbuhkan rasa
Terbentuk suatu rasa
Yang terasa dalam sukma
Bagaikan para dewa dan dewi
Yang selalu berikan damai
Cahaya yang di atas cahayaku
Yang slalu menghangatkan jiwaku
Kini ingin ku rubah semua
Rasa dengan rasa hati
Lebih dari suatu yang biasa
Tak akan pernah lari dan mati
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Kala ku bersandar dari sebuah mata
Dan saat ku peluk erat sinar hati
Hingga bergetar seluruh raga
Bertemu dan saling mencuri arti
Menopang dan saling berpangku
Kembali bertemu dalam ruang dan waktu
Terdapat dalam sebuah tungku
Yang dulu pecah kini menyatu
Dengan panas bara dalam dada
Terikat jalinan tali suci
Air yang tertempa sang bayau
Bergolak dan mendidih menggebu
Bayang muka sang pangeran
Tertata rapi dan jelas dalam kalbu
Sang putri gelisah penasaran
Tertawa dan tersenyum malu
Sang pujangga yang coba berbait
Dalam sebuah kisah dan cerita
Antara bahagia, sedih, manis dan pahit
Mengartikan dan menorehkan tulisan dalam tinta
Diantara gelombang – gelombang awan
Rasa yang begitu terasa berbeda
Dalam suatu lubuk kalbu perasaan
Bertanya apakah semua itu sebuah cinta
Dan saat ku peluk erat sinar hati
Hingga bergetar seluruh raga
Bertemu dan saling mencuri arti
Menopang dan saling berpangku
Kembali bertemu dalam ruang dan waktu
Terdapat dalam sebuah tungku
Yang dulu pecah kini menyatu
Dengan panas bara dalam dada
Terikat jalinan tali suci
Air yang tertempa sang bayau
Bergolak dan mendidih menggebu
Bayang muka sang pangeran
Tertata rapi dan jelas dalam kalbu
Sang putri gelisah penasaran
Tertawa dan tersenyum malu
Sang pujangga yang coba berbait
Dalam sebuah kisah dan cerita
Antara bahagia, sedih, manis dan pahit
Mengartikan dan menorehkan tulisan dalam tinta
Diantara gelombang – gelombang awan
Rasa yang begitu terasa berbeda
Dalam suatu lubuk kalbu perasaan
Bertanya apakah semua itu sebuah cinta
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Manis yang terasa manis
Pahit yang sering kita lukis
Hingga asa terlepas terkikis
Dan tak akan pernah lagi menangis
Lagi terhubung rasa berdua
Untuk kita saling bersama
Sejoli yang merengguk bahagia
Satu untuk selamanya
Berbagi dan berbagi
Tertawa dan tertawa
Berdua dan berdua
Terbuai dan terbuai
Serpihan – serpihan waktu
Yang telah mengikis nurani
Janji dan sumpah setiaku
Tumbuh dalam pusara hati
Masa demi masa
Terus berlari dan mengiringi
Langkah – langkah cahaya
Untukmu dan dan takkan bertepi
Bagai langit, bintang dan bulan
Bunga, kumbang yang saling mengisi
Sayap – sayap yang sepasang
Tercipta bagai kita berdua
Pahit yang sering kita lukis
Hingga asa terlepas terkikis
Dan tak akan pernah lagi menangis
Lagi terhubung rasa berdua
Untuk kita saling bersama
Sejoli yang merengguk bahagia
Satu untuk selamanya
Berbagi dan berbagi
Tertawa dan tertawa
Berdua dan berdua
Terbuai dan terbuai
Serpihan – serpihan waktu
Yang telah mengikis nurani
Janji dan sumpah setiaku
Tumbuh dalam pusara hati
Masa demi masa
Terus berlari dan mengiringi
Langkah – langkah cahaya
Untukmu dan dan takkan bertepi
Bagai langit, bintang dan bulan
Bunga, kumbang yang saling mengisi
Sayap – sayap yang sepasang
Tercipta bagai kita berdua
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Kau siratan sinar matahari
Yang begitu memukau hati
Warna – warna yang indah
Terbujur dalam satu anugrah
Lembut, itulah yang terpancar
Pasti dan tak pasti terarah
Wujudmu tergeser
Kapan kau terpecah
Merah, kuning,hijau,
Jingga, ungu dan biru
Itulah bagian dari dirimu
Bidadari yang malu – malu
Untuk turun dan terjun bersamamu
Bernyanyi, menari, tertawa dan bercanda
Di telaga sunyi untuk mandi
Karna kau selalu tersenyum
Membalut sang dewi - dewi
Yang merajut alam
Untuk dinikmati
Untuk dihiasi
Untuk dipuji – puji
Karna kau pelangi
Yang begitu memukau hati
Warna – warna yang indah
Terbujur dalam satu anugrah
Lembut, itulah yang terpancar
Pasti dan tak pasti terarah
Wujudmu tergeser
Kapan kau terpecah
Merah, kuning,hijau,
Jingga, ungu dan biru
Itulah bagian dari dirimu
Bidadari yang malu – malu
Untuk turun dan terjun bersamamu
Bernyanyi, menari, tertawa dan bercanda
Di telaga sunyi untuk mandi
Karna kau selalu tersenyum
Membalut sang dewi - dewi
Yang merajut alam
Untuk dinikmati
Untuk dihiasi
Untuk dipuji – puji
Karna kau pelangi
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Angin yang bertiup kebibir pantai
Di iringi deruan ombak yang menari
Nyiurpun turut iringi dengan melambai
Burung – burung yang seakan menyanyi
Menambah riangnya suara alam
Memecah kerasnya kelam
Teriakan demi teriakan
Tangisan demi tangisan
Terdengar lirih dalam kabut jiwa
Tersayu menderu dalam galau hati
Hanya pasir yang mampu mendengarnya
Dan hanya awan yang memayungi
Teriknya kian membakar kalbu
Wajah – wajah yang sayu
Layu termakan malu
Pasirpun berkata “kau dengar itu”
Kau dengar suara yang pilu
Sang awan hanya terpaku
Pilu yang menyayat – nyayat
Ratapan hati yang biru tergugat
Seoasang mata yang menatap
Tanpa ada kekuatan yang teguh
Untuk ia beranjak melangkah
Karna hatinya yang tak tau arah
Di iringi deruan ombak yang menari
Nyiurpun turut iringi dengan melambai
Burung – burung yang seakan menyanyi
Menambah riangnya suara alam
Memecah kerasnya kelam
Teriakan demi teriakan
Tangisan demi tangisan
Terdengar lirih dalam kabut jiwa
Tersayu menderu dalam galau hati
Hanya pasir yang mampu mendengarnya
Dan hanya awan yang memayungi
Teriknya kian membakar kalbu
Wajah – wajah yang sayu
Layu termakan malu
Pasirpun berkata “kau dengar itu”
Kau dengar suara yang pilu
Sang awan hanya terpaku
Pilu yang menyayat – nyayat
Ratapan hati yang biru tergugat
Seoasang mata yang menatap
Tanpa ada kekuatan yang teguh
Untuk ia beranjak melangkah
Karna hatinya yang tak tau arah
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Janji setiamu
Masih terngiang di telingaku
Kata manismu
Takkan pernah tinggalkanku
Kini semua samar
Kini semua memar
Dalam jiwaku, hatiku
Dalam ragaku, dadaku
Saat kau nampak jauh
Dan tak bisa ku sentuh
Tanpa kau sadari
Dan hanya ku rasa sendiri
Cinta yang tumbuh untukmu
Dalam sayap hatiku
Ku kepakkan selebar langit
Kau kini buatku sakit
Memang kini ku bukan yang terbaik
Kalau memang itu pantas kau lepaskan aku
Dan jika esok ku yang terbaik
Ku harap cintaku yang apa adanya
Ku takkan lagi untuk berharap
Kini cintamu untukku kurasa lenyap
Bagai malam yang senyap
Serasa hidupku kalap
Masih terngiang di telingaku
Kata manismu
Takkan pernah tinggalkanku
Kini semua samar
Kini semua memar
Dalam jiwaku, hatiku
Dalam ragaku, dadaku
Saat kau nampak jauh
Dan tak bisa ku sentuh
Tanpa kau sadari
Dan hanya ku rasa sendiri
Cinta yang tumbuh untukmu
Dalam sayap hatiku
Ku kepakkan selebar langit
Kau kini buatku sakit
Memang kini ku bukan yang terbaik
Kalau memang itu pantas kau lepaskan aku
Dan jika esok ku yang terbaik
Ku harap cintaku yang apa adanya
Ku takkan lagi untuk berharap
Kini cintamu untukku kurasa lenyap
Bagai malam yang senyap
Serasa hidupku kalap
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Kau yang aku cintai
Kau yang aku sayangi
Melebihi semuanya
Memberi semua yang ku punya
Tanpa ragu
Tanpa malu
Hingga tercurahkan
Dan muncul harapan
Tapi kau ragu, malu dan hilang
Membawa semua kemenangan
Kau tertawa akan kehancuran
Tanpa ada halang rintang
Memang bunga tetangga lebih bagus
Harum, indah dan manis
Bola matamu yang melalang buana
Terasa terpana oleh pesonanya
Membuatmu terbuai, terlena
Akan melupakan semua
Semua tentang kita berdua
Yang terwujud sekian lama
Mudah memang membalik telapak tangan
Begitu pula kau membalik cintamu
Yang dulu untuk diriku
Kini terbalik untuk bunga rotan
@ And-ree Celezska
Kau yang aku sayangi
Melebihi semuanya
Memberi semua yang ku punya
Tanpa ragu
Tanpa malu
Hingga tercurahkan
Dan muncul harapan
Tapi kau ragu, malu dan hilang
Membawa semua kemenangan
Kau tertawa akan kehancuran
Tanpa ada halang rintang
Memang bunga tetangga lebih bagus
Harum, indah dan manis
Bola matamu yang melalang buana
Terasa terpana oleh pesonanya
Membuatmu terbuai, terlena
Akan melupakan semua
Semua tentang kita berdua
Yang terwujud sekian lama
Mudah memang membalik telapak tangan
Begitu pula kau membalik cintamu
Yang dulu untuk diriku
Kini terbalik untuk bunga rotan
@ And-ree Celezska
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Dengan taruhan nyawa
Rela korbankan untuk kita
Perjuangan yang ia lakukan
Hembusan nyawa yang ia berikan
Dengan penuh harapan
Harapan untuk masa depan
Yang telah terlahir
Tanpa batas akhir
Menjaga, merawat, menyusui
Dengan air dari surga
Dan kitapun terbuai
Lembut belaian jari – jarinya
Tawa, sedih, tangis, ratapan
Marah, duka, nasehatnya
Mengandung penuh makna
Yang terbaik untuk masa depan
Kita tak bisa membalas
Kita tak bisa memelas
Untuk jasa – jasanya
Untuk kita semua
Ibu…kuberlutut dikakimu
Meminta surga darimu
Meminta sebuah ampunan
Untuk kahidupan dimasa depan
@ And-ree Celezska
Rela korbankan untuk kita
Perjuangan yang ia lakukan
Hembusan nyawa yang ia berikan
Dengan penuh harapan
Harapan untuk masa depan
Yang telah terlahir
Tanpa batas akhir
Menjaga, merawat, menyusui
Dengan air dari surga
Dan kitapun terbuai
Lembut belaian jari – jarinya
Tawa, sedih, tangis, ratapan
Marah, duka, nasehatnya
Mengandung penuh makna
Yang terbaik untuk masa depan
Kita tak bisa membalas
Kita tak bisa memelas
Untuk jasa – jasanya
Untuk kita semua
Ibu…kuberlutut dikakimu
Meminta surga darimu
Meminta sebuah ampunan
Untuk kahidupan dimasa depan
@ And-ree Celezska
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Walau kini ku remuk bagai pasir
Rapuh bagai daun yang kering
Walaupun selemba nafasku terkoyak ombak
Tersayat seluruh raga penuh garam
Lantunkan semua itu pada takdir
Kenapa ini terjadi yang tak menentu bagai angin
Dan kini ku rasa buta, bisu, tuli, lumpuh tak berdaya
Tapi ku coba tuk bertahan dengan cahaya yang tersisa
Kan ku coba berjalan tegak
Langkah pasti tatapan penuh sinar
Senyum yang mengembang
Karna rembulan telah memiliki kepastian
Untuk berlabuh kesenja itu
Dengan satu tuju
Dia yang termaukan
Perjalanan yang senja mau
@ And-ree Celezska
Rapuh bagai daun yang kering
Walaupun selemba nafasku terkoyak ombak
Tersayat seluruh raga penuh garam
Lantunkan semua itu pada takdir
Kenapa ini terjadi yang tak menentu bagai angin
Dan kini ku rasa buta, bisu, tuli, lumpuh tak berdaya
Tapi ku coba tuk bertahan dengan cahaya yang tersisa
Kan ku coba berjalan tegak
Langkah pasti tatapan penuh sinar
Senyum yang mengembang
Karna rembulan telah memiliki kepastian
Untuk berlabuh kesenja itu
Dengan satu tuju
Dia yang termaukan
Perjalanan yang senja mau
@ And-ree Celezska
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Kau yang tenangkan ku
Kau yang temaniku
Kau yang buatku tersenyum
Dalam suratan hidupku yang suram
Peringatanmu bagai tamparan
Nasehatmu bagai hiasan
Tutur katamu yang lembut
Membuatku hanyut
Kau rangkul aku saat menangis
Kembali saatku teriris
Kembali kau yakinkanku
Untuk tetap terus maju tanpa ragu
Saat saling berbagi tawa
Saat saling berbagi duka
Saat saling berbagi harta
Kita selalu seiring bersama
Menggapai mimpi
Meraih angan
Menyatukan khayal
Melebur satu visi misi
Tanpamu aku tiada arti
Tanpamu aku rasa mati
Kau yang pantas ku sebut…..
