HILANG MALAMKU


Berbaring pada malam sepi
Terlentang tak berselimut
Terpejam mencari mimpi
Dalam nafas yang bersahut

Waktu kian larut
Tapi hanya diam tak berarti
Benak pikiran masih terlambat
Membuat diri menggeliat sendiri

Entah apa yang mengganjal
Mata kembali terbuka
Walau diri ingin bersandar bantal
Tapi tak jua diri terjaga

Kini ruang terpenuhi kabut tebal
Dari diri yang bangkit menganga
Membuang asap tebal
Dari tiap hisapan rokok yang mengganjal

Mengepul memenuhi tata ruang
Membias sinar tak berangin
Hanya diam berjemur kering
Dibawah sorotan lampu jalan

Kemana nikmatnya mimpiku?
Kemana belaian malamku?
Yang saat ini tak bisa ku raih kini
Dalam malamku yang tak terjaga dari dini

JUSTRU KARENA ITU...?


Semua ku tangisi
Semua ku ratapi
Semua ku sesali
Dan semua tak bisa kuhindari

Kenyataan yang selalu berjalan
Kenyataan yang selalu bersebelahan
Kenyataan yang selalu bergandengan
Yang kadang tak seindah diangan

Setiap perbuatan berimbas penyesalan
Setiap penyesalan berimbas kekecewaan
Setiap kekecewaan berimbas kemurungan
Dan setiap kemurungan berimbas dalam kehidupan

Kenapa harus tertoreh luka?
Kenapa harus tertoreh duka?
Kenapa harus tertoreh asa?
Yang kian lama kian meraja dada

Selalu ku rasa dan bertanya - tanya
Selalu ku coba dan terus berusaha
Selalu ku bandingkan dengan yang ada
Selalu dan selalu terus menguak nyata

Tapi tak bisa ku temukan jawaban yang ada
Saat memikul luka tubuh dan hati yang dalam diraga
Di sembuhkan pun takkan hilang bagai maya
Tapi justru karena luka itu aku kini ada

SAJADAH


Terlentang merata
Halus dan beraroma wangi
Berhias lekukan ukiran
Walau hanya gambaran

Berumbai - rumbai tertata
Dalam garis diatas bawahnya
Berwarna - warni
Dan berdampingan serasi

Menemani aku dalam bersujud pada-Nya
Menghaturkan puja dan puji untuk-Nya
Mengantarkan do`a - do`a kepada-Nya
Dalam setiap lima waktuku untuk-Nya

Sekilas tak terasa
Karena kau hanya sebuah kain
Kain bersulamkan benang
Yang membujur ku hujani

Tapi kau suci bagiku
TApi kau berarti bagiku
Tapi kau teman surgaku
Yang selalu ada untukku

Sajadah yang tak berjiwa
Tetap kan hidup dalam dada
Menguak tekunnya do`a
Yang tertata dalam barisan kata

BISIK - BISIK HATI


Ku kenang dikau
Dalam baju biru
Tersenyum manis dipurnama
Saat jumpa pertama

Ku kenang dikau
Dalam kaca matamu
Dan segaris gigi
Yang ramah berseri

Ku kenang akan hatimu cinta
Yang menyanyikan asmara
Dalam purnama raya
Membuai jauh kedalam bunga

Dunia penuh tawa
Berdendang dengan canda
Menghamburkan segala rasa
Yang tertanam didada

Bayang itu tak terlupa
Berisi gambaran dirimu semata
Merasuk penuh cinta
Dan terus menggila

Penuh dengan dikau
Dan hanya dikau
Mengarat dalam kalbu
Seakan hatiku tercumbu

STYROFOAM


Menonjol berbentuk kotak
Tak keras juga tak lembek
Menempel pada tegaknya tembok
Yang berhias paku dan cicak

Tak bisa bergerak
Tak bisa berlagak
Hanya diam terbelalak
Tertempel kertas berkacak

Kertas - kertas yang terisi tulisan
Mengiang dalam setiap lantunan
Yang berbentuk pesan - pesan
Yang melukiskan kiasan - kiasan

Mengingatkan otak yang tlah tumpul
Agar diri tetap ingat dan terpental
Jauh memulai hari tanpa tersendal - sendal
Yang berjalan beralas sendal

Yah..., kau sisipan otakku
Kau singgahan kata - kataku
Yang sementara tak kekal olehku
Styrofoam kamarku

Yang biasa ku lubangi
Dengan paku - paku yang menancap tak lestari
Yang kadang menari tertiup angin sepoi
Tapi tetap putih dan menempel terkendali