Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Gelora cinta yang terpendam sekian lama
Tak tertoreh dalam belaian asmara
Terpendam di dasar hati sanubari
Membuat rasa di dada ingin menemui
Wahai engkau pujaan terkasih
Rindu ini berkecamuk terasa perih
Bila tak dapat bertemu denganmu
Yang begitu jauh dari sisiku
Ingin ku belai wajahmu
Agar ku dapat melukis dirimu
Tuk mengobati rindu hati ini
Merasakan hangat kecupan bibir mungilmu
Menghilangkan dinginnya jiwa
Yang kian lama kian membeku
Kini ku sedang berlari ke arahmu
Ingin segera memeluk tubuhmu
Dan melepaskan rindu yang tersimpan
Karna ku rasa damai dalam dekapanmu
Hanya dirimulah yang mampu...
Mampu tuk redamkan geloraku
Kau yang tercinta
Satu dalam jiwa raga
Kau yang ku sayang pidadariku
Selamanya dihati hanya engkau yang kurindu
Tak tertoreh dalam belaian asmara
Terpendam di dasar hati sanubari
Membuat rasa di dada ingin menemui
Wahai engkau pujaan terkasih
Rindu ini berkecamuk terasa perih
Bila tak dapat bertemu denganmu
Yang begitu jauh dari sisiku
Ingin ku belai wajahmu
Agar ku dapat melukis dirimu
Tuk mengobati rindu hati ini
Merasakan hangat kecupan bibir mungilmu
Menghilangkan dinginnya jiwa
Yang kian lama kian membeku
Kini ku sedang berlari ke arahmu
Ingin segera memeluk tubuhmu
Dan melepaskan rindu yang tersimpan
Karna ku rasa damai dalam dekapanmu
Hanya dirimulah yang mampu...
Mampu tuk redamkan geloraku
Kau yang tercinta
Satu dalam jiwa raga
Kau yang ku sayang pidadariku
Selamanya dihati hanya engkau yang kurindu
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Lari kalang kabut
Menyebar kesegala penjuru sudut
Hati yang merasakan takut
Kaget terperanjat
Menghujat kata dalam hati
Dag... dig... dug... tak henti
Tak tenang akan sesuatu yang menanti
Dag... dig... dug... pasti terjadi
Tapi itu sesuatu yang belum kita tau
Kapan...? dimana...?, mau tak mau
Menghadapi sesuatu nan meresahkan kalbu
Yang mungkin berbentuk tabu
Menjumpai hal yang ditakuti kita
Apapun itu sesuatu rahasia
Tapi kita pasti kan menjumpainya
Ketakutan akan sesuatu menutup mata
Mengumpat pasti kita mengumpat kata dalam rasa
Berbahasa memohon "jangan pernah terjadi itu semua"
Dan apa bila itu terjadi bagaikan jenggot penuh semut
Kita pasti akan coba tuk menutup menyumbat
Dengan kata bertakjub kebohongan
Takkan mengakui dan terakui
Yang takkan pernah hilang merasakan
Takut yang ada dalam hati
Menyebar kesegala penjuru sudut
Hati yang merasakan takut
Kaget terperanjat
Menghujat kata dalam hati
Dag... dig... dug... tak henti
Tak tenang akan sesuatu yang menanti
Dag... dig... dug... pasti terjadi
Tapi itu sesuatu yang belum kita tau
Kapan...? dimana...?, mau tak mau
Menghadapi sesuatu nan meresahkan kalbu
Yang mungkin berbentuk tabu
Menjumpai hal yang ditakuti kita
Apapun itu sesuatu rahasia
Tapi kita pasti kan menjumpainya
Ketakutan akan sesuatu menutup mata
Mengumpat pasti kita mengumpat kata dalam rasa
Berbahasa memohon "jangan pernah terjadi itu semua"
Dan apa bila itu terjadi bagaikan jenggot penuh semut
Kita pasti akan coba tuk menutup menyumbat
Dengan kata bertakjub kebohongan
Takkan mengakui dan terakui
Yang takkan pernah hilang merasakan
Takut yang ada dalam hati
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Pertama memang biasa
Mendesah penuh acuh
Memalingkan muka tanpa kata
Hanya menatap angkuh
Kian lama kian larut
Raga bergerak ingin mendekap
Sesuatu yang dulu tak terlihat
Memang mudah bibir berucap
Semudah membalik telapak tangan
Angan memuncak
Bagaikan dongeng kerajaan
Tapi diri tak beranjak tuk bergerak
Memang aku penasaran...
Namun bingung tuk memulai
Laksana patung bebatuan
Ah... aku bagaimana...? karna ego yang tinggi
Pikiran terbayang menghantui
Kapan bisa melepas angan...
Kapan juga bisa menyudahi...
Rasa bertakjub enggan
Memilikinya bersanding
Harapan tanpa proses terjadi
Buang semua gengsi yang bertandang
Melangkah perlahan tapi pasti
Mendesah penuh acuh
Memalingkan muka tanpa kata
Hanya menatap angkuh
Kian lama kian larut
Raga bergerak ingin mendekap
Sesuatu yang dulu tak terlihat
Memang mudah bibir berucap
Semudah membalik telapak tangan
Angan memuncak
Bagaikan dongeng kerajaan
Tapi diri tak beranjak tuk bergerak
Memang aku penasaran...
Namun bingung tuk memulai
Laksana patung bebatuan
Ah... aku bagaimana...? karna ego yang tinggi
Pikiran terbayang menghantui
Kapan bisa melepas angan...
Kapan juga bisa menyudahi...
Rasa bertakjub enggan
Memilikinya bersanding
Harapan tanpa proses terjadi
Buang semua gengsi yang bertandang
Melangkah perlahan tapi pasti
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Melangkah seribu jejak kaki
Dari waktu ke waktu tanpa henti
Yang kadang singgah berhenti
Meratapi dan merenungi
Harapan berangan - angan keawan
Menanti suatu kenangan
Jiwa yang penuh pengalaman
Dan takkan lekang oleh zaman
Rasa tau dan ingin tau
Yang kian menyatu
Tetapkan hati tuk terus berseru
Kuatkan diri agar menyerbu
Rangkaian suatu ilmu
Tertutup tebalnya kelambu
Kadang pula batu
Yang menerpa menyiksa kalbu
Mengamati apa yang bisa diamati
Mengerti apa yang bisa dimengerti
Membaca apa yang bisa terbaca hati
Mencari tau apa yang harus dicari
Cari sendiri semua yang berguna
Walau penuh tanya
Suatu yang kan menyapa
Masa depan diri kita, dan hanya kita!
Dari waktu ke waktu tanpa henti
Yang kadang singgah berhenti
Meratapi dan merenungi
Harapan berangan - angan keawan
Menanti suatu kenangan
Jiwa yang penuh pengalaman
Dan takkan lekang oleh zaman
Rasa tau dan ingin tau
Yang kian menyatu
Tetapkan hati tuk terus berseru
Kuatkan diri agar menyerbu
Rangkaian suatu ilmu
Tertutup tebalnya kelambu
Kadang pula batu
Yang menerpa menyiksa kalbu
Mengamati apa yang bisa diamati
Mengerti apa yang bisa dimengerti
Membaca apa yang bisa terbaca hati
Mencari tau apa yang harus dicari
Cari sendiri semua yang berguna
Walau penuh tanya
Suatu yang kan menyapa
Masa depan diri kita, dan hanya kita!
Diposting oleh
PUSTAKA JIWA
komentar (0)
Menusuk semua terasa menusuk
Kekuatan ego bergejolak
Hati meletus tuk berteriak
Tak henti - henti menguak
Kondisi diri siap beranjak
Dalam kacau yang membelalak
Omongan kian bersorak
Tak henti dalam mengajak
Terlontar semua kata busuk
Memaki penuh congkak
Mengumpat seribu bahasa berlagak
Entah apa yang mengusik
Malam kian berlalu, berteman suara jangkrik
Emosi kian melambung penuh dahak
Tak terasa suara menjadi serak
Hingga menginjak waktu berdetak
Sudah banyak tenaga yang bergerak
Otot dan urat sudah sulit untuk merangkak
Amarah yang telah meledak
Merusak ketenangan jiwa menyimpan congkak
Hening sejenak...
Renungi sesal yang coba merasuk
Apa yang telah terjadi mendadak
Terpikir untuk kembali rujuk
Kekuatan ego bergejolak
Hati meletus tuk berteriak
Tak henti - henti menguak
Kondisi diri siap beranjak
Dalam kacau yang membelalak
Omongan kian bersorak
Tak henti dalam mengajak
Terlontar semua kata busuk
Memaki penuh congkak
Mengumpat seribu bahasa berlagak
Entah apa yang mengusik
Malam kian berlalu, berteman suara jangkrik
Emosi kian melambung penuh dahak
Tak terasa suara menjadi serak
Hingga menginjak waktu berdetak
Sudah banyak tenaga yang bergerak
Otot dan urat sudah sulit untuk merangkak
Amarah yang telah meledak
Merusak ketenangan jiwa menyimpan congkak
Hening sejenak...
Renungi sesal yang coba merasuk
Apa yang telah terjadi mendadak
Terpikir untuk kembali rujuk