“Sahabatku”!!!
@ And-ree Celezska
Kau yang temaniku
Kau yang buatku tersenyum
Dalam suratan hidupku yang suram
Peringatanmu bagai tamparan
Nasehatmu bagai hiasan
Tutur katamu yang lembut
Membuatku hanyut
Kau rangkul aku saat menangis
Kembali saatku teriris
Kembali kau yakinkanku
Untuk tetap terus maju tanpa ragu
Saat saling berbagi tawa
Saat saling berbagi duka
Saat saling berbagi harta
Kita selalu seiring bersama
Menggapai mimpi
Meraih angan
Menyatukan khayal
Melebur satu visi misi
Tanpamu aku tiada arti
Tanpamu aku rasa mati
Kau yang pantas ku sebut…..
“Sahabatku”!!!
@ And-ree Celezska
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Kala ku kini ditempatkan pada lidi yang berdiri
Yang penuh magma panas dari perut bumi
Dan pedang sang samurai menghujam diri
Tanpa seutas tali untuk ku pegang seimbang
Akankah ku jatuh dan lenyap
Akankah ku bisa bertahan
Menatap putihnya awan
Dengan kunang abadi yang gemerlap
Sendiri dan terus sendiri
Hanya ditemani sang angin
Hujan, topan dan badai
Burung bangkai yang berputar diatasku
Menanti kapan sampah ini mati
Menunggu kapan debu ini terbang
Mencari sela untuk menerkam diri
Menatapku bagai anjing jalang
Ku hanya menanti….. menanti……
Lidi patah terbakar magma
Kepastian yang remang
Apakah hanya maya
@ And-ree Celezska
Yang penuh magma panas dari perut bumi
Dan pedang sang samurai menghujam diri
Tanpa seutas tali untuk ku pegang seimbang
Akankah ku jatuh dan lenyap
Akankah ku bisa bertahan
Menatap putihnya awan
Dengan kunang abadi yang gemerlap
Sendiri dan terus sendiri
Hanya ditemani sang angin
Hujan, topan dan badai
Burung bangkai yang berputar diatasku
Menanti kapan sampah ini mati
Menunggu kapan debu ini terbang
Mencari sela untuk menerkam diri
Menatapku bagai anjing jalang
Ku hanya menanti….. menanti……
Lidi patah terbakar magma
Kepastian yang remang
Apakah hanya maya
@ And-ree Celezska
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Kita berjalan bersama
Merangkai hari penuh warna
Kita bercanda bersama
Penuh gelak tawa
Kau siapkan kembang api
Kau siapkan ruang dan waktu
Kau tata hari ini
Penuh dengan seru
Hari yang panjang dan melelahkan
Tak terasakan sang waktu berlalu
Detik demi detik penuh dengan suka
Tak sedikitpun terlintas duka
Ditepi kolam yang gemericik
Disendi – sendi sawah yang mengalun
Dibawah rindangnya pohon bambu
Yang menambah suasana riang
Ikan – ikan pun ikut menari
Lembaran daun bambu menyanyi
Desiran angin yang sepoi – sepoi
Bahagiaku di pesta kecil ini
@ And-ree Celezska
Merangkai hari penuh warna
Kita bercanda bersama
Penuh gelak tawa
Kau siapkan kembang api
Kau siapkan ruang dan waktu
Kau tata hari ini
Penuh dengan seru
Hari yang panjang dan melelahkan
Tak terasakan sang waktu berlalu
Detik demi detik penuh dengan suka
Tak sedikitpun terlintas duka
Ditepi kolam yang gemericik
Disendi – sendi sawah yang mengalun
Dibawah rindangnya pohon bambu
Yang menambah suasana riang
Ikan – ikan pun ikut menari
Lembaran daun bambu menyanyi
