Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)

Terseok - seok daun berjatuhan
Tersapu angin sore berdesis mengusap kepalsuan...
Pohon itu menggoyangkan semak yang berserakan
Meliuk melambai menarik kekosongan
Daun itu jatuh terhempas
Menggebrak lantai bumi yang panas
Lalu terinjak ramainya makian bernada keras
Tertumpuk dalam satu tak bernafas
Berganti waktu...
Tersiram hujan, terbakar kemarau
Dikencingi para serangga berbau
Hingga lapuk tak berbentuk satu
Hidupnya sampai disitu
Tapi bermetamorfosis dengan penuh laju
Mengendap dalam tanah bisu
Terkulai menjadi satu kehidupan yang baru
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)

Mengapa...???
Baru sekarang kau bersuara
Kenapa...???
Tidak sedari awal saja
Semenjak semuanya belum terjadi
Sebelum saling mengiyakan isi hati
Semua kini mati
Bagai bunga mekar lalu tersiram api
Kini yang tersisakan hanya luka
Dan tertinggal benci membara
Semua terlihat hanya permainanm belaka
Untuk mengoyak segala isi dada
Tersungkur kini aku meratapi
Penuh sesal mengenal dirimu kini
Segala kejujuran dan ketulusanku kau caci
Dan terdengar untukmu hanya kiasan dalam hati
Kemunafikan
Ketidak jujuran
Kepalsuan
Semua itu kini engkau tunjukkan
Dan selalu...
Selalu aku yang tersakiti olehmu
Kini cukup sudah semua itu
Ternyata jalanmu bukanlah jalanku
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)

Lelah seluruh raga
Lemas seluruh jiwa
Lunglai semangat diri
Letih terus begini
Berjalan kesana-kesini
Bercakap disana-disini
Berlari kian kemari
Berjuang tanpa henti
Hanya temukan sendiri
Hanya rasakan sepi
Hanya terhanyut angan-angan kosong
Hanya terbuang sendiri melompong
Ingin kembali...
Ingin berbalik lagi
Ingin mengulang waktu
Ingin sepert waktu dulu
Kapan...?
Dimana...?
Siapa...?
Yang kan menggendongku kembali
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)

Bernaung dalam satu hati
Mencoba temukan indah itu lagi
Merengkuh kata satu hati
Tambatkan dalam pesona cinta itu lagi
Memiliki tapi tak memiliki
Termiliki tapi tak termiliki
Tapi mencoba tuk gundah itu pergi
Mengayuh bayang semu yang terpatri
Diri coba merubah tapi tak terubah
Dan telah diubah tapi tak berubah
Telah merangkak mengoyak tubuh
Tersungkur dalam sebuah lembah
Aku tak tau lagi....???
Tak tau untuk apa lagi
Bagaimana lagi
Sudah intropeksi diri
Tetap seperti ini
Masih seperti ini
Seperti tak terisi
Kosong lagi
Kini aku hanya pasrah
Semoga ada harapan walau secercah
Biar hati ini tak terpecah
Dan terus dalam satu hati tuk ku kayuh
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Malam minggu malam yang di tunggu
Untuk merajut kasih berdua
Di tunggu sampai lima hari lamanya
Dan cinta berpadu saat bertemu
Huuuhhh.. tapi tak diduga tak disangka
Tetesan - tetesan menyelimuti angkasa
Berkawan awan yang legam
Membuat hati terasa muram
Malam minggu yang kelabu...
Hujan menyrami sedari siang
Hingga buatku terasa membeku...
Terasa sangat meradang
Ingin melepas kerinduan
Dengan sang pujaan
Biar suasana terhangatkan
Tapi apa yang terjadi aku tetap rasakan dingin
Capek badan seharian beraktifitas
Ingin melepas lelah dengan canda
Tapi apa yang kurasakan tak beralas
Kini hanya kan menutup mata saja
Malam minggu ini tak terasa indah
Seindah saat menanti malam ini
Perasaan jadi hampa meraum
Cepatlah terlewati malam ini
Untuk merajut kasih berdua
Di tunggu sampai lima hari lamanya
Dan cinta berpadu saat bertemu
Huuuhhh.. tapi tak diduga tak disangka
Tetesan - tetesan menyelimuti angkasa
Berkawan awan yang legam
Membuat hati terasa muram
Malam minggu yang kelabu...
Hujan menyrami sedari siang
Hingga buatku terasa membeku...
Terasa sangat meradang
Ingin melepas kerinduan
Dengan sang pujaan
Biar suasana terhangatkan
Tapi apa yang terjadi aku tetap rasakan dingin
Capek badan seharian beraktifitas
Ingin melepas lelah dengan canda
Tapi apa yang kurasakan tak beralas
Kini hanya kan menutup mata saja
Malam minggu ini tak terasa indah
Seindah saat menanti malam ini
Perasaan jadi hampa meraum
Cepatlah terlewati malam ini