Desiran angin yang sepoi – sepoi
Bahagiaku di pesta kecil ini
@ And-ree Celezska
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Kami keluar ruangan bukan untuk dapat uang
Kami keluar untuk memperjuangkan kebenaran
Karna kami dengar jeritan dan ratapan
Kami dengar tangisan yang mendayu – dayu
Kami turun kejalan bukan cari sensasi
Kami bicara bukan untuk ajang pamer
Dan kami tak ingin masuk koran, televisi atau radio
Kami di sana berjuang untuk rakyat
Hei dengarlah kalian yang diatas
Yang sedang duduk berlenggang – lenggang
Dengarlah kami, dengarlah ratapan kami
Yang sering kau tindas dan acuhkan
Kami rela lakukan semua demi rakyat
Kami iklas karna semua untuk mereka yang tertindas
Kami tak dibayar, kami tak diberi upah
Kata hati kamilah yang menuntun untuk lakukan itu semua
Hei para penguasa apa engkau semua tuli
Hei para penguasa apa engkau semua buta
Hei para penguasa apa engkau semua bisu
Hentikanlah dan robahlah penderitaan mereka
Katanya manusia punya hati nurani
Katanya manusia punya belas kasih
Tapi kenyataannya engkau tak punya itu
Kau lebih baik dikatakan sebagai binatan
@ And-ree Celezska
Kami keluar untuk memperjuangkan kebenaran
Karna kami dengar jeritan dan ratapan
Kami dengar tangisan yang mendayu – dayu
Kami turun kejalan bukan cari sensasi
Kami bicara bukan untuk ajang pamer
Dan kami tak ingin masuk koran, televisi atau radio
Kami di sana berjuang untuk rakyat
Hei dengarlah kalian yang diatas
Yang sedang duduk berlenggang – lenggang
Dengarlah kami, dengarlah ratapan kami
Yang sering kau tindas dan acuhkan
Kami rela lakukan semua demi rakyat
Kami iklas karna semua untuk mereka yang tertindas
Kami tak dibayar, kami tak diberi upah
Kata hati kamilah yang menuntun untuk lakukan itu semua
Hei para penguasa apa engkau semua tuli
Hei para penguasa apa engkau semua buta
Hei para penguasa apa engkau semua bisu
Hentikanlah dan robahlah penderitaan mereka
Katanya manusia punya hati nurani
Katanya manusia punya belas kasih
Tapi kenyataannya engkau tak punya itu
Kau lebih baik dikatakan sebagai binatan
@ And-ree Celezska
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Saat keadilan tak lagi diperjuangkan
Dan saat penguasa – penguasa mulai keasikan
Mereka bergoyang dan menyanyi diatas kursi goyang
Mereka tertawa diatas penderitaan pejuang
Pejuang yang berani mati untuk bela negara
Untuk menumpas kebatilan – kebatilan penguasa
Yang menindas dan mengoyak – ngoyak rakyat jelata
Tak mengindahkan lagi akan hak – hak asasi manusia
Tangis – tangis yang bercampurkan ratapan
Tubuh – tubuh yang bersimpuhkan luka
Darah yang mengalir bagaikan hujan
Mengalir dalam setiap sendi – sendi perjuangan mereka
Yang memperjuangkan nasib rakyat Indonesia
Tak satupun kuping yang mendengarnya
Tak satu bibir yang mampu menjawab semua
Pertanyaan, ratapan, tangisan dan penderitaan mereka
Mereka hanya bisa menunjukkan jari
Mereka hanya pandai memerintah
Dan mereka hanya pandai menguras uang rakyat
Mereka pun hanya pintar duduk manis dan bersantai
Tanpa pernah mereka melihat kebawah
Tanpa pernah mereka terjun kejurang penderitaan
Kamipun pejuang rakyat bersorak “turunlah kau dari kursi”
Dan kami bentangkan tulisan gugatan padamu hai!!! Penguasa
@ And-ree Celezska
Dan saat penguasa – penguasa mulai keasikan
Mereka bergoyang dan menyanyi diatas kursi goyang
Mereka tertawa diatas penderitaan pejuang
Pejuang yang berani mati untuk bela negara
Untuk menumpas kebatilan – kebatilan penguasa
Yang menindas dan mengoyak – ngoyak rakyat jelata
Tak mengindahkan lagi akan hak – hak asasi manusia
Tangis – tangis yang bercampurkan ratapan
Tubuh – tubuh yang bersimpuhkan luka
Darah yang mengalir bagaikan hujan
Mengalir dalam setiap sendi – sendi perjuangan mereka
Yang memperjuangkan nasib rakyat Indonesia
Tak satupun kuping yang mendengarnya
Tak satu bibir yang mampu menjawab semua
Pertanyaan, ratapan, tangisan dan penderitaan mereka
Mereka hanya bisa menunjukkan jari
Mereka hanya pandai memerintah
Dan mereka hanya pandai menguras uang rakyat
Mereka pun hanya pintar duduk manis dan bersantai
Tanpa pernah mereka melihat kebawah
Tanpa pernah mereka terjun kejurang penderitaan
Kamipun pejuang rakyat bersorak “turunlah kau dari kursi”
Dan kami bentangkan tulisan gugatan padamu hai!!! Penguasa
@ And-ree Celezska
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Di saat ku duduk sendiri
Menatap bumi yang tlah bosan
Untuk ku berpijak dan menapak
Dalam setiap lembaran takdirku
Ku rasakan dalam hatiku
Sepi dan hening tanpa suara
Walaupun sebenarnya banyak suara
Orang – orang yang berlalu lalang
Yang ku rasakan hanya belaian
Angin yang mengalun senada
Dengan apa yang ada di hati
Bisingpun mulai menghilang
Kini ku mulai sendiri
Tanpa ada yang menemani lagi
Seolah ku hidup sendiri
Dalam kehampaan dunia
Yang teramat suram dan kelam
Bumi merintihkan sakitnya
Yang terinjak – injak
Begitu pula hatiku ini
Haruskah ku menangiskan kesedihan
Haruskah ku merintihkan sakitku
Yang kian lama kian menjadi
Luka yang ada didalam hati
@ And-ree Celezska
Menatap bumi yang tlah bosan
Untuk ku berpijak dan menapak
Dalam setiap lembaran takdirku
Ku rasakan dalam hatiku
Sepi dan hening tanpa suara
Walaupun sebenarnya banyak suara
Orang – orang yang berlalu lalang
Yang ku rasakan hanya belaian
Angin yang mengalun senada
Dengan apa yang ada di hati
Bisingpun mulai menghilang
Kini ku mulai sendiri
Tanpa ada yang menemani lagi
Seolah ku hidup sendiri
Dalam kehampaan dunia
Yang teramat suram dan kelam
Bumi merintihkan sakitnya
Yang terinjak – injak
Begitu pula hatiku ini
Haruskah ku menangiskan kesedihan
Haruskah ku merintihkan sakitku
Yang kian lama kian menjadi
Luka yang ada didalam hati
@ And-ree Celezska
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Bintang yang bertabur di langit malam ini
Kau adalah mata kesaksian yang bersinar
Kesaksian yang bisu pada semua cinta
Cinta suci dari dua hati yang berbeda
Kau kan tetap abadi selamanya
Menyaksikan dan mendengarkan
Ketulusan cinta dari setiap insan
Walaupun kau jauh dari dunia
Ku sangat yakin kaulah satu – satunya
Ciptaan-Nya yang akan kekal terjaga
Walaupun ku tak bisa meraihmu
Walaupun ku tak bisa menggapaimu
Tuk berada disampingku
Tuk berada disampingnya
Menemani dan mendampingiku
Ku percaya kau selalu setia
Menyinari cintaku yang tulus
Andaikan kau bisa bicara
Dan andaikan kau diberi suara oleh-Nya
Ku ingin kau wakilkan suara hatiku
Tuk nyatakan rasa cintaku
Dan gelora asmara dihatiku
Padanya yang kini ku damba
Tuk dapat mendampingiku didunia
@ And-ree Celezska
Kau adalah mata kesaksian yang bersinar
Kesaksian yang bisu pada semua cinta
Cinta suci dari dua hati yang berbeda
Kau kan tetap abadi selamanya
Menyaksikan dan mendengarkan
Ketulusan cinta dari setiap insan
Walaupun kau jauh dari dunia
Ku sangat yakin kaulah satu – satunya
Ciptaan-Nya yang akan kekal terjaga
Walaupun ku tak bisa meraihmu
Walaupun ku tak bisa menggapaimu
Tuk berada disampingku
Tuk berada disampingnya
Menemani dan mendampingiku
Ku percaya kau selalu setia
Menyinari cintaku yang tulus
Andaikan kau bisa bicara
Dan andaikan kau diberi suara oleh-Nya
Ku ingin kau wakilkan suara hatiku
Tuk nyatakan rasa cintaku
Dan gelora asmara dihatiku
Padanya yang kini ku damba
Tuk dapat mendampingiku didunia
@ And-ree Celezska
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Langit disore hari
Kau ubah warnamu jadi putih
Burung pun ikuti suasanamu
Berkicau dan menari bersamamu
Tapi sayang putih itu
Kini tertutup noda hitam
Noda dari awan yang kelam
Burung pun mulai takut dan pergi
Tiba – tiba ada seorang anak
Yang bermain cambuk api
Suaranya getarkan jagat raya
Cambukan itu mengenai langit
Akankah sang langit menangis
Akhirnya langitpun tak kuasa menahannya
Dia kini menangis keras sekali
Air matanya basahi alam semesta
Ku mohon redakan tangisnya
Ku mohon jangan sakiti dia
Karena ku ingin langit ceria
Do’a ku pun terkabulkan oleh-Nya
Kini dia bisa tersenyum lagi
Dengan segaris pelangi
Yang tampak pada wajahnya
Ku bahagia sekali, kuharap tetaplah seperti ini
Langitku yang biru
Langitku yang Putih
Langitku yang cerah
Langitku yang sayu….
@ And-ree Celezska
Kau ubah warnamu jadi putih
Burung pun ikuti suasanamu
Berkicau dan menari bersamamu
Tapi sayang putih itu
Kini tertutup noda hitam
Noda dari awan yang kelam
Burung pun mulai takut dan pergi
Tiba – tiba ada seorang anak
Yang bermain cambuk api
Suaranya getarkan jagat raya
Cambukan itu mengenai langit
Akankah sang langit menangis
Akhirnya langitpun tak kuasa menahannya
Dia kini menangis keras sekali
Air matanya basahi alam semesta
Ku mohon redakan tangisnya
Ku mohon jangan sakiti dia
Karena ku ingin langit ceria
Do’a ku pun terkabulkan oleh-Nya
Kini dia bisa tersenyum lagi
Dengan segaris pelangi
Yang tampak pada wajahnya
Ku bahagia sekali, kuharap tetaplah seperti ini
Langitku yang biru
Langitku yang Putih
Langitku yang cerah
Langitku yang sayu….
@ And-ree Celezska
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Di bawah redupnya bara lilin
Kupandang sebuah foto
Yang tergambar wajahmu
Dengan ditambah senyuman
Begitu pula pada hatiku
Kau terlukis disana
Dengan mata yang sayu
Dan segaris senyuman menawan
Kau yang ku cintai
Dengan penuh rasa tulus
Kau kini tlah singgah dihatiku
Terukir pula namamu
Ku ukir dengan darahku
Dan tak akan pernah hilang
Walaupun kau tak tau
Semua perasaan yang ada
Tapi ku yakin suatu masa
Pasti terbukalah hatimu
Untuk menerima semua rasaku
Dihatiku satu untukmu
@ And-ree Celezska
Kupandang sebuah foto
Yang tergambar wajahmu
Dengan ditambah senyuman
Begitu pula pada hatiku
Kau terlukis disana
Dengan mata yang sayu
Dan segaris senyuman menawan
Kau yang ku cintai
Dengan penuh rasa tulus
Kau kini tlah singgah dihatiku
Terukir pula namamu
Ku ukir dengan darahku
Dan tak akan pernah hilang
Walaupun kau tak tau
Semua perasaan yang ada
Tapi ku yakin suatu masa
Pasti terbukalah hatimu
Untuk menerima semua rasaku
Dihatiku satu untukmu
@ And-ree Celezska
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Kala kududuk diam terpaku
Mataku hanya tertuju pada satu sudut
Angin berhembus meniup dedaunan
Seakan mereka melambaiku
Agar ku datang dalam alam kehancuran
Anginpun serasa mendorongku
Haruskah ku ikuti jejak sang angin
Dan haruskah ku tinggalkan hidupku
Karna kaulah yang hancurkan jiwaku
Karna kaulah yang musnahkan cintaku
Kaulah yang jerumuskan aku
Cinta yang kau berikan adalah semu
Lebih baik kau pergi
Pergi…..janganlah kau kembali
Hempaskanlah harapan hatiku
Harapan yang tak pernah pasti darimu
Aku kini serasa ditelan magma
Magma yang panas membara
Lebur semua yang ada pada diriku
Tak ada lagi yang tersisa dariku
Burung – burung berkicau
Seakan – akan mengejekku
Menertawakanku, mencaciku
Diatas semua penderitaanku
Kuinginkan harapan yang pasti
Walaupun harapan itu lama bagiku
Aku yang harus berubah sikap
Atau kau yang harus merubah sikap
@ And-ree Celezska
Mataku hanya tertuju pada satu sudut
Angin berhembus meniup dedaunan
Seakan mereka melambaiku
Agar ku datang dalam alam kehancuran
Anginpun serasa mendorongku
Haruskah ku ikuti jejak sang angin
Dan haruskah ku tinggalkan hidupku
Karna kaulah yang hancurkan jiwaku
Karna kaulah yang musnahkan cintaku
Kaulah yang jerumuskan aku
Cinta yang kau berikan adalah semu
Lebih baik kau pergi
Pergi…..janganlah kau kembali
Hempaskanlah harapan hatiku
Harapan yang tak pernah pasti darimu
Aku kini serasa ditelan magma
Magma yang panas membara
Lebur semua yang ada pada diriku
Tak ada lagi yang tersisa dariku
Burung – burung berkicau
Seakan – akan mengejekku
Menertawakanku, mencaciku
Diatas semua penderitaanku
Kuinginkan harapan yang pasti
Walaupun harapan itu lama bagiku
Aku yang harus berubah sikap
Atau kau yang harus merubah sikap
@ And-ree Celezska
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Kau beri harapan padaku
Harapan yang teramat besar
Hingga ku salah……….
Salah mengambil langkah
Karna kurasa kau beri kasih
Kau beri rasa sayang dan cinta
Apakah aku salah…..
Memahami sikapmu kepadaku
Saat kau berikan semua itu
Tak tepat pada waktunya
Saat itu ku rasa kesepian
Rasa hampa dalam hati
Karna ku tlah dihianati
Dihianati oleh yang kusayangi
Kau beri semua rasa itu
Kau beri hati padaku
Apakah kini ku benar salah
Bila ku mengasihimu
Menyayangimu dan mencintaimu
Tapi kini ku sangat resah
Karna kau sebenarnya tak begitu
Tapi kurasa kau tlah acuhkanku
Kini setelah rasa itu ada
Kau berubah sikap padaku
Kini kau berubah
Berbalik 1800 kau tak hiraukan ku lagi
Tak pedulikan kehadiranku
Kemanakah ku berkeluh kesah
@ And-ree Celezska
Harapan yang teramat besar
Hingga ku salah……….
Salah mengambil langkah
Karna kurasa kau beri kasih
Kau beri rasa sayang dan cinta
Apakah aku salah…..
Memahami sikapmu kepadaku
Saat kau berikan semua itu
Tak tepat pada waktunya
Saat itu ku rasa kesepian
Rasa hampa dalam hati
Karna ku tlah dihianati
Dihianati oleh yang kusayangi
Kau beri semua rasa itu
Kau beri hati padaku
Apakah kini ku benar salah
Bila ku mengasihimu
Menyayangimu dan mencintaimu
Tapi kini ku sangat resah
Karna kau sebenarnya tak begitu
Tapi kurasa kau tlah acuhkanku
Kini setelah rasa itu ada
Kau berubah sikap padaku
Kini kau berubah
Berbalik 1800 kau tak hiraukan ku lagi
Tak pedulikan kehadiranku
Kemanakah ku berkeluh kesah
@ And-ree Celezska